Catatan.co – Keteladanan Pemimpin dalam Islam. Di tengah kondisi masyarakat yang masih bergelut dengan naiknya harga kebutuhan dasar, lapangan pekerjaan sempit, dan berbagai persoalan ekonomi, publik justru disuguhi pemandangan yang mengiris hati. Beberapa pejabat yang sejatinya menjadi pelayan rakyat malah sibuk memamerkan kemewahan. Seperti pengadaan mobil dinas mewah, renovasi kantor dengan biaya fantastis, hingga gaya hidup hedon berlebihan seolah menjadi simbol kekuasaan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga menunjukkan adanya jarak yang makin jauh antara penguasa dengan rakyat. Padahal, jabatan itu adalah amanah yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan. Ketika anggaran negara yang berasal dari pajak rakyat digunakan untuk kepentingan gaya hidup, maka yang terluka bukan hanya keuangan negara tetapi juga rasa keadilan publik.
Polemik pembatalan pengadaan mobil dinas mewah senilai Rp8,49 miliar oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, terus menuai sorotan. Keputusan membatalkan kendaraan jenis Land Rover Range 3.0 LWB Autobiografi itu dinilai belum menjawab persoalan mendasar terkait transparansi proses penganggaran dan akuntabilitas pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Pengamat kebijakan public dari Universitas Mulawarman, Saipul Bahtiar, menilai sejak awal proses pengadaan mobil dinas tersebut sudah menyisakan tanda tanya. Menyoroti fakta bahwa kendaraan itu disebut telah melalui proses serah terima pada 20 November 2025 sebelum akhirnya dibatalkan. (http://regional.kompas.com/read/2026/03/03/180502378/mobil-dinas-rp-85-miliar-dikembalikan-gubernur-kaltim–pengamat-kok-seperti)
Di saat terjadi efisiensi anggaran dan sulitnya kehidupan masyarakat, bahkan di bulan ramadan ini gubernur justru ingin mobil mewah dengan alasan menjaga marwah. Padahal, masih banyak jalan rusak dan berbagai lukisan kemiskinan masyarakat tampak nyata. Terlihat tidak adanya korelasi antara daerah kaya SDAE (sumber daya alam dan energi) dengan keadaan masyarakatnya. Meskipun kabar terbaru dibatalkan karena respons masyarakat, tetapi terkesan populis otoriter.
Budaya Pejabat dalam Arus Kekuasaan
Budaya pamer dan pemborosan anggaran oleh pejabat menunjukkan adanya krisis moral dalam tata kelola kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi sarana pelayanan kepada masyarakat, justru berubah menjadi alat untuk menunjukan status dan privilege. Mobil dinas mewah, fasilitas berlebihan, serta berbagai pengeluaran yang tidak mendesak dan penting sering menjadi pembenaran dengan dalih “kebutuhan jabatan”.
Masalah ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan sistem pengelolaan kekuasaan yang lemah dalam pengawasan serta minimnya kesadaran bahwa jabatan adalah amanah. Dalam banyak kasus, anggaran negara diberlakukan seperti milik pribadi, yang bisa digunakan sesuka hati selama masih dalam kerangka formal aturan.
Sistem kapitalisme telah mengikis rasa sensitivitas kepemimpinan terhadap kesulitan yang dihadapi rakyatnya. Sistem ini juga mendegradasi keimanan para penguasa/pejabat negeri, sehingga mereka tidak takut akan amanah yang diemban dan terkesan berkuasa semaunya.
Baca Juga: Bantuan Pendidikan Asing
Sebaliknya, sejarah kepemimpinan Islam menunjukan teladan yang berbeda. Seorang pemimpin sejatinya justru dikenal dari kesederhanaannya. Pemimpin yang dekat dengan rakyat tidak akan merasa nyaman hidup dalam kemewahan di tengah kesulitan rakyatnya.
Ketika pejabat berlomba-lomba memamerkan kemewahan, kepercayaan publik terhadap pemerintah pun perlahan akan menghilang.
Lebih jauh lagi, pemborosan anggaran berarti akan mengurangi kesempatan untuk memperbaiki pelayanan publik. Dana yang seharusnya bisa digunakan untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, atau kesejahteraan masyarakat, justru habis untuk kebutuhan yang tidak esensial.
Pandangan Islam
Islam memandang kekuasaan bukan sebagai kehormatan pribadi, tetapi sebuah amanah yang berat. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kebijakan dan rupiah yang dikelola serta diluarkan. Pemimpin seharusnya menjadikan teladan pemimpin seperti Rasulullah dan khalifah sebagai salah satu roll model dalam kepemimpinan.
Sebagaimana hadis Rasulullah, “Sesungguhnya seorang pemimpin/imam itu laksana perisai,“
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain,
“Imam (penguasa) adalah mengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya,” (HR Muslim)
Ketika sistem Islam diterapkan dalam sebuah negara, maka akan sangat berbeda keadaannya. Peran negara sebagai periayah karena di dalam Islam. Pemimpin itu sebagai rain dan junnah yaitu pemimpin sebagai rain berfungsi sebagai penanggung jawab kesejahteraan dan pemeliharan rakyatnya, sementara junnah pemimpin menjadi pelindung rakyat dari kezaliman dan hal-hal berbahaya lainnya.
Miris. Di tengah keadaan negeri kaya sumber daya alam, tetapi tidak bisa membuat rakyatnya aman dan sejahtera.
Keteladanan Pemimpin
Dari sekian banyak pemimpin dalam Islam, salah satunya Umar bin Khattab, yang penuh dengan keteladan dan kesederhanaan kehidupannya. Di saat Abdullah, anaknya, mengajak berbincang masalah pribadi beliau mematikan lampu rumahnya dan mengatakan bahwa lampu ini adalah fasilitas negara yang diberikan kepadanya. Beliau merasa tidak layak menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
Pada saat yang lain, ketika utusan dari Persia datang ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar, utusan itu mencari-cari istana megah. Namun, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dapati bahwa Khalifah Umar dengan santainya sedang tidur sendirian di bawah pohon, hanya beralaskan tanah, dan tidak ditemani penjagaan yang ketat. Berikutnya makanan yang biasa dimakan oleh Khalifah Umar sering hanya roti kering dan minyak zaitun. Tak jarang beliau memakan roti kasar, sehingga perutnya berbunyi. Beliau juga setiap malam jarang tidur nyenyak karena memikirkan rakyatnya, selalu berkeliling mengontrol keadaan mereka. Beliau takut kalau ada dari rakyatnya yang kelaparan.
Kisah masyhur lain Khalifah Umar tentang jalan yang rusak yang dilewati seekor keledai tergelincir lalu jatuh ke jurang, hal ini membuat beliau menangis. Sang ajudan pun berkata “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?”. Dengan menahan marah beliau berkata, “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”
Ibrah dari kisah tersebut adalah jabatan bukan alasan untuk hidup berlebihan, kekayaan buka ukuran kemuliaan. Perlu diperhatikan berkaitan transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola uang negara.
Alangkah rindunya kita dengan hadirnya sosok keteladanan pemimpin dalam Islam. Yang selalu ada untuk rakyat, amanah, takut dosa, dicinta dan disayangi rakyatnya, selalu didoakan kebaikannnya, serta rakyat begitu membutuhkannya. Pemimpin yang hatinya selalu dekat dengan Allah dan tidak terpikat dengan keindahan dunia.
Wallahu a’lam bishawab.[]
Penulis: Rahmayanti
(Aktivis Muslimah)




