Catatan.co – Harga Bahan Pokok Naik Rakyat Tercekik. Pergerakan harga bahan pokok di Tenggarong Kabupaten Kukar menunjukkan tren yang beragam. Sejumlah komoditas seperti cabai, bawang, telur, hingga beras mengalami kenaikan, sementara harga daging ayam masih relatif stabil. (https://kaltim.tribunnews.com/tribun-etam/1144666/harga-cabai-bawang-telur-beras-di-tenggarong-alami-kenaikan-pedagang-keluhkan-daya-beli-melemah)
Mirisnya, harga kedelai juga ikut naik. Hal ini membuat perajin tempe di Kukar mengecilkan ukuran demi bertahan. (https://kaltim.tribunnews.com/tribun-etam/1144449/harga-kedelai-naik-perajin-tempe-di-kutai-kartanegara-kecilkan-ukuran-demi-bertahan)
Masalah Pangan
Ketahanan pangan lemah di tengah lesunya perekonomian, naiknya bahan pokok dan lainnya membuat daya beli masyarakat kian rendah. Belum lagi, dampak perang ditambah lemahnya ketahanan energi pun memengaruhi. Rakyat sudah susah dengan kenaikan semua jenis kebutuhan, maka makin sulit pula hidupnya.
Sebelumnya kenaikan plastik, ditambah kenaikan BBM, tentu membuat kenaikan harga melonjak di pasaran. Di mana empatinya penguasa sehingga tega menaikkan hampir semua jenis kebutuhan? Faktanya, hingga hari ini, masalah pangan tidak pernah tuntas tersolusikan.
Sebagai contoh, pemerintah kerap mengambil solusi instan untuk mencukupi kebutuhan beras dalam negeri dengan melakukan impor. Selama lima tahun terakhir Indonesia melakukan impor beras antara 350 ribu-450 ribu ton setiap tahunnya. Hal ini sangat miris, karena dahulu pada 1984-1986 Indonesia pernah swasembada pangan, sekarang malah ketergantungan beras dari negara lain.
Pada 2005, Indonesia pernah menduduki peringkat tiga produsen padi terbesar dunia setelah Cina dan India. Lambat laun menurun dan mengubah status Indonesia menjadi negara importir beras. Lantas, apa penyebabnya?
Jika kita teliti, hari ini banyak lahan pertanian dan perkebunan yang beralih fungsi menjadi kawasan industri, perdagangan, perumahan, jalan tol, dan sejumlah infrastruktur. Alhasil, lahan pertanian dan perkebunan makin menyusut, yang mengakibatkan produksi pertanian dan perkebunan ikut menurun. Selain itu, peran negara dalam merawat, menjaga, dan menyejahterakan petani juga minim.
Untuk menghasilkan produksi beras, cabai dan hasil kebun lain yang berkualitas, para petani membutuhkan bibit, pupuk, pengairan, dan sarana produksi pertanian yang memadai. Semua ini membutuhkan sumber daya dan biaya yang tidak sedikit. Sayangnya, negara mengabaikan peran tersebut.
Baca Juga: Air Tak.Boleh Mahal
Banyak petani gigit jari setelah panen, karena terjualnya harga hasil pertanian dan perkebunan dengan sangat rendah. Biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan hasil penjualannya. Pada akhirnya, banyak petani menjual sawah dan kebunnya karena tidak kuat menahan kerugian ketika panen.
Masalah ini jelas membutuhkan negara dalam memenuhi kebutuhan petani dan perkebunan agar bergeliat kembali. Negara bisa memberi subsidi, pemberian gratis, atau pembelian alat-alat produksi pertanian dan perkebunan dengan harga murah dan terjangkau. Sayangnya, belum ada upaya terstruktur dan terukur dalam melakukan mitigasi krisis pangan. Sejauh ini, pemerintah hanya mengandalkan impor beras, kedelai dan sebagainya untuk memenuhi stok pangan di dalam negeri. Seakan tidak mau ribet mengurusi pertanian dan perkebunan, solusi impor selalu jadi jurus jitu.
Nyatanya, masalah pokok pangan bermula dari penerapan sistem kapitalisme liberal. Sistem yang membuat negeri ini harus terikat pada liberalisasi pasar dan perdagangan bebas. Keberadaan mafia pangan merupakan dampak kebebasan kepemilikan lahan tanpa batas. Akibatnya, penguasaan lahan terpusat pada siapa saja yang bermodal besar. Petani dan perkebunan harus menghadapi korporasi yang menguasai pertanian dari sektor hulu hingga hilir.
Apalagi perjanjian internasional membuat kebijakan impor makin tidak terkendali. Penguasa dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini sungguh zalim mempersulit rakyat. Sistem kapitalisme membuat daerah kaya SDAE tak mampu menyejahterakan rakyatnya.
Kemandirian Pangan dengan Islam
Sistem ekonomi Islam memiliki keunggulan dalam menjaga stabilitas harga. Islam dapat wujudkan ketahanan pangan dan energi. Dalam sistem Islam, terdapat sejumlah mekanisme bagaimana mewujudkan kemandirian pangan tanpa bergantung pada negara lain.
Pertama, mengoptimalkan kualitas produksi pangan. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Ekstensifikasi bisa dilakukan dengan menghidupkan tanah mati. Intensifikasi dilakukan dengan peningkatan kualitas bibit, pupuk, dan saprotan dengan teknologi terkini.
Kedua,.mekanisme pasar yang sehat. Negara melarang penimbunan, penipuan, praktik riba, dan monopoli. Kebijakan pengendalian harga dilakukan melalui mekanisme pasar dengan mengendalikan supply and demand bukan dengan kebijakan pematokan harga.
Ketiga, manajemen logistik. Negara akan memasok cadangan lebih saat panen raya. Negara akan mendistribusikan secara selektif bila ketersediaan pangan berkurang.
Keempat, prediksi cuaca dan mitigasi kerawanan pangan. Yaitu, kajian mendalam tentang terjadinya perubahan cuaca dan dampaknya. Hal ini didukung fasilitas dan teknologi mutakhir. Fenomena El Nino bukanlah yang pertama terjadi. Artinya, hal ini dapat diantisipasi lebih dini untuk mengurangi dampak kemarau berkepanjangan yang berpengaruh pada produksi dan stok pangan dalam negeri. Negara harus siap siaga dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem.
Sistem Islam dikenal memiliki tata kelola pangan yang hebat. Mulai dari pengaturan kepemilikan lahan, pengaturan SDA, larangan merusak alam yang berdampak pada perubahan iklim, hingga mitigasi bencana kekeringan dan krisis pangan.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, beliau menerapkan inovasi soal irigasi untuk mengairi area perkebunan. Ia sengaja menyulap kawasan delta Sungai Eufrat dan Tigris serta daerah rawa dengan mengeringkannya untuk menjadi lahan-lahan pertanian. Kebijakan itu diteruskan hingga Dinasti Umayyah. Swasembada pangan dengan sistem Islam sangat riil dan aplikatif.
Begitu pula kita lihat bagaimana teladan Rasulullah dalam memenuhi kebutuhan dan ketika rakyatnya kesusahan, ancaman dan berita gembira Rasulullah saw. kepada pemimpin. Dari Ummul Mukminin Aisyah ra., Rasulullah saw. berdoa,
“Ya Allah, siapa saja yang memegang suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia menyulitkan urusan mereka, maka persulitkanlah dia. Dan siapa saja yang memegang suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka bantulah dia juga.” (HR Ahmad dan Muslim)
Pemimpin adalah orang yang mempunyai peranan dan pengaruh besar dalam kehidupan umat. Pemimpin yang baik dan adil, dia akan menyebarkan kebaikan di antara umat. Namun sebaliknya, pemimpin yang zalim akan menyemai benih-benih kerusakan dan menyengsarakan.
Kita dapati banyak contoh pemimpin yang adil dalam sejarah kejayaan Daulah Islamiah. Contohnya Khulafa ar-rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid, dan yang lainnya. Mereka dikenali sebagai orang yang takut kepada Allah, menerapkan hukum-Nya dengan sebaik mungkin dan bertanggung jawab terhadap umatnya.
Dalam banyak hadis Rasulullah saw. telah mencela pemimpin yang mengabaikan urusan rakyatnya. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. di atas. Dalam hadis ini Rasulullah saw. mendoakan para pemimpin dengan doa yang menggetarkan jiwa, menuntut keadilan dan kasih sayang mereka kepada umat.
Hadis ini walaupun redaksinya adalah doa, tetapi di dalamnya terdapat tuntutan bagi penguasa untuk menolong dan memudahkan urusan rakyat serta larangan menyusahkan mereka. Hadis yang hampir sama juga beliau saw. sampaikan kepada para sahabat. Beliau bersabda,
“Dan barang siapa yang memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyusahkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah itu bahlatullah?” Beliau menjawab, “La’nat Allah.” (HR Abu ‘Awanah dalam sahihnya. Terdapat di Subulus Salam).
“Tidak ada seorang hamba yang Allah memberikan kekuasaan kepadanya menguruskan rakyat, pada hari dia mati itu dia menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (HR. Muslim)
Beliau saw juga bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang mendapat amanah dari Allah untuk menjaga rakyat, kemudian dia mati pada hari kematiannya dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah telah mengharamkan surga baginya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Sebaliknya, bagi pemimpin yang adil, menegakkan hukum-hukum Allah di dunia dan takut akan pertanggungjawaban di akhirat nanti, Rasulullah memberikan berita gembira dengan bersabda,
“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, pada hari kiamat kelak, dia berada di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla yang Maha Pengasih. Kedua tangan Allah sebelah kanan. (Mimbar tersebut) diberikan untuk orang yang bersikap adil dalam keputusan hukum mereka, keluarga mereka, dan orang yang mereka kuasai.” (HR Muslim)
Wallahualam bishawab.[]
Penulis: Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Pemerhati Sosial)




