Ibu Arsitek Peradaban

Ibu Arsitek Peradaban

Catatan.co – ​Ibu Arsitek Peradaban. Peringatan Hari Ibu ke-97 di Kalimantan Timur baru-baru ini diwarnai dengan momen reflektif. Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, disusul kunjungan ke Lapas Perempuan di Tenggarong pada Kamis (11/12/2025).

Agenda ini bukan sekadar formalitas semata melainkan potret nyata kondisi perempuan hari ini. Di satu sisi kita mengenang kepahlawanan, tapi di sisi lain kita mendapati kenyataan pahit adanya kaum perempuan yang terjerembab dalam jeruji besi.

Sumber: https://kaltimprov.go.id/detailberita/peringati-hari-ibu-ke-97-dp3a-kaltim-sentuh-perempuan-rentan-dan-suarakan-pemberdayaan

Beban Ganda Perempuan dalam Cengkeraman Kapitalisme

Kunjungan ke Lapas Perempuan menjadi bukti sahih bahwa perempuan hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di bawah naungan sistem Kapitalisme, mereka dipaksa keluar dari rumahnya bukan karena pilihan, melainkan tuntutan ekonomi yang menghimpit. Narasi “Pemberdayaan Perempuan” dan “Kesetaraan Gender” sering kali menjadi jebakan yang menuntut mereka menjadi penopang ekonomi keluarga.

Dampaknya fatal. Ketika standar kesejahteraan diukur hanya dari sisi materi, fitrah ibu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) terabaikan. Himpitan ekonomi dan gaya hidup hedonistik, materialistik yang lahir dari rahim kapitalisme mendorong sebagian perempuan menempuh jalan pintas yang berujung pidana. Bukannya mempersembahkan generasi unggul untuk peradaban, sebagian ibu justru terasing dari anak-anaknya karena harus mendekam di balik pagar besi.

Ibu Pencetak Generasi Peradaban

Sejarah mencatat, bahwa peradaban gemilang tidak lahir dari tangan ibu yang sibuk mengejar karir demi eksistensi diri belaka, sibuk mengumpulkan materi, dan abai nasib generasi, melainkan dari tangan ibu yang memahami peran penting mencetak generasi Rabbani dan siap terjun ke medan jihad. Sebagaimana keteladanan yang telah dicontohkan oleh ibu tangguh berikut:

Al-Khansa

Al-Khansa binti Amr r.a. bukan hanya dikenal sebagai penyair besar Arab, tetapi juga sebagai ibu berjiwa tauhid yang menanamkan keimanan di atas segala rasa. Pada Perang Qadisiyah, beliau mengantarkan empat putranya menuju medan jihad dengan hati yang teguh dan lisan yang menguatkan. Malam sebelum pertempuran, beliau mengumpulkan keempat putranya dan berkata bahwa Islam telah memuliakan mereka, hijrah telah membersihkan jiwa, dan akhirat lebih kekal daripada dunia yang fana.

Al-Khansa tidak membangkitkan anak-anaknya dengan ambisi dunia, tetapi dengan membangun kesadaran akan pentingnya meraih rida Allah. Tak henti beliau mengingatkan dan menguatkan bahwa sabar dan teguh di medan laga adalah jalan kemuliaan, memilih mundur adalah kehinaan. Kalimatnya bukan sekadar pesan biasa, melainkan madrasah tauhid yang hidup dan menumbuhkan keberanian yang berakar dari ketakwaan.

Keempat putranya pun berangkat dengan semangat membara dan hati rida, hingga kemudian tersiar kabar yang menyatakan putranya gugur satu per satu  sebagai syuhada. Ketika kabar itu sampai, Al-Khansa tidak meratap. Beliau menengadah dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Aku berharap Allah menghimpunkan kami bersama di surga.”

Baca Juga: Pengiriman Guru

Sungguh, keteladanan Al-Khansa mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah membesarkan anak untuk mengejar rida Allah, menyiapkan generasi yang rela mengorbankan segalanya demi kebenaran, dan menjadikan keimanan sebagai warisan paling berharga.

Mengembalikan Fitrah Ibu dan Penjagaan Negara

Islam memandang ibu sebagai kehormatan yang harus dijaga, bukan komoditas ekonomi. Solusi Islam mencakup dua aspek penting:

1. Pendidikan Berbasis Akidah

Rasulullah saw. bersabda:

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah No.224)

Ibu wajib membekali diri dengan tauhid, ilmu Islam kaffah dan memperdalam tsaqafah agar mampu mendidik anak-anaknya sehingga memiliki kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah). Mengaji bukan sekadar hobi atau pengisi waktu senggang, tapi kewajiban dan bila menolak hukumnya berdosa. Ketika ibu paham misi dan visi penciptaannya, maka bisa dipastikan ibu akan bersemangat belajar, berdakwah dan berjuang membela agama.

2. Pentingnya Support Sistem 

Dalam Islam, ibu tidak dibiarkan bekerja menjadi tulang punggung keluarga, kesejahteraan ibu dijamin melalui peran wali (suami/ayah) dan negara. Negara wajib memastikan para ayah memiliki lapangan kerja yang layak sehingga para ibu bisa fokus menjalankan peran fitrahnya mendidik generasi tanpa dihantui kelaparan dan kekurangan lainnya.

​Peran dan Kontribusi Ibu sebagai Pencetak Pemimpin

​Kontribusi terbesar seorang ibu bagi negara bukanlah pajak yang ia hasilkan dari bekerja di pabrik atau kantoran, melainkan kesalehan anak-anak yang ia lahirkan. Ibu adalah arsitek peradaban. Dari didikannya, lahir pemuda saleh yang jujur, amanah, dan berani melawan kezaliman. Jika fungsi ini rusak, maka runtuhlah fondasi sebuah bangsa.

Khatimah

Ibu Kembali Fitrah dan Pemutus Ikatan Kapitalisme

​Ziarah makam pahlawan dan kunjungan ke Lapas harusnya menyadarkan kita bahwa pahlawan sesungguhnya adalah ibu yang berhasil menjaga fitrahnya di tengah gempuran pemikiran asing. Dukungan bagi perempuan bukanlah dengan mendorong mereka memikul beban laki-laki, melainkan dengan memuliakan peran ibu sebagai generasi berkualitas dan mumpuni. Saatnya ibu kembali ke fitrah, memutuskan ikatan dengan kapitalisme, dan mulai membangun peradaban dari dalam rumahnya untuk mencetak generasi hebat pelopor perubahan.

​#DuaGenerasiSatuAmanah

#GenerasiPenerusRisalahIslam

#GenerasiPeloporPerubahan

Wallahualam bishawwab.[]

Penulis: Mimy Muthmainnah

Pegiat Literasi