Catatan.co – OPINI. Iduladha dan Riayah Negara. Hari Raya Iduladha bukan hanya sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan. Ia adalah simbol ketakwaan, kepedulian sosial, dan pengorbanan demi meraih rida Allah Swt. Di momentum ini jutaan umat Islam berbondong-bondong menunaikan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan. Daging kurban dibagikan, ukhuwah menguat dan kebahagiaan dirasakan hingga pelosok negeri.
Namun, dibalik suasana sakral tersebut, persoalan klasik terus berulang. Lemahnya pengawasan kesehatan dan keamanan hewan kurban. Kasus hewan sakit, distribusi hewan tanpa pemeriksaan yang layak, minimnya tenaga kesehatan hewan, pelayanan negara hingga buruknya pelayanan negara dalam memastikan keamanan pangan masyarakat menjadi catatan khusus. Jangan sampai ibadah yang mulia justru dibayangi kelalaian sistem.
Iduladha semestinya menjadi momentum hadirnya negara sebagai pelayan umat, bukan hanya sekadar penonton yang sibuk dengan seremonial tahunan.
Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Timur menemukan sebanyak 172 ekor hewan kurban dalam keadaan sakit, yang diduga akibat kelelahan saat proses pemeriksaan kesehatan di berbagai lokasi penampungan dan penjualan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan 127 ekor sapi, dan 45 kambing dalam keadaan sakit,” kata Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakarta Timur Theresia Elita saat dikonfirmasi. Temuan tersebut diperoleh saat dilakukan pemeriksaan kesehatan menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Sebanyak 19.377 hewan kurban telah diperiksa di 202 titik lokasi sejak 27 April hingga 26 Mei 2026.
https://m.antaranews.com/amp/berita/5582855/ratusan-hewan-korban-di-jaktim-terdeteksi-sakit-akibat-kelelahan.
Berita yang hampir sama. Menjelang Hari Raya Iduladha, petugas kesehatan hewan dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka menemukan hewan yang sakit, tidak cukup umur, hingga terindikasi terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) saat melakukan pemeriksaan di lapak penjualan hewan kurban, di Kabupaten Majalengka, Senin, 25 Mei 2026.
Pemeriksaan dilakukan terhadap puluhan hewan kurban milik pedagang yang berjualan di sepanjang ruas jalan Kadipaten Majalengka. Dari sekitar 100 ekor domba yang diperiksa, petugas menemukan beberapa hewan dalam kondisi tidak layak untuk dijadikan kurban. http://koran.pikiran-rakyat.com/news/amp/pr-30310230512/hewan-kurban-di-majalengka-terindikasi-pmk-petugas-temukan-domba-tidak-layak.
Lemahnya Pelayanan Negara
Iduladha merupakan bagian dari perayaan besar umat Islam, tidak dapat dipisahkan dengan periayahan (pelayanan) oleh negara (penguasa). Namun, saat Iduladha terkadang dianggap sebagai ibadah individu, sehingga hal yang berkaitan dengan keamanan, kesehatan, jual beli, limbah dan tempat hewan kurban lebih banyak diserahkan pelayanan negara ke individu saja.
Lemahnya negara dalam menjamin keamanan kurban dalam beberapa tahun terakhir ini, masyarakat kerap merasa kuatir terkait penyakit hewan kurban, hingga proses distribusi yang tidak higienis. Banyak pedagang musiman menjual hewan tanpa pemeriksaan kesehatan memadai. Sebagian tempat penyembelihan bahkan belum bisa memenuhi standar kebersihan dan syariat secara optimal.
Masalah ini menunjukan bahwa periayahan negara terhadap urusan publik masih bersifat reaktif bukan preventif. Ketika wabah muncul, barulah pengawasan diperketat. Padahal keamanan hewan kurban menyangkut kesehatan masyarakat luas dan merupakan kesempurnaan ibadah umat Islam.
Baca Juga: Polemik Film Pesta Babi
Dalam sistem kapitalisme hari ini pengawasan sering bergantung pada anggaran, proyek, dan kepentingan administrasi. Akibatnya, pelayanan tidak merata. Daerah perkotaan mungkin mendapatkan pemeriksaan ketat, sementara yang di daerah atau terpencil sering luput dari perhatian.
Riayah dalam Islam
Padahal dalam Islam negara/penguasa besar sekali tanggung jawabnya. Rasulullah bersabda “Imam (penguasa) adalah mengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya” (HR Muslim).
Negara tidak boleh sekadar menghimbau masyarakat agar berhati-hati memilih hewan kurban, tetapi wajib hadir dan memastikan seluruh rantai kurban berjalan aman. Mulai dari peternakan, distribusi, pemeriksaan kesehatan hingga penyembelihan daging, serta pembagiannya apakah sesuai dengan orang yang membutuhkan atau tidak.
Negara hadir mengurus umat dengan amanah. Islam memiliki konsep pelayanan publik yang sangat jelas, kuat dan ketat. Dalam sistem Islam negara wajib menjadi pelayan umat, bukan hanya sekadar regulator. Yang dilakukan negara dalam Islam untuk pelayanan kepada rakyat adalah:
Pertama, mengadakan pengawasan ketat dan menyeluruh terhadap hewan kurban, negara menyediakan tenaga medis dan pemeriksaan hewan hingga tingkat daerah. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan penyembelihan agar masyarakat merasa aman dan halal dengan daging yang dibagikan.
Kedua, negara menjamin ketersediaan hewan kurban berkualitas. Negara harus mendukung peternakan lokal dengan kebijakan yang memudahkan produksi hewan sehat dan berkualitas, bukan malah membiarkan peternak kecil kalah oleh permainan pasar dan impor yang tidak terkendali.
Ketiga, negara memberikan edukasi syariat dan kebersihan secara masif. Masyarakat perlu diberikan edukasi tentang syariat hewan kurban, tata cara penyembelihan sesuai syariat, serta kebersihan dan kesehatan pangan. Dakwah dan pelayanan seiring sejalan.
Keempat, menjadikan pelayanan sebagai amanah, bukan formalitas. Dalam Islam, jabatan, dan pengelola kurban harus bekerja keras dengan niat melayani umat karena Allah, bukan sekedar penggugur tugas administrasi.
Kelima, penerapan Islam secara kaffah (keseluruhan). Karena akar permasalahan adalah sistem kapitalisme, yang menjadikan pelayanan publik tunduk pada kepentingan materi dan birokrasi yang begitu rumit. Islam menawarkan sistem pemerintahan yang menjadikan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas utama. Ketika syariat diterapkan secara kaffah negara akan benar-benar hadir untuk menjaga agama, jiwa dan kesehatan masyarakat.
Khatimah
Iduladha adalah sebuah perjalanan ketakwaan dan kepedulian sosial. Jangan biarkan ibadah agung ini tercoreng oleh lemahnya pengawasan dan buruknya pelayanan negara terhadap keamanan hewan kurban. Umat membutuhkan negara yang amanah, dan serius mengurusi kebutuhan umat. Sebab, dalam Islam pemimpin bukan diminta sukses membangun citra, akan tetapi akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas setiap urusan rakyat yang terabaikan.
Wallahualam bishawab []
Penulis: Rahmayanti, S.Pd
Aktivis Muslimah




