Terungkap! Pupuk Kaltim Latih 55 Pengasuh TPA di Bontang Melalui Program TAMASYA

Terungkap! Pupuk Kaltim Latih 55 Pengasuh TPA di Bontang Melalui Program TAMASYA

Catatan.co, Bontang – Bagi seorang anak, tempat penitipan bukan hanya sekadar ruang untuk menunggu orang tua pulang kerja. Di sana harus ada rasa aman, nyaman, perhatian, dan pendampingan yang tepat.

Peran penting inilah yang diperkuat melalui pelatihan pengasuh TPA Bontang yang diadakan oleh PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).

Sebanyak 55 pengasuh dari 17 Tempat Penitipan Anak (TPA) se-Kota Bontang mengikuti pelatihan untuk peningkatan kompetensi selama dua hari penuh, pada 4-5 September 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dukungan penuh yang dilakukan oleh Pupuk Kaltim terhadap program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).

Pupuk Kaltim Dorong Pengasuhan Aman dan Berkualitas di Bontang

VP TJSL Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, menegaskan bahwa pelatihan penguatan kapasitas pengasuh ini adalah kunci untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang aman, nyaman, dan berkualitas.

Menurut Rezha, tugas pengasuh tidak hanya memastikan anak makan, bermain, dan aman secara fisik. Akan tetapi lebih dari itu, pengasuh harus memahami tumbuh kembang anak dengan baik dan benar.

“Pupuk Kaltim memandang anak merupakan bagian penting dari masa depan bangsa. Oleh karena itu, pemenuhan hak dan perlindungan anak harus menjadi perhatian kita bersama. Salah satu upayanya kami laksanakan melalui pelatihan TPA Bontang ini,” ujar Rezha.

Materi Pelatihan Pengasuh TPA Bontang Tidak Hanya Teori

Sebanyak 17 pengasuh TPA Bontang mengikuti pelatihan untuk memperkuat kemampuan tumbuh kembang anak
Sebanyak 17 pengasuh TPA Bontang mengikuti pelatihan untuk memperkuat kemampuan tumbuh kembang anak

Materi dalam pelatihan pengasuh TPA Bontangsengaja ini dirancang sangat mudah, praktis dan aplikatif.

Para peserta mendapat pembekalan tentang:

– Kebijakan dan sistem pencatatan serta pelaporan TAMASYA
– Manajemen emosi anak usia dini
– Komunikasi efektif tanpa bentakan
– Pertolongan pertama pada kondisi gawat darurat
– Layanan rujukan TAMASYA

Pelatihan ini juga menghadirkan empat narasumber dari Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, AHA! Montessori Bontang, Puskesmas Bontang Barat, dan DP3AKB Kota Bontang.

Jadi, bekal ini sangat penting dalam praktik sehari-hari. Misalnya, anak yang mudah menangis bukan selalu karena rewel. Akan tetapi anak yang tiba-tiba diam juga belum tentu baik-baik saja. Oleh karena respons dari pengasuh yang tepat tentu saja dapat menentukan apakah anak merasa didengar dan aman.

“Bekal pelatihan ini kami harap dapat diterapkan dalam aktivitas pengasuhan sehari-hari, sehingga kualitas layanan TPA semakin baik dan mampu memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan anak,” kata Rezha.

Ketika Orang Tua Bekerja, TPA Jadi Tempat yang Dipercaya

Bagi banyak keluarga di Bontang, keberadaan TPA sangat membantu aktivitas orang tua. Ketika ayah dan ibu harus bekerja, mereka butuh tempat penitipan yang bisa dipercaya.

Tempat tersebut tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga mampu memberikan stimulasi sesuai usia anak. Di titik inilah kualitas pelatihan pengasuh TPA Bontang menjadi sangat penting.

Pada kesempatan itu, Pupuk Kaltim juga menandatangani komitmen bersama dengan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Kaltim terkait sinergi pelaksanaan program TAMASYA di lingkungan perusahaan.

“Adanya lingkungan pengasuhan yang aman dan terpercaya, orang tua dapat menjalankan tanggung jawab dengan lebih tenang, sementara anak tetap mendapatkan perhatian, pendampingan, serta stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” jelas Rezha.

Pemerintah Butuh Kolaborasi Dunia Usaha

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, menyambut positif kolaborasi ini. Menurutnya, keterlibatan dunia usaha seperti Pupuk Kaltim menjadi kekuatan dalam menyukseskan program TAMASYA.

“Kolaborasi seperti ini sangat penting karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh dukungan dunia usaha dan seluruh stakeholders untuk memastikan program pengasuhan berjalan dengan baik sesuai yang kita harapkan bersama,” ungkap Sunarto.

Ia menilai bahwa pengasuhan anak usia dini adalah fondasi strategis pembangunan sumber daya manusia. Oleh karena itu, kompetensi pengasuh harus terus ditingkatkan dan bila perlu diadakan setiap tahun.

Sunarto juga mengingatkan bahwa setiap pengasuhan tidak bisa hanya dibebankan ke satu pihak saja. Pengasuh, orang tua, pengelola TPA, pemerintah, dan lingkungan harus sejalan secara bersamaan.

“Maka dari itu, kompetensi, pemahaman dan kemampuan dalam menerapkan pola pengasuhan yang tepat perlu terus ditingkatkan. Kami harap bekal pelatihan ini dapat diterapkan dalam pengasuhan sehari-hari,” tutupnya.