Catatan.co – OPINI. Gen Z di Tengah Pusaran Kapitalisme. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup yang semakin cepat, generasi Z menghadapi tantangan finansial yang cukup besar. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan bahwa mereka belum merasa aman secara finansial menurut survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025.
(https://money.kompas.com/read/2026/05/17/163500026/deloitte-gen-z-dan-milenial-menunda-masa-depan-karena-tekanan-keuangan?page=all)
Biaya hidup yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang membuat Gen Z merasa tertekan secara finansial. Kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup membuat sebagian dari mereka terbebani oleh persoalan hidup mereka sendiri.
Di sisi lain, kemudahan berbelanja melalui platform digital juga dapat mendorong perilaku konsumtif. Promo, diskon, dan tren media sosial membuat keputusan pembelian menjadi semakin impulsif.
Arus Kapitalisme
Bagi sebagian Gen Z, membeli makanan favorit, pergi berlibur, menikmati kopi, merawat diri, atau membeli barang yang diinginkan bukan lagi sekadar bentuk kemewahan. Aktivitas tersebut dianggap sebagai cara untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah menghadapi rutinitas, tekanan pekerjaan, maupun tuntutan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap konsumsi. Pengeluaran tidak hanya dinilai berdasarkan manfaat fisiknya, tetapi juga berdasarkan nilai emosional yang diberikan.
Baca Juga: Menjaga Generasi
Tekanan ekonomi yang dirasakan Gen Z tidak dapat dilepaskan dari sistem kapitalisme. Di sinilah persoalan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari sistem yang membentuk cara manusia memandang kehidupan. Dalam perspektif kapitalisme, manusia ditempatkan dalam pusaran produksi dan konsumsi, mereka bekerja untuk mendapatkan penghasilan, lalu didorong untuk menghabiskan penghasilan tersebut demi mempertahankan pertumbuhan konsumsi.
Sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit Gen Z, di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Sedangkan negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri.
Gaya Hidup Hedonisme
Tekanan ekonomi itu juga diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai “solusi” pelarian. Dalam gaya hidup sekuler-liberal, kebahagiaan dimaknai sebagai pemenuhan kebebasan individu dan kepuasan material di dunia tanpa campur tangan nilai-nilai agama. Tolok ukur kebahagiaan bersifat kenikmatan materi sesaat semata.
Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Setiap hari generasi muda disuguhi gaya hidup yang tampak sempurna, seperti pakaian terbaru, gadget baru, tempat nongkrong populer, perjalanan wisata, hingga berbagai produk yang sedang viral. Algoritma membuat tren datang silih berganti dan menciptakan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, seseorang dapat terdorong membeli bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin merasa tidak tertinggal.
Islam Mengembalikan Tujuan Hidup
Akar dari masalah tersebut dikarenakan Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam.
Dalam perspektif Islam, kehidupan tidak berhenti pada pencapaian materi. Manusia memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan-Nya. Karena itu, ukuran kebahagiaan seorang Muslim semestinya tidak hanya didasarkan pada banyaknya harta atau kesenangan yang diperoleh, tetapi juga pada rida Allah, ketakwaan, kebermanfaatan bagi sesama, dan kemuliaan yang lahir dari ketaatan kepada Islam.
Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku”.
Artinya, keberadaan manusia memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar bekerja, mengonsumsi, mencari kesenangan, dan mengejar pengakuan manusia.
Peran Negara dalam Penerapan Islam
Sungguh, paradigma penguasa dan pembangunan sekuler kapitalistik telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Bahkan paradigma ini telah membajak potensi pemuda untuk kepentingan mengukuhkan penjajahan kapitalisme global, khususnya di dunia Islam.
Mereka hanya diarahkan menjadi sekrup mesin pemutar roda industri kapitalis, sekaligus menjadi objek pasar bagi produk yang dihasilkan. Fesyen, barang-barang konsumsi, produk hiburan dan permainan, semua dipropagandakan sebagai alat meraih kebahagiaan.
Hal ini sejalan dengan pengarusan produk pemikiran yang mengubah mindset kaum muda menjadi kian cinta dunia. Hingga pada saat yang sama hilanglah kecintaan akan agama dan perjuangan membangkitkan umatnya. Padahal, dalam konteks perang peradaban yang senyatanya sedang terus berjalan, kondisi ini tentu sangat diharapkan oleh musuh-musuh Islam.
Negara dalam hal ini seharusnya juga menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Semua ini hanya akan terwujud ketika aturan Islam diterapkan di setiap sendi-sendi kehidupan, termasuk dalam aturan bernegara. Melalui penerapan Islam yang menyeluruh tersebut, maka Islam akan menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam daulah Islam akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat.
Wallahu’alam bishawab.[]
Penulis: Ange Suci Septia S.Pd.I
Aktivis Muslimah




