Catatan.co – Jaga Omongan. Halo, Sahabat literasi di mana pun berada. Pernah nggak sih kamu ngomong asal, lalu menyesal belakangan? Misalnya, kesal sama sahabat, terus nyablak, “Udah deh, males temenan sama kamu!” Eh, ternyata besoknya butuh banget sama dia buat kerja kelompok. Duh, rasa menyesalnya gak ketolong.
Itulah kenapa ada pepatah bilang, “Mulutmu harimaumu.” Maksudnya, agar kita tetap jaga omongan. Sebab kata-kata bisa jadi penyelamat, sekaligus bisa balik menerkam diri sendiri.
Rasulullah saw. sudah kasih warning lo soal ini:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, ngomong itu bukan cuma urusan interaksi sosial, tapi cerminan hati dan lurusnya iman kita. Sebab, bila hati itu bersih maka omongan yang keluar pasti yang baik-baik, dan dipergunakan untuk hal-hal baik juga. Uniknya lagi, omongan yang baik mendatangkan keberkahan dan kemuliaan bagi pelakunya.
Pun sebaliknya, bila hatinya kotor, maka omongan yang keluar juga tidak ahsan seperti, suka berbohong, gemar bergosip, menghasut teman, iri dengki, atau suka adu domba.
Omongan itu kayak pedang bermata dua. Bila kata-katanya bermuatan kalimat positif, maka bisa bikin orang semangat, dan bikin mereka merasa dihargai. Akan tetapi dengan omongan juga bisa bikin orang patah semangat, sakit hati, bahkan hancurnya sebuah hubungan persahabatan.
Bayangkan kalau ada teman yang lagi insecure sama penampilannya, terus ada yang nyeletuk,
“Eh, kamu gendutan ya sekarang?”
Ucapan kecil gini bisa nyangkut di hati orang bertahun-tahun. Jadi, stop body shaming.
Rasulullah saw. pernah ditanya tentang hal yang paling banyak menjatuhkan manusia ke neraka. Beliau jawab:
“Mulut dan kemaluan.”
(HR. Tirmidzi)
Simple ‘kan pesannya? Tapi dalam banget maknanya. Maka, gak heran kemudian banyak masalah besar berawal dari omongan remeh.
Pengawas
Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an di surah Qaf ayat 18, “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Artinya, setiap chat status, atau komen di medsos itu tercatat. Jadi, jangan heran kalau nanti semua bakal dimintai pertanggungjawaban di yaumulhisab.
Penuturan Ibnul Qayyim:
“Tidak ada anggota tubuh yang lebih berbahaya bagi manusia selain lisannya.”
Omongan jelek yang wajib dijauhi, di antaranya:
Pertama, berbohong. Semisal kamu bikin alibi palsu biar nggak ketahuan cabut kelas. Tahu gak, Islam sangat melarang keras kepada orang beriman untuk berbohong, kecuali pada keadaan yang dibenarkan hukum syarak. Orang yang suka bohong bisa menghilangkan kepercayaan orang lain kepadanya.
Kedua, gibah. Ketika kamu gemar ngomongin orang lain karena kekurangan dan keburukan yang ada padanya. Maka, perbuatan seperti ini sama halnya memakan bangkai saudara sendiri dan dihukumi haram.
Ketiga, bersumpah palsu untuk melindungi diri atau melakukan pembenaran atas sikapnya yang salah. Kadang seseorang nekat menyebut nama Allah untuk meyakinkan orang lain. Wuih, seram ya, jangan cari perkara deh sama Allah, bakal ketahuan dan ada akibatnya.
Keempat, perkataan negatif. Seperti nge-bully, mengejek fisik, atau menyindir dengan kata-kata pedas. Duh, coba deh, jika kamu gak suka dengan sikap seseorang langsung sampaikan saja ke orangnya. Sekilas kelihatan receh, tapi dampaknya bisa gede banget, lo, jika dibiarkan bisa jadi fitnah, serta dapat memunculkan permusuhan dan saling curiga.
Kelima, hasad atau iri dengki adalah perasaan tidak senang ketika melihat orang lain mendapat nikmat dan kebahagiaan. Ia menginginkan kenikmatan itu lenyap dari mereka. Astagfirullah.
Keenam, adu domba atau lebih dikenal dengan sebutan namimah. Sebuah perilaku menyebarkan berita bohong agar kedua belah pihak berantem dan hubungan persahabatan jadi pecah.
Teladan Inspiratif
Syahdan, suatu ketika, Mu‘adz bin Jabal r.a. bertanya kepada Rasulullah saw. tentang amal apa yang bisa memasukkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari neraka. Setelah panjang lebar menjelaskan, Rasulullah saw. lalu memegang lidah beliau dan bersabda:
“Jagalah ini (lidahmu).”
Mu‘adz pun bertanya: “Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita omongkan?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Celaka engkau wahai Mu‘adz! Bukankah kebanyakan manusia diseret ke neraka dengan wajah mereka kecuali karena akibat dari ucapan lisannya?” (HR. Tirmidzi)
Pun demikian, dengan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga memberi tip simpel:
“Jika engkau ingin berbicara, pikirkanlah. Jika engkau yakin ada kebaikan, bicaralah. Jika engkau ragu, diamlah.”
Keren ‘kan? Padahal mereka orang besar, tapi tetap hati-hati banget kalau hendak berbicara.
Baca Juga: Merajut Taman Surga
Omongan Baik Tiket ke Surga
Jangan salah, lo, lisan bukan cuma sumber bahaya, tetapi juga bisa sebagai tiket masuk ke surga. Asalkan kita selalu mengucapkan perkataan yang baik dan mulia.
Dengan lisan, kita bisa memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an. Kita juga bisa menyemangati teman yang sedang futur, frustrasi, atau bersedih. Bahkan, lewat lisan pula, kita bisa meminta maaf sekaligus memberi maaf kepada orang lain.
Contohnya, ketika kita berkata, “Semangat ya, aku percaya kamu pasti bisa!”, kalimat sederhana itu bisa saja menjadi sebab Allah semakin sayang sama kita. Tentu rasanya sangat membahagiakan.
Terkadang sebuah kalimat keluar dari lisan seorang hamba tanpa ia sadari, tetapi karena diridai oleh Allah, kalimat itu menjadi sebab derajatnya ditinggikan. Begitulah tuturan Rasulullah saw. pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari
Kiat Omongan Gak Tergelincir
1. Membiasakan lisan untuk selalu berzikir agar lisan kita terbiasa sama kata-kata baik. Seperti istigfar, subhanallah, masyaallah, barakallah, dan seterusnya.
2. Kudu berpikir dahulu sebelum ngomong. Kira-kira nih, bermanfaat nggak sih?
3. Jangan pernah terlibat debat kusir dan harus dihindari. Apalagi di grup WA atau medsos.
4. Berupaya diam kalau marah. Tetap bersikap tenang. Jangan chat dulu sebelum adem.
5. Gunakanlah lisan kita buat mendoakan orang lain, menyapa, dan mengucapkan salam. Meski hal ini terlihat kecil tetapi impactful.
Perhatikan Tulisannya
Sekarang, jaga lisan itu bukan cuma soal ngomong di dunia nyata. Akan tetapi juga tentang “omongan digital” yang bisa berbentuk status, komen, story, atau chat.
Gak semua orang kuat menerima omongan nyelekit. Kadang satu komentar saja di medsos bisa bikin orang kepikiran dan menangis semalaman.
Btw, kadang pula satu chat, begini bunyinya,
“Aku selalu ada buat kamu”
Meski diksinya sederhana, ternyata bisa bikin teman kita bertahan hidup.
So, kata-kata motivasi begini yang perlu kita tebar sebanyak-banyaknya. Bikin hati adem. Benar gak sih?
Khatimah
Pepatah itu betul banget ya, “Mulutmu harimaumu.” Kalau kita biarin liar beredar, omongan yang gak ahsan bisa nyakitin orang dan balik nyakitin diri sendiri. Akan tetapi, kalau kita bisa mengendalikannya dan hanya ngomong yang baik-baik, ia bisa jadi jalan banyak kebaikan. Masyaallah.
By the way, semoga kita bisa jadi orang yang memakai mulut buat menyebarkan kebaikan dan mengajak kepada hal-hal baik, sambil menjauhkan hal-hal buruk. Kita juga harus jaga diri biar nggak gampang ngomong yang jelek atau nyakitin hati orang.
Pada akhirnya, setiap kata yang keluar dari mulut kita bakal diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. nanti di akhirat. Kalau kita mampu menjaganya dengan hanya mengucapkan hal-hal yang baik, maka lisan bisa menjadi sahabat yang menuntun kita menuju surga. Insyaallah.
So, sebelum lembaran naskah ini penulis akhiri, barangkali quote motivasi berikut bisa jadi pengingat diri.
“Jika ucapanmu dapat menjadi penawar, jangan sekali-kali membuatnya sebagai racun, dan basahi kedua bibirmu dengan zikir sepanjang hari.”
Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Mimi Muthmainnah
(Pegiat Literasi)




