Catatan.co – Marriage is Scary, Trend Baru Perusak Generasi. Marriage is scary, atau istilah lain dari fenomena takut menikah, sebuah trend baru yang berkembang di kalangan remaja saat ini. Gaya hidup ini cenderung bertolak belakang dengan kebiasaan zaman dulu. Jika kita melihat fakta ke belakang, rata-rata saat memasuki usia menikah para pemuda mempersiapkan diri baik secara psikis maupun finansial untuk menuju ke jenjang pernikahan. Ada rasa malu jika di usianya yang sudah terbilang dewasa belum juga menemukan jodohnya.
Berbeda dengan fakta yang terjadi hari ini, banyak pemuda yang memilih menunda pernikahan dan memilih hidup melajang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, bahkan seakan-akan fenomena tersebut menjadi sebuah pemakluman yang wajib ditoleransi oleh semua orang.
Sebagaimana dilansir di media Kompas.id, “Fenomena generasi muda lebih takut miskin dari pada takut tidak menikah“. Menurut M Faesal Fakih dan Budiawan Sidik A, generasi saat ini berbeda pemikiran dalam memandang sebuah pernikahan. Dahulu, anak muda menempatkan pernikahan sebagai tonggak kedewasaan yang harus dicapai. Bahkan, mereka yang sudah berumur 30-an, tetapi tak kunjung menikah kerap dikaitkan dengan ”keterlambatan” melepas masa lajang. Terlebih bagi perempuan, anggapan ”perawan tua” kerap kali melekat pada mereka yang tidak kunjung menemukan jodohnya.
Namun, di era saat ini tampaknya pandangan tersebut mengalami pergeseran. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah fenomena yang belakangan ini sedang hangat diperbincangkan di media sosial, yakni mengenai generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah.
(https://share.google/GTVo5WQh8KnmrKZ2Z
https://www.kompas.id/artikel/tekanan-biaya-hidup-dan-ketidafenomena-generasi-muda-lebih-takut-miskin-daripada-takut-tidak-menikah?)
Faktor Penyebab
Jika dilihat dari fakta yang beredar saat ini, kita bisa menelaah berbagai penyebab maraknya fenomena marriage is scary saat ini.
Pertama, adanya anggapan atau asumsi biaya menikah itu mahal, bahkan tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membiaya perhelatan pesta pernikahan. Hal ini menjadi alasan bagi pemuda khususnya laki-laki untuk menunda pernikahan sampai mempunyai modal yang cukup.
Kedua, gaya hidup hedon dan materialistis yang tumbuh dari pendidikan sekuler mendorong para orang tua dan pasangan calon pengantin ingin menggelar pesta mewah dan meriah, sehingga biaya pernikahan menjadi tidak sedikit. Tentunya, biaya tersebut separuhnya akan dibebankan kepada calon pengantin laki-laki. Selain itu, pengaruh pemberitaan di media sosial pun terkadang menjadi acuan untuk berlomba-lomba menciptakan pernikahan idaman. Tak pelak, biaya pernikahan pun menjadi sangat fantastis.
Ketiga, bergesernya tujuan utama dari pernikahan. Seharusnya pernikahan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warohmah. Namun, saat ini pernikahan dipandang beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan. Tak sedikit rumah tangga yang hancur diakibatkan salah dalam memahami tujuan pernikahan.
Baca Juga : Keamanan Rakyat Tergadai
Keempat, sistem kapitalisme yang menjadi ideologi negara saat ini, membuat masyarakat takut hidup dalam kemiskinan. Sistem kapitalisme juga menyebabkan biaya hidup tinggi, pekerjaan sulit, dan upah rendah. Sedangkan negara sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat, sehingga beban hidup dipikul individu.
Islam Menjadi Solusi Praktis
Dalam sistem Islam tentunya negara menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Begitupun dengan pengelolaan kepemilikan umum dilakukan oleh negara, bukan swasta/asing. Hasilnya akan dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga biaya hidup dapat ditekan.
Pendidikan dalam Islam berbasis akidah yang membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru menjadi penyelamat umat. Tak kalah penting adalah penguatan institusi keluarga, yang mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan.
Hanya dengan Islamlah semua itu bisa terwujud. Sehingga tercipta keluarga ideologis yang kuat dan tangguh, melahirkan generasi emas dan cemerlang sepanjang zaman.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Menekankan sakinah, mawaddah, warahmah). (QS Ar-Rum, 21)
Wallahu’alam bishawab. []
Penulis : Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor




