Ironi Provinsi Kaya SDAE: Ekonomi Rakyat Sulit

Ironi Provinsi Kaya SDAE: Ekonomi Rakyat Sulit

Catatan.co – OPINI. Ironi Provinsi Kaya SDAE: Ekonomi Rakyat Sulit. Jumat 24 april kematian Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), menyita perhatian publik usai viral dugaan bahwa ia meninggal akibat memakai sepatu kekecilan. Meski belum jelas penyebab pasti kematian Mandala, fakta tentang sepatu kekecilan yang di pakai Mandala benar adanya.

Di balik kabar tersebut, terselip kisah pilu mengenai kondisi Mandala sebelum mengembuskan napas terakhir, ialah Mandala tidak pernah dirawat di fasilitas kesehatan (faskes) karena kendala biaya maupun akses karena jaminan Kesehatan BPJS tidak bisa digunakan karena persoalan administrasi.

Ini adalah ironi karena Kalimantan Timur (Kaltim) terkenal dengan SDAE . Menukil data Badan Pusat Statistik (BPS), Kaltim masuk dalam tiga provinsi yang berkontribusi hingga 33,65 persen dari seluruh ekspor nasional pada Januari-Desember 2024.

Menurut wakil Gubernur Kaltim, Kalimantan Timur memiliki sekitar 400 izin usaha pertambangan (IUP), delapan juta hektar hutan, dan 1,5 juta hektar perkebunan sawit. Wakil Gubernur menambahkan, meski PDRB Kalimantan Timur memberi kontribusi hampir 1.000 triliun rupiah ke pusat, yang kembali ke daerah baru sekitar 70–80 triliun rupiah. Pemerintah pusat mengalokasikan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) untuk Pemprov Kaltim sebesar Rp8,7 triliun, di mana DBH SDA Minerba menjadi penyumbang terbesar hingga 60 persen. Sementara itu, total DBH yang diterima seluruh kabupaten/kota di Kaltim menembus angka Rp27,98 triliun.

https://rri.co.id/samarinda/regional/2121038/pemprov-kaltim-maksimalkan-sda-untuk-kesejahteraan-masyarakat

Pernyataan mengejutkan datang dari tokoh nasional, Dedy Mulyadi, Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dedi Mulyadi pada Mei 2025 lalu. Melalui kanal YouTube pribadinya yang menyebut bahwa warga Kalimantan Timur sebenarnya bisa hidup tanpa harus bekerja apabila hasil kekayaan alam (SDA) di wilayah tersebut dikelola dan didistribusikan dengan adil. Menurut Dedy, potensi kekayaan alam Kalimantan Timur sangat besar, mulai dari batu bara, minyak, gas alam, hingga hasil hutan dan laut. Jika dikelola secara optimal dan tidak bocor di tengah jalan, setiap kepala keluarga bahkan bisa menerima sekitar Rp5 juta per bulan.

Pernyataan ini mengangkat kembali isu penting seputar ketimpangan antara potensi daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. Kalimantan Timur merupakan salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara dari sektor SDAE, namun masih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan. Maka penting ada reformasi dalam tata kelola hasil bumi, agar keuntungan tidak hanya dirasakan segelintir elite atau perusahaan besar, tetapi juga masyarakat lokal. Inilah buah dari system kapitalis yang saat ini mendominasi kehidupan kita.

Kematian Mandala menguak tabir tak ada jaminan sepenuhnya oleh negara dalam hal Kesehatan. Selama sakit Mandala tidak pernah memeriksakan diri ke fasilitas Kesehatan karena tidak ada jaminan pembiayaannya. (status kepesertaan BPJS Kesehatan keluarganya tidak aktif akibat tunggakan) padahal program Gubernur Kaltim bila ada masyarakat miskin yang tidak punya jaminan dan sakit tetap harus dilayani oleh fasilitas kesehatan. Namun dilemanya tanpa ada jaminan kesehatan siapa yang menanggung pembiayaan itu. Fasilitas kesehatan punya aturan retribusi yang harus di bayar oleh pasien bila mereka tidak punya jaminan apalagi bila perlu perawatan lanjut misalnya rawat inap di rumah sakit maka siapa yang akan menanggung pembiayaannya. BPJS akan membayar Klaim RS bila ada bukti kepesertaan BPJS yang aktif dari pasien.

Dalam Peraturan Menteri Sosial (Permensos) RI Nomor 3 Tahun 2025 tentang pengelolaan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Aturan ini mengatur pemeringkatan kesejahteraan (DESIL) untuk BPJS Kesehatan dan program bantuan sosial lainnya.

Aturan utama yang mengatur pemeringkatan kesejahteraan (desil) untuk BPJS Kesehatan dan program bantuan sosial lainnya. Hanya mereka yang masuk desil I-V yang akan di daftarkan ke dalam skema Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) yang dibiayai pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial. Sementara itu, peran pemerintah daerah difokuskan pada pembiayaan peserta di luar kategori tersebut.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Kepala Dinas Kesehatan, dr. Jaya Mualimin, memberikan klarifikasi terkait isu penghentian bantuan iuran BPJS Kesehatan bagi 49.742 warga Kota Samarinda. Pemprov menegaskan, kebijakan tersebut bukan penghentian layanan, melainkan bagian dari penataan dan validasi data kepesertaan agar sesuai dengan ketentuan nasional serta menghindari tumpang tindih pembiayaan dan langkah redistribusi data yang dilakukan Pemprov bertujuan untuk menciptakan keadilan antar kabupaten/kota di Kaltim. Pasalnya, jumlah peserta yang ditanggung di Samarinda dinilai jauh lebih besar dibanding daerah lain.

https://kaltimprov.go.id/detailberita/pemprov-kaltim-klarifikasi-isu-bpjs-di-samarinda-bukan-dihentikan-tapi-penataan-sesuai-aturan

Kondisi ekonomi keluarga Mandala bukan hanya pada persoalan akses kesehatan, tapi juga terlihat dari sepatu yang kekecilan ukuran 40 yang seharusnya memakai sepatu ukuran 44. Bahwa jaminan pendidikan bukan hanya gratis membayar uang sekolah dan pendidikan tapi juga seharusnya didukung juga dengan fasilitas perlengkapan sekolah yang layak, bukan hanya pada sarana-sarana Pendidikan yang utama seperti bangunan yang aman, kelas yang nyaman, perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang canggih tapi juga fasilitas perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, tas, buku dan alat tulisnya. Bukan hanya pada siswa baru tapi setiap anak berhak mendapatkan itu semua. Kaya SDAE tapi bagaikan mati di lumbung padi, penguasa pun nirempati dengan berbagai fasilitas mewah.

Setiap kebijakan anggaran pada dasarnya selalu mencerminkan siapa yang diprioritaskan dan siapa yang diabaikan oleh negara. Dengan dikurangi kepesertaan BPJS, efisiensi anggaran termasuk pendidikan sementara rumah dinas, mobil dinas tetap dianggarkan. Inilah sistem Kapitalisme sekuler baik penguasa maupun sistem tak peduli rakyat.

Islam Solusi Hakiki

Indikator kesejahteraan rakyat dalam Islam bukanlah pada angka pertumbuhan ekonomi atau Pendapatan Nasional Per Kapita (GNP). Karena angka tersebut hanyalah angka akumulasi kekayaan segelintir pemilik modal yang menguasai mayoritas kekayaan negara. Islam memandang indikator kesejahteraan dari terpenuhinya kebutuhan pokok per kepala individu orang per orang dalam negara.

Kebutuhan pokok dalam Islam yaitu sandang, pangan, papan, kebutuhan komunal pendidikan, kesehatan dan keamanan. Mekanisme dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung maksudnya negara yang langsung turun tangan menjamin pemenuhan kebutuhannya. Secara tidak langsung maksudnya pihak yang menjamin pemenuhan kebutuhan tersebut ada tahapannya mulai dari level individu hingga negara.

لَيْسَ لِابْنِ آدَمَ حَقٌّ فِي سِوَى هَذِهِ الْخِصَالِ: بَيْتٌ يَسْكُنُهُ, وَثَوْبٌ يُوَارِي عَوْرَتَهُ, وَجِلْفُ الْخُبْزِ وَالْمَاءِ

Anak Adam tidak memiliki hak pada selain jenis ini: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya serta roti tawar dan air” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Abdu bin Humaid, adh-Dhiya’ al-Maqdisi dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imân).

Az-Zamakhsyari mengatakan, tempat tinggal, pakaian, kenyang dan tidak kehausan (maknanya makanan dan minuman yang membuat manusia kenyang dan tidak kehausan) adalah sumbu yang menjadi poros beredarnya kecukupan manusia. Jadi siapa yang terpenuhi dari kebutuhan tersebut, ia tidak butuh pada kebutuhan yang lebih dari itu.

Baca Juga: Kuliah Mahal

Pemenuhan ketiga kebutuhan pokok itu bukan hanya pada batas zat makanan, pakaian dan tempat tinggal; tetapi juga mencakup berbagai hal yang dibutuhkan sehingga ketiga kebutuhan pokok itu terpenuhi secara sempurna. Misalnya, tempat menyimpan makanan, kompor untuk memasak, keperluan untuk mencuci atau hal-hal yang dibutuhkan untuk tinggal secara layak semisal alas tidur. Begitu pula sebagaimana penjelasan Imam al-Ghazali di dalam Ihya‘u ‘Ulûmuddîn. Ketiga jenis kebutuhan pokok itu juga mencakup apa yang posisinya sama, misalnya sewa tempat bagi musafir yang tidak mampu melanjutkan perjalanan. Juga bukan hanya untuk kebutuhan pokok itu sendiri, tetapi juga mencakup pemenuhan kebutuhan pokok keluarga, anak, istri dan siapa saja yang ada dalam tanggungannya.

Islam juga menetapkan tiga kebutuhan dasar untuk umat yakni keamanan, kesehatan dan pendidikan. Ketiganya wajib terpenuhi untuk umat. Negara wajib menyediakan semua itu secara mencukupi untuk semua rakyat tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi.

Untuk pendidikan, Rasulullah saw. memberikan upah berupa kebebasan untuk 70 orang tawanan perang Badar, karena telah mengajar anak-anak muslim dalam membaca dan menulis. Untuk kesehatan, Rasulullah saw. mendapat hadiah dokter dari Muqauqis. Beliau menjadikannya sebagai dokter umum untuk rakyat Madinah saat itu.

Beliau juga melayani serombongan orang dari kabilah ‘Urainah yang baru masuk Islam lalu jatuh sakit di Madinah. Selaku pemimpin, beliau meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola oleh baitulmal di dekat Quba dan diperbolehkan minum air susunya sampai sembuh. Untuk keamanan, Rasulullah saw. sebagai pemimpin negara senantiasa memberikan jaminan keselamatan darah dan harta setiap warga negara baik muslim maupun nonmuslim.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan, kesehatan dan keamanan, kewajiban pemenuhannya di pundak negara. Tindakan Rasulullah saw. ini juga dilanjutkan oleh kepemimpinan kaum muslim selanjutnya pasca Rasulullah Saw wafat. Dianggap kezaliman, apabila kewajiban ini dilalaikan oleh negara dengan mengalihkan bebannya pada rakyat. Karena menyelisihi hukum syarak.

Rasulullah saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Karena pentingnya kebutuhan-kebutuhan pokok bagi individu dan umat maka Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tersedianya kebutuhan-kebutuhan ini menjadi seperti memperoleh dunia secara keseluruhan sebagai kiasan dari pentingnya kebutuhan-kebutuhan ini.

Beliau saw. bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ, مُعَافًى فِي جَسَدِهِ, عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ, فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Siapa saja di antara kalian yang bangun pagi dalam keadaan aman dalam hal diri dan keluarganya, sehat fisiknya dan ia mempunyai makanan harinya, maka seolah-olah ia mendapatkan dunia

(HR at-Tirmidzi).

Dalam Islam, kepedulian sosial adalah pilar utama yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mempererat ikatan persaudaraan (ukhuwah) dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Islam menumbuhkan sikap saling tolong menolong, adanya seruan untuk zakat, sedeqah, infak, dan sebagainya kepada tetangga dan sesamanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (Al-Mâidah 5:2)

Allah Azza wa Jalla telah  menghimpun ragam al-birru (kebaikan, kebajikan) dalam ayat berikut:

لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَىالْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa

(QS. Al-Baqarah:177)

Teladan Kepemimpinan dalam Islam

Rasulullah saw. dan para Khulafaur Rasyidin mencontohkan kepemimpinan penuh dengan empati. Mereka turun langsung, hidup setara, dan mendahulukan kebutuhan rakyat di atas kepentingan pribadi. Pemimpin sejati tidak membiarkan rakyatnya kelaparan atau kesusahan, melainkan menjadi pelayan umat yang siap memikul beban warganya.

Rasulullah saw. sangat peka terhadap penderitaan umat. Sifat ini diabadikan dalam surah At-Taubah ayat 128, di mana beliau sangat berat melihat umatnya tertimpa kesulitan. Rasulullah mendahulukan orang lain meski dalam berbagai riwayat, saat beliau sendiri dan keluarganya berada dalam kondisi sulit (bahkan kelaparan), beliau tetap mendahulukan untuk memberi makan dan membantu sahabat atau fakir miskin yang datang.

Demikian pula para sahabat seperti Khalifah Umar bin Khattab, dikenal turun langsung memantau rakyatnya. Suatu malam saat berpatroli, ia menemukan seorang ibu yang merebus batu demi menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Mengetahui hal tersebut, Umar segera pergi ke baitulmal (kas negara) dan memikul sendiri sekarung gandum untuk keluarga itu. Beliau bahkan bersumpah untuk tidak makan makanan enak selama rakyatnya masih dilanda kelaparan. Baginya: “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya.”

Dan juga keturunannya Umar bin Abdul Aziz di kenal sebagai khalifah yang hidup dalam kesederhanaan. Sang istri menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz menyerahkan seluruh raga dan jiwanya untuk rakyat, sehingga perhatiannya kepada umat jauh lebih besar daripada perhatian kepada urusan pribadinya sendiri.

Demikianlah ketika Islam di terapkan secara menyeluruh, maka kesejahteraan dan keadilan adalah sesuatu yang pasti di capai oleh seluruh umat karena seluruh kekayaan akan di kelola dengan sebaik-baiknya berdasarkan ketentuan Allah, pemimpinnya pun memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya bukan hanya di dunia tapi juga di hadapan Allah kelak.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Penulis: dr.hj. Sulistiawati, MAP

Aktivis Muslimah