Menelaah Efektivitas Pelatihan Kader untuk Cegah Stunting

Menelaah Efektivitas Pelatihan Kader untuk Cegah Stunting

Catatan.co – Menelaah Efektivitas Pelatihan Kader untuk Cegah Stunting. Isu stunting kembali jadi perhatian besar, terutama setelah Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menggencarkan program pelatihan kader kesehatan, pendamping keluarga berisiko stunting, hingga pemberian makanan tinggi protein. Program ini disebut sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan siap menyongsong Ibu Kota Politik Indonesia tahun 2028.

Sekilas, langkah ini terlihat menjanjikan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, apakah pelatihan kader ini benar-benar mampu menyelesaikan persoalan stunting sampai tuntas?

Tidak dapat dimungkiri, banyak orang tua yang memang kurang memahami pola makan yang baik untuk tumbuh kembang anak. Program pelatihan kader memiliki manfaat pada aspek ini. Para ibu akan diberikan arahan tentang pentingnya protein, cara memberikan MPASI yang benar, hingga bagaimana mengatur pola hidup sehat.

Namun, di lapangan realitasnya sering kali jauh lebih berat. Banyak keluarga sebenarnya sudah tahu apa yang harus diberikan kepada anak, tetapi tidak mampu memenuhinya. Harga pangan bergizi terus naik, pendapatan tidak sebanding, pekerjaan tidak stabil, dan biaya hidup di perkotaan apalagi kawasan IKN makin tinggi. Dalam situasi seperti ini, pelatihan pengetahuan saja tidak cukup. Yang paling dibutuhkan adalah kemampuan ekonomi untuk membeli makanan bergizi itu sendiri.

Di titik inilah kita melihat persoalan utamanya bukan hanya kurangnya edukasi, tetapi lemahnya daya beli keluarga. Ibarat diberi daftar makanan sehat, tapi tidak mampu membelinya.

Sumber berita: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://berandapost.com/2025/11/07/otorita-ikn-gencarkan-pencegahan-stunting-lewat-pelatihan-kader/&ved=2ahUKEwiZsPXJ5O2QAxWlumMGHdWAF20QFnoECCgQAQ&usg=AOvVaw3pSGncqR2B8onfcvoGLrfC

Kemiskinan Sistemis

Fenomena stunting di Indonesia masih menjadi persoalan besar yang seolah tidak pernah benar-benar selesai. Meskipun berbagai program resmi telah disiapkan mulai dari pelatihan kader kesehatan, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga penyediaan makanan tinggi protein, nyatanya persoalan ini tetap berulang dari tahun ke tahun.

Di banyak wilayah, terutama daerah yang secara ekonomi masih tertinggal, para ibu masih harus berjuang sendirian menghadapi keterbatasan gizi, minimnya pendidikan pengasuhan, serta tingginya biaya hidup. Realitas ini membuat upaya pencegahan stunting seolah tidak pernah menyentuh akar persoalan.

Padahal, stunting bukan hanya tentang tubuh yang lebih pendek dari standar usia. Lebih dari itu, ia adalah gambaran masa depan generasi yang sedang terancam, mulai dari kecerdasan yang tidak berkembang optimal, kesehatan yang rentan, sampai produktivitas yang menurun. Singkatnya, stunting adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem yang mengatur kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Krisis Perceraian 

Kalau kita melihat lebih jeli, masalah ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan tata kelola negara, ekonomi, hingga cara sistem hari ini memperlakukan rakyatnya. Dalam sistem kapitalisme, kekayaan alam yang seharusnya bisa menjadi sumber kesejahteraan bersama justru banyak dikuasai korporasi besar. Negara hanya bertindak sebagai regulator, sementara keuntungan besar dari kekayaan alam justru dinikmati para pemodal.

Rakyat hanya kebagian bagian kecil yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, masyarakat hidup dengan pendapatan yang pas-pasan. Sekadar membeli telur setiap hari pun terasa berat bagi sebagian keluarga, apalagi memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan balita.

Di sisi lain, mahalnya biaya hidup membuat banyak keluarga terjebak dalam situasi serba kekurangan. Harga kebutuhan pokok naik, biaya kesehatan mahal, sementara lapangan pekerjaan yang stabil sulit ditemukan. Dalam kondisi seperti itu, wajar kalau keluarga kesulitan menyediakan makanan bergizi secara konsisten. Kekurangan nutrisi selama kehamilan hingga balita akhirnya memunculkan risiko stunting yang makin tinggi.

Demokrasi kapitalisme meniscayakan kesenjangan ekonomi. Sumber daya alam yang melimpah justru hanya dinikmati korporasi besar dan segelintir orang, sementara rakyat tetap berjuang dari hari ke hari. Negara dalam sistem ini lebih sering bertindak sebagai regulator daripada pengurus rakyat. Padahal, fungsi negara dalam pandangan Islam sangat jelas, yakni mengurus kebutuhan rakyat hingga tuntas.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Sistem pendidikan kita pun tidak benar-benar mempersiapkan masyarakat untuk menjadi orang tua yang paham tanggung jawab pengasuhan. Sekolah lebih banyak berfokus pada akademik, bukan membentuk kesiapan mental, spiritual, dan ilmu dasar pengasuhan. Banyak pasangan akhirnya mengasuh hanya sebatas “mengalir saja” tanpa bekal yang memadai tentang kesehatan dasar anak.

Di sinilah, kaitannya dengan kesehatan mental juga terlihat jelas. Keluarga yang hidup dalam tekanan ekonomi, lingkungan yang tidak stabil, dan minim support system akan lebih mudah mengalami stres. Ibu hamil yang stres kronis, misalnya, terbukti memengaruhi perkembangan janin. Rumah yang penuh tekanan juga membuat anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat secara emosional.

Maka, program pelatihan kader atau pemberian makanan tambahan hanya seperti menutup luka dalam dengan plester tipis, tampak peduli tapi tidak menyentuh dasar persoalan. Jika akar masalahnya tetap sama, maka stunting pun akan terus terjadi, berputar dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Islam Mewariskan Generasi Sehat

Di tengah kondisi seperti ini, Islam sebenarnya menawarkan model yang sangat berbeda. Dalam pandangan Islam, negara bukan hanya sekadar regulator, tetapi penanggung jawab langsung kesejahteraan rakyat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah raa’in (penggembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Ini berarti negara wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat tanpa membebani mereka dari sisi kesehatan, gizi, pendidikan, hingga keamanan sosial.

Dalam sistem Islam, kekayaan alam tidak boleh jatuh ke tangan korporasi. Karena ia adalah milik umum, dan negara wajib mengelola serta mengembalikan hasilnya kepada rakyat. Dengan cara ini, biaya hidup bisa ditekan, layanan kesehatan menjadi gratis dan berkualitas, dan kebutuhan gizi untuk ibu-anak dapat terpenuhi tanpa menunggu bantuan darurat.

Selain itu, pendidikan Islam membentuk masyarakat yang sadar peran. Orang tua dipersiapkan bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk mengasuh. Lingkungan sosial pun dibangun dengan nilai tolong-menolong, bukan individualisme seperti sekarang. Masyarakat menjadi support system yang hidup dan generasi dibesarkan dalam suasana penuh nilai dan keteladanan.

Islam selalu memandang manusia sebagai amanah. Karena itu, sistemnya dirancang untuk memastikan lahirnya generasi yang kuat fisik, sehat mental, dan kokoh akidahnya. Hadis Rasulullah saw. bersabda, “Manusia berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Ketiga hal tersebut bisa dipahami sebagai sumber daya alam strategis.

Jika sumber daya itu dikelola sesuai syariat, maka kekayaan negara otomatis berkorelasi dengan kesejahteraan rakyatnya. Dari sini, masalah stunting bukan hanya dapat dikurangi, tapi dicegah sejak akarnya.

Itu sebabnya Allah mengingatkan, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Penghidupan sempit ini bukan hanya soal rezeki, tetapi juga tekanan hidup, ketidakjelasan, dan kondisi sosial yang tidak ramah bagi tumbuh kembang generasi.

Fenomena stunting bukan sekadar persoalan gizi yang butuh program jangka pendek. Ia adalah potret bagaimana sistem yang memimpin kita bekerja. Selama kebijakan ekonomi, pengelolaan SDA, dan pendidikan tetap berlandaskan kapitalisme yang profit-oriented, maka persoalan stunting akan terus muncul dalam berbagai bentuk.

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh, bukan hanya mengobati gejala, tapi membenahi struktur yang menghasilkan ketidakadilan itu sendiri. Jika kita benar-benar ingin mewariskan generasi yang sehat fisik dan rohani, maka sudah saatnya menengok kembali sistem yang pernah membawa umat ini pada masa keemasan, yaitu sebuah sistem yang memuliakan manusia dan menjadikan pemimpin sebagai penanggung jawab, bukan pengawas dari kejauhan. Dari sinilah harapan itu bisa tumbuh lagi.

Wallahu a’lam bishawab. []

Penulis: Rizky Saptarindha A.md

Aktivis Dakwah