Demiliterisasi Gaza, Bukan Solusi Kemerdekaan Palestina

Demiliterisasi Gaza, Bukan Solusi Kemerdekaan Palestina

Catatan.co – Demiliterisasi Gaza, Bukan Solusi Kemerdekaan Palestina. Bila ada yang harus dihentikan, tentunya bukan perjuangan melainkan penjajahan. Jika melihat perjuangan saudara Muslim di Palestina, kita pasti mengelus dada. Raffah sudah rata dengan tanah.

Kini perjuangan rakyat Gaza hendak dihentikan dengan dalih demiliterisasi demi perdamaian. Pencanangan demiliterisasi telah dibuat oleh BoP pada awal April tahun ini. Demiliterisasi merupakan berhentinya proses militerisasi, pembebasan dari ikatan militer atau pembebasan suatu wilayah dari pendudukan militer. (KBBI)

Board of Peace yang diinisiasi oleh presiden AS Donald Trump mendorong demiliterisasi Jalur Gaza sebagai rencana perdamaian. BoP mendesak Hamas untuk segera melucuti senjatanya sebagai syarat perdamaian Gaza yang masuk pada tahap kedua. Namun, meski rencana perdamaian yang disusun oleh Trump ini memasuki tahap kedua, bentrokan antara tentara IDF dengan para pejuang Palestina masih terus terjadi hingga kini.

(https://m.antaranews.com/berita/5514905/bop-desak-hamas-rampungkan-rencana-demiliterisasi-gaza-pekan-ini?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=latest_category)

Perjanjian perdamaian yang dibuat tak sejalan dengan kenyataan yang terjadi sesungguhnya. Tentu saja, Hamas menolak untuk melucuti senjatanya, agar eksistensi serta perjuangan mereka tak terhenti begitu saja. Apalagi, melihat serangan IDF yang masih saja diluncurkan pada warga sipil Gaza hingga saat ini.

Belum lama ini, serangan tentara Zionis Israel kembali menewaskan warga sipil Gaza di kamp pengungsi Bureij, Gaza Tengah. Dilaporkan enam warga sipil tewas, serta di Gaza Utara seorang warga sipil tewas dalam serangan di Beit Lahia. Hamas mendesak negara-negara mediator agar menindak tegas tentara Zionis Israel yang sama sekali tidak menepati perjanjian gencatan senjata. Apalagi, menjalankan misi perdamaian tahap satu.

(https://www.metrotvnews.com/read/NxGCPn94-hamas-desak-dunia-bertindak-atas-pelanggaran-gencatan-senjata-israel-di-gaza)

BoP untuk Siapa?

Sekilas saja kita dapat melihat bahwa rencana perdamaian yang dibuat oleh Trump sama sekali bukan untuk kepentingan masyarakat Palestina. Perdamaian itu dibuat hanya untuk kepentingan elite global. Terutama, Zionis yang sengaja ingin menduduki Palestina dan sekitarnya.

Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan “pelaku perdamaian” tak pernah ditindaklanjuti, meskipun banyak menghilangkan nyawa manusia. Faktanya, hal terjadi karena asas manfaat yang diusung sistem kapitalisme AS. Pun dibentuknya Dewan Perdamaian ini, hanya untuk meraup keuntungan materi yang mereka harapkan dari menguasai negeri-negeri Muslim.

Berhentinya para pejuang Hamas di Jalur Gaza dengan pelucutan senjata, serta penyerahan denah terowongan bawah tanah yang selama ini dibangun oleh para pejuang, merupakan keinginan Barat agar rakyat Palestina berhenti melawan dan berjihad mempertahankan tanahnya. Mereka tengah memulai penjajahan pemikiran di tengah situasi yang terus menyudutkan rakyat Palestina. Pelucutan senjata yang diusung untuk perdamaian pun, merupakan bukti bahwa mereka ingin mengacaukan pemikiran banyak orang.

Baca Juga: Renovasi Elite

Jika pejuang Palestina menyerah, perdamaian akan lebih mudah. Sebaliknya, jika pejuang Palestina masih terus melawan, akan menjadi ancaman bagi rakyat dan para pejuang Palestina sendiri. Inilah agenda yang mereka rencanakan untuk meruntuhkan keimanan dan kekuatan umat Islam yang yakin akan jihad dan janji Allah.

Negosiasi Bukan Jalan Keluar

Kemerdekaan saudara kita di Gaza, tak bisa didapatkan dengan bernegosiasi. Rakyat Gaza dan para pejuang di sana, membutuhkan kekuatan militer yang setimpal bahkan lebih, agar kemenangan bisa didapatkan. Persatuan umat Muslimlah yang bisa mewujudkan itu semua. Hanya dalam naungan Daulah Islam, umat muslim sedunia dapat bersatu.

Daulah Islam dapat mengirimkan pasukan militer untuk membebaskan rakyat Palestina, bukan dengan bernegosiasi. Daulah Islam mampu menggerakkan negeri-negeri Muslim untuk mengerahkan kekuatan militernya demi membebaskan bumi Palestina dari penjajah Zionis Israel.

Dalam Islam, negara berperan melindungi umat Muslim. Seorang khalifah merupakan junnah (perisai) yang akan melindungi setiap nyawa umat Muslim. Pemimpin (Khalifah) bertanggung jawab menjaga agama, kehormatan, dan rakyatnya sesuai syariat. Dalam hal ini khalifah bertindak sebagai (raa’in) pengurus sekaligus pelindung.

Saat ini, yang perlu diingat adalah perlunya memperjuangkan pemikiran bahwa setiap Muslim bersaudara dan harus bersatu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Umat Muslim pun digambarkan seperti satu tubuh. Jika bagian tubuh yang satu sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan sakit.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, surah Al-Hujurat: 10

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…

Karena itulah, sudah sepatutnya umat Islam terus mempelajari ideologi Islam, menguatkan akidahnya serta meyakini bahwa apa yang terjadi di Baitulmaqdis (Palestina) adalah tanggung jawab setiap Muslim.

Wallahu’alam bishawab.[]

Penulis: Ayu Lusfita A

(Aktivis Muslimah)