Orang Tua Tak Bisa Sendiri Melindungi Anak: Butuh Hadirnya Negara

Orang Tua Tak Bisa Sendiri Melindungi Anak: Butuh Hadirnya Negara

Catatan.co – OPINI. Orang Tua Tak Bisa Sendiri Melindungi Anak: Butuh Hadirnya Negara. Anak usia 8 tahun di Balikpapan diduga menjadi korban pencabulan saat mengikuti les di sebuah bimbingan belajar. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menuntut ilmu, justru berubah menjadi lokasi trauma. Wakil Wali Kota Balikpapan pun angkat bicara, meminta pengawasan anak diperkuat, termasuk dari keluarga. (https://share.google/7wHxqoGulwSI7Dvgt)

Kasus Berulang

Pertanyaannya cukupkah hanya dengan mengembalikan pengawasan pada orang tua?

Kasus pencabulan anak bukan kasus pertama dan tidak akan jadi yang terakhir jika sistemnya tidak diubah. Data Simfoni PPA mencatat hingga Juni 2025 ada 13.845 laporan kekerasan terhadap anak, dengan kekerasan seksual sebagai kasus tertinggi kedua.

KPAI mencatat pada 2024 saja ada 265 kasus kekerasan seksual, 7 diantaranya terjadi di satuan pendidikan. Yang lebih miris, pelakunya adalah orang terdekat. Data nasional menyebut 9% dilakukan ayah kandung, 8,2% ibu kandung, dan banyak lagi dilakukan guru, pengasuh, dan tetangga.

Survei Nasional SNPHAR 2024 bahkan menyebut 9 dari 100 anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan seksual. Pola ini membuktikan satu hal tidak ada tempat yang aman dalam sistem hari ini. Rumah, sekolah, bimbel, pesantren, semua bisa menjadi lokasi kejahatan. Modusnya pun beragam, dari iming-iming nilai, hadiah, hingga ancaman.

Mengapa hukum tidak memberi efek jera? Kita hidup dalam sistem sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka, akibatnya adalah pertama, ketakwaan individu lemah. Standar benar-salah bukan lagi halal-haram, tapi suka-suka. Ketika hawa nafsu jadi panglima, siapapun bisa menjadi predator, bahkan orang berpendidikan.

Kedua, pemicu syahwat dibiarkan. Konten porno bebas diakses anak SD sekalipun. Pergaulan bebas dinormalisasi atas nama kebebasan. Ketiga, sanksi lemah dan bisa didamaikan. Banyak kasus kekerasan seksual berakhir damai dengan uang. Padahal KPAI sendiri sudah mengingatkan bahwa perdamaian dalam kasus kekerasan seksual anak melanggar UU TPKS. Hukuman yang ringan tidak membuat calon pelaku takut.

Baca Juga: Ketika Energi Rakyat

Sistem pendidikan pun hanya fokus pada transfer materi dan nilai, bukan pembentukan kepribadian. Sekolah sibuk mengejar ranking, lupa membangun keimanan yang seharusnya menjadi rem utama. Orang tua memang tidak bisa sendiri. Anak menghabiskan 8 jam sehari di luar rumah. Bersosialisasi, sekolah, les, main. Tidak mungkin orang tua mengawasi 24 jam.

Anak butuh ekosistem yang aman. Butuh lingkungan masyarakat yang peduli dan amar ma’ruf nahi munkar. Butuh negara yang hadir bukan hanya saat viral, tapi dengan sistem pencegahan. Inilah yang hilang. Negara hari ini abai, menyerahkan perlindungan sepenuhnya pada orang tua, sementara di sisi lain negara membiarkan racun-racun yang merusak anak beredar bebas.

Bagaimana Islam Memberi Solusi?

Islam tidak menyerahkan perlindungan anak pada satu pihak. Islam membangun tiga pilar: pertama, pilar individu: Sejak dini ditanamkan akidah, rasa takut kepada Allah, dan aturan pergaulan yang jelas. Anak paham batasan aurat, paham cara berinteraksi. Calon pelaku pun tercegah karena iman. Kedua, pilar masyarakat. Masyarakatnya yang tidak cuek, ada kontrol sosial, saling menjaga, dan tidak permisif terhadap kemaksiatan. Ketiga, pilar negara inilah kunci utama.

Negara adalah raa’in (pengurus) dan junnah (perisai). Negara wajib menutup semua pintu yang mengantarkan pada pencabulan, memberantas pornografi, menerapkan sistem pendidikan yang bertujuan membentuk kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah). Dan negara menerapkan sanksi tegas yang berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa pelaku) dan zawajir (pencegah orang lain).

Jika tiga pilar ini tegak, barulah anak akan benar-benar terlindungi, aman dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Kasus di Balikpapan harus menjadi alarm. Tugas kita bukan hanya mengutuk pelaku, tapi mendakwahkan solusi hakiki agar kehidupan Islam kembali tegak. Karena tanpa Islam, orang tua selamanya akan berjuang sendirian.

Wallahualam.

Penulis: Emirza Erbayanthi, M.Pd

(Muslimah Bontang)