Potensi Gen Z dan Kesadaran Politik Hakiki

Potensi Gen Z dan Kesadaran Politik Hakiki

Catatan.co – Potensi Gen Z dan Kesadaran Politik Hakiki. Fenomena aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga berbagai aspirasi yang ramai disuarakan masyarakat di media sosial belakangan ini menunjukkan bagaimana generasi Z (Gen Z) merespons tekanan sosial maupun politik. Tidak sedikit dari mereka memilih menyampaikan gagasan dengan cara khas: melalui media sosial, meme, poster kreatif, hingga estetika visual yang mudah diterima oleh publik luas.

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., pilihan Gen Z untuk berbicara lewat ekspresi kreatif merupakan bentuk kedewasaan dalam menyalurkan aspirasi. Alih-alih melakukan tindakan destruktif, Gen Z lebih memilih menyampaikan pesan tanpa harus membakar fasilitas atau menciptakan kerusakan.

(https://www.kompas.com/tren/read/2025/09/05/160000665/psikolog-ungkap-gen-z-punya-mekanisme-pertahanan-unik-yang-beda-dari?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Referral&utm_campaign=Top_Mobile)

Sementara itu, Psikolog dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, menyoroti fenomena meningkatnya partisipasi anak-anak di bawah umur dalam aksi unjuk rasa. Menurutnya, meskipun demonstrasi bisa menjadi ruang belajar untuk menyalurkan pendapat, tetapi mereka lebih rentan terprovokasi karena kontrol dirinya belum stabil. (https://republika.co.id/share/t1wyqv425?utm_source=whatsapp)

Gen Z dalam Pandangan Kapitalisme

Jika ditelisik lebih jauh, konstruksi psikologi dalam mengklasifikasikan karakteristik Gen Z sering kali diarahkan sesuai dengan kerangka pikir kapitalisme. Orientasi ini justru menekankan bagaimana aspirasi pemuda dikelola agar tidak berkembang menjadi kesadaran politik yang mendasar. Gen Z diarahkan untuk mempertahankan nilai dan identitas personal, dengan tetap meminimalkan eskalasi konflik terhadap penguasa.

Dengan pendekatan ini, generasi muda dibiarkan merasa “bebas mengekspresikan diri” tanpa diarahkan untuk memahami akar persoalan ketidakadilan dan kezaliman yang menimpa masyarakat. Padahal, sejak awal penciptaannya, manusia memiliki naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa) dan menolak kezaliman.

Pandangan Islam

Islam memandang fitrah manusia sebagai potensi manusia, yakni kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi dengan tuntunan syariat, bukan semata tuntunan psikologi modern. Dalam konteks ini, aksi menyuarakan aspirasi bukan sekadar luapan emosi, melainkan bagian dari perintah agama untuk melakukan muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa).

Allah Swt. berfirman, _“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” (QS. An-Nahl: 125)

Lebih jauh, Rasulullah menegaskan, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. Al-Hakim)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.

Sejarah Islam juga mencatat bahwa pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Pada masa Rasulullah, mayoritas sahabat yang ikut serta dalam perjuangan dakwah adalah para pemuda. Energi, idealisme, dan keberanian mereka menjadi motor perubahan besar yang membawa Islam tegak sebagai sistem hidup yang menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Baca Juga: Membangun Takwa

Karenanya, potensi pemuda termasuk Gen Z hari ini, seharusnya diarahkan bukan sekadar pada ekspresi simbolik yang terjebak dalam estetika visual belaka, melainkan pada perjuangan hakiki (taghyir) untuk menegakkan keadilan yang nyata dan menghilangkan kedzaliman. Keberadaan penguasa yang adil maupun dzalim adalah sunnatullah yang akan selalu ada. Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, penting untuk mengetahui bagaimana bersikap sesuai tuntunan syariat ketika berhadapan dengan pemimpin yang dzalim.

Islam melarang pemberontakan yang menimbulkan kerusakan lebih besar daripada kezaliman penguasa itu sendiri. Gen Z perlu bijak, tidak terprovokasi dengan ajakan yang bisa memicu perpecahan atau pertumpahan darah.

Kedzaliman pemimpin sering kali menjadi cerminan dari kondisi masyarakat. Dengan memperkuat iman, dan menegakkan amar makruf nahi munkar di lingkup masing-masing, Gen Z turut berkontribusi melahirkan generasi pemimpin yang adil di masa depan. Inilah jalan yang diajarkan syariat Islam agar kezaliman tidak berbuah kerusakan yang lebih besar.

Khatimah

Fenomena aksi demonstrasi Gen Z perlu dibaca lebih dalam. Mereka memang memiliki kreativitas dan medium baru dalam menyampaikan aspirasi. Namun, potensi besar itu seharusnya tidak berhenti pada simbol atau ekspresi yang aman dalam koridor kapitalisme. Islam memberikan panduan agar aspirasi pemuda diarahkan pada perjuangan substansial yaitu amar makruf nahi mungkar, koreksi penguasa zalim, dan mewujudkan perubahan hakiki demi tegaknya keadilan sejati.

Wallahu ‘alam bishawab.[]

Penulis: Lia Julianti

Aktivis Dakwah Tamansari Bogor