Catatan.co – PSEL, Mampukah Menyolusi Penumpukan Sampah? Persoalan sampah di kota besar sering kali terasa seperti lingkaran setan yang tak kunjung usai. Tumpukan sisa konsumsi manusia yang menggunung bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga mengancam kesehatan. Namun, belakangan ini ada upaya serius yang muncul dari Balai Kota Bogor.
Pemerintah Kota Bogor menggelar sosialisasi di Paseban Sri Bima terkait rencana pembangunan fasilitas Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Melalui keterbukaan ini, pemerintah daerah berupaya memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat bahwa sampah yang selama ini dianggap beban, sebenarnya memiliki potensi untuk diubah menjadi energi bermanfaat. (https://kotabogor.go.id/berita-detail/pemkot-bogor-gelar-sosialisasi-psel-tekankan-pengelolaan-sampah-ramah-lingkungan).
Integrasi Teknologi dan Harapan Baru
Berdasarkan rencana yang ada, wilayah Bogor Raya akan memiliki dua fasilitas PSEL yang terintegrasi. Fasilitas pertama berskala regional akan dibangun di Galuga untuk melayani kebutuhan Bogor Raya, sementara fasilitas kedua berada di Kayumanis untuk melayani wilayah sekitarnya. (https://rri.co.id/bogor/regional/2407438/psel-bogor-raya-disiapkan-atasi-1000-ton-sampah)
Proyek besar ini dijadwalkan mulai berjalan pada Juni 2026 dengan target kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari. (https://bogor.viva.co.id/kabar-bogor/4721-juni-2026-proyek-pltsa-bogor-raya-dimulai-1500-ton-sampah-per-hari-diubah-jadi-listrik).
Sampah-sampah tersebut nantinya akan diolah menggunakan teknologi pengolah sampah menjadi energi listrik melalui proses termal yang mampu mereduksi volume sampah secara signifikan. Secara teknis, PSEL memang menawarkan solusi jangka panjang untuk mengurangi polusi di kota-kota besar. Jika dikelola dengan benar, limbah yang tadinya menjadi sumber penyakit kini berubah menjadi sumber cahaya. Namun, sebuah teknologi hanyalah alat. Alat yang canggih sekalipun tidak akan memberikan hasil maksimal jika tidak didukung oleh sistem sosial yang kuat di belakangnya. Keberhasilan ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menyinkronkan antara kecanggihan mesin di pabrik dengan kebiasaan membuang sampah di rumah tangga.
Kunci Kesuksesan: Pemilahan dari Hulu
Masyarakat perlu menyadari bahwa kecanggihan mesin bukanlah penentu tunggal kesuksesan agenda ini. Kunci keberhasilannya justru terletak pada titik paling awal, yaitu pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Tanpa adanya pemilahan yang disiplin antara sampah organik dan anorganik, teknologi ini berisiko mengalami kendala teknis atau bahkan menghasilkan emisi yang tidak ramah lingkungan.
Baca Juga: Darurat Pelecehan
Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Mampukah pemerintah hadir memberikan pengurusan yang konsisten dan tidak sekadar menjadikan ini sebagai “proyek” sesaat yang berorientasi pada pengadaan barang saja?
Pengelolaan sampah membutuhkan napas panjang dan kedekatan struktural. Peran aparat wilayah, mulai dari tingkat lurah hingga RT/RW, menjadi sangat krusial untuk mengawal edukasi warga secara terus-menerus. Bukan hanya sekali sosialisasi, tapi sebuah pendampingan rutin agar kebiasaan memilah ini menjadi budaya baru di tengah warga Bogor.
Bukan Sekadar Profit, Tapi Pelayanan Publik
Tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di era modern adalah kecenderungan melihat segala sesuatu dari sudut pandang profit materi. Jika PSEL hanya dipandang sebagai ladang bisnis listrik atau proyek mengejar serapan anggaran, maka dikhawatirkan aspek pelayanan yang optimal kepada warga akan terabaikan. Masyarakat membutuhkan komitmen pengurusan yang berkelanjutan. Di mana pemerintah benar-benar memastikan setiap jengkal sampah terkelola dengan baik demi kesehatan publik, bukan sekadar mengejar angka produksi energi untuk dijual demi mengembalikan modal investasi.
Dalam kacamata Islam, mengurus sampah adalah bagian dari ri’ayah atau pengurusan urusan umat. Hal ini berkaitan erat dengan maslahah ammah (kemaslahatan umum). Sampah yang dibiarkan menumpuk adalah sumber dharar (bahaya) yang dapat merusak kesehatan dan alam. Maka, pembangunan PSEL di Galuga maupun Kayumanis wajib menjamin keamanan lingkungan bagi warga di atas kepentingan ekonomi. Pemerintah harus hadir sebagai pelindung yang memastikan tidak ada rakyat yang terzalimi oleh dampak polusi pengolahan sampah tersebut.
Kepemimpinan: Menjalankan Perintah Allah Swt.
Lebih jauh lagi, kepemimpinan yang amanah dalam Islam adalah kepemimpinan yang tegak di atas ketaatan pada aturan Allah Swt. Seorang pemimpin memimpin bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan, melainkan dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Amanah kepemimpinan ini sangat berat pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Pemerintah yang berasas syariat Islam akan berkomitmen mengurus rakyatnya tanpa mengharapkan kompensasi bisnis atau profit dari masyarakat. Karena mereka sadar bahwa kekuasaan adalah titipan. Kekuasaan itu digunakan sepenuhnya untuk mengurusi kepentingan rakyat, sebagaimana sabda Nabi saw.,
“Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menuju Keberkahan Kota
Negara berkewajiban mendanai infrastruktur pengolahan sampah dari kas negara sebagai pelayanan publik (khidmah). Sehingga masyarakat mendapatkan hak mereka atas lingkungan yang bersih tanpa dibebani biaya tambahan yang memberatkan. Pengurusan ini dilakukan secara konsisten karena didasari oleh ketundukan penuh kepada syariat-Nya, bukan sekadar mengejar target pembangunan fisik yang bersifat sementara. Konsistensi ini lahir dari niat yang lurus, bukan sekadar formalitas jabatan.
Langkah sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor menjadi awal yang baik untuk membangun transparansi. Namun, niat baik ini harus dibuktikan dengan pengurusan yang konsisten dan berpihak pada rakyat kecil. Sebuah kota akan benar-benar meraih keberkahan ketika pengelolaan sampahnya tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mencerminkan ketulusan pemimpinnya dalam menjaga amanah dan melayani setiap jiwa dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. Jika ketaatan kepada Sang Pencipta menjadi landasan, maka urusan sampah yang pelik ini insyaallah akan menjadi jalan datangnya rahmat bagi seluruh warga Bogor.
Wallahua’lam bishawab.[]
Penulis: Atifa Rahmi
(Aktivis Muslimah)




