Sudan Membara, Percaturan Barat Melanggengkan Kesengsaraan umat

Sudan Membara, Percaturan Barat Melanggengkan Kesengsaraan umat

Catatan.co – Sudan Membara, Percaturan Barat Melanggengkan Kesengsaraan Umat. Seorang ibu bersama dua anaknya ditemukan tewas tergantung di atas pohon. Krisis kemanusiaan di Sudan kembali membara. Ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka, menyelamatkan diri dari pertempuran dan kekerasan yang kian brutal hingga menyasar pada kehormatan wanita dan anak-anak. Kekerasan di Sudan kian brutal, dan masyarakat sipil menjadi korban utama, dilansir republika dalam laporannya. (https://republika.id/posts/59338/pembantaian-di-sudan-kian-brutal?utm_campaign=rolsosmed&utm_source=whatsapp)

Sudan adalah negara terbesar ketiga di Afrika dengan mayoritas penduduk muslim. Negeri ini memiliki Sungai Nil yang mengalir lebih panjang dari Mesir, memiliki piramida terbanyak di dunia, serta kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, terutama emas dan minyak. Namun, di tengah limpahan sumber daya tersebut, Sudan terus terjebak dalam lingkaran konflik dan kemiskinan.

Kudeta dan Percaturan

Global adalah akar krisis Sudan yang tak lepas dari sejarah panjang campur tangan asing dan pertarungan kekuasaan di internal militer. Setelah penggulingan Omar Al-Bashir pada tahun 2019 melalui kudeta militer, harapan rakyat akan demokrasi dan stabilitas justru berubah menjadi perebutan kekuasaan antara dua tokoh militer: Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan (pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan) dan Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti (komandan pasukan paramiliter Rapid Support Forces/RSF).

Baca Juga: Angka Kemiskinan Turun

Kedua kubu itu bukan sekadar bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, tetapi juga dukungan dari kekuatan asing. Amerika Serikat dan Inggris disebut-sebut memainkan peran besar di balik layar dengan dalih “transisi demokrasi”, sementara Uni Emirat Arab (UEA) dan entitas Zionis terlibat secara tidak langsung melalui dukungan logistik dan ekonomi kepada pihak-pihak tertentu.

UEA, misalnya, disebut sebagai salah satu “pemain catur” utama di kawasan. Negara ini memiliki kepentingan strategis terhadap jalur perdagangan Laut Merah dan tambang emas Sudan yang kaya. Dukungan finansial yang mengalir ke kelompok militer tertentu bukan semata karena solidaritas regional, tetapi lebih pada upaya memperkuat pengaruh geopolitik dan menjaga akses terhadap sumber daya alam Sudan. Padahal mereka dahulunya satu tubuh yang saling menjaga, tapi saat ini mereka bergerak hanya berdasarkan kepentingan tanpa memandang ikatan persaudaraan yang dahulu pernah terjalin sebelum negeri muslim tercerai berai.

Sudan seharusnya bisa menjadi negara maju dan mandiri dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun kenyataannya, ia justru menjadi medan pertempuran kepentingan asing. Lembaga-lembaga internasional dan aturan global yang dibangun oleh negara-negara adidaya hanya berfungsi untuk melanggengkan hegemoni mereka. Dunia Islam pun menjadi ladang eksploitasi ekonomi dan politik yang tak berkesudahan.

Krisis Sudan hanyalah satu dari sekian banyak potret keterpecahan negeri-negeri muslim akibat absennya satu kepemimpinan tunggal. Ketika kekuasaan Islam runtuh, negeri-negeri muslim terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dipecah, diatur, dan dikendalikan oleh kekuatan asing. Kini, negeri-negeri Islam ibarat anak ayam kehilangan induk, tidak memiliki perlindungan, tidak punya arah, dan mudah dimanfaatkan. Umat Islam kehilangan satu institusi pemersatu yang dulu menyatukan mereka di bawah satu panji dan satu kepemimpinan yaitu daulah Islamiah.

Setelah daulah Islam runtuh, sistem sekuler buatan manusia yang berorientasi pada kepentingan kapitalis telah dijadikan landasan kehidupan. Inilah akar penjajahan dan penindasan yang terus terjadi. Sudan, Palestina, Suriah, hingga Yaman adalah bukti nyata bagaimana sistem global hari ini hanya melahirkan penderitaan bagi umat.

Padahal Allah Swt. telah memperingatkan,

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”

(QS. An-Nisa: 141)

Namun kenyataannya, umat Islam kini berada di bawah dominasi sistem buatan manusia yang menjadikan Barat sebagai penguasa atas negeri-negeri muslim. Ketiadaan daulah Islam membuat Allah Sang Pencipta tidak rida atas dunia ini. Karena itu umat kehilangan perisai yang melindungi agama, kehormatan, dan kekayaan mereka.

Urgensi Daulah Islam

Daulah Islam bukan sekadar sistem politik, tetapi sistem hidup yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan dan hukum yang bersumber dari wahyu Allah. Dengan adanya daulah,kekayaan alam seperti emas Sudan tidak akan dieksploitasi untuk kepentingan asing, melainkan dikelola untuk kemakmuran rakyat dan kejayaan umat.

Sudan adalah cermin dari rapuhnya kondisi dunia Islam hari ini. Di tengah hancurnya moral politik internasional, hanya Islam yang mampu menawarkan keadilan sejati. Kesadaran ini harus mendorong umat Islam untuk bangkit dari kelalaian, menaikkan level berpikirnya, dan memandang seluruh problem dunia dengan kacamata ideologis.

Perjuangan menegakkan kembali daulah Islam bukan sekadar pilihan politik, tetapi tuntutan iman dan kebutuhan mendesak bagi umat agar rahmat Islam kembali menaungi dunia. Tanpa kepemimpinan Islam yang satu, umat akan terus terombang-ambing dalam konflik dan penjajahan yang tak berujung.

Sudan, dengan darah dan air mata yang tumpah di tanahnya, mengingatkan kita bahwa selama umat Islam tidak bersatu di bawah daulah Islam, penderitaan hanya akan berulang dalam bentuk yang berbeda.

Wallahu’alam bishawab. []

Penulis: Riska Amaliah

Aktivis Muslimah