Catatan.co – Mengakhiri Arogansi Penjajah dengan Jihad. Hampir dua tahun, dunia tak berdaya mengakhiri kekejaman Israel. Lewat internet dan media sosial, dunia tahu apa yang tengah terjadi di Gaza adalah genosida. Dunia juga melihat, kebiadaban Israel dan kengerian di Gaza Palestina. Dunia tak bisa lagi dibodohi, sebab tak ada lagi batas informasi.
Klaim Israel dan para pendukungnya bahwa pemicu krisis kemanusiaan ini adalah Hamas, lewat operasi “Badai Al Aqsa” Oktober 2023 lalu jelas tertolak. Faktanya, penjajahan Israel di Palestina telah terjadi selama lebih dari tujuh dekade. Mereka merebut paksa tanah Palestina secara kejam.
Para pemimpin Arab bukan tak tahu kezaliman di depan matanya. Arogansi Israel yang di dukung AS dan negara-negara sekutunya kian nyata. Lantas, cukupkah mengakhiri semua ini hanya dengan bantuan makanan?
Saudara-saudara kita di Palestina memang dilanda kelaparan, tetapi bantuan makanan, obat-obatan dan logistik pun diblokade oleh Israel. Apakah cukup dengan seruan boikot? Sungguh, Palestina dan Gaza butuh bantuan nyata untuk mengakhiri penjajahan ini.
Matinya Logika dan Nurani Dunia
Aksi arogan belum lama ini diperlihatkan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Randy Fine yang menyerukan penggunaan bom nuklir terhadap wilayah Jalur Gaza. Sontak Hamas merespons dengan kecaman keras lewat pernyataan resmi. Dalam wawancara dengan Fox news Hamas menilai pernyataan politikus partai Republik ini bukan hanya kontroversial, tetapi juga kejahatan rasisme dan fasis. Begitulah isi kepala politisi AS, didominasi hasutan genosida atas rakyat Palestina.
(https://www.beritasatu.com/internasional/2890811/minta-gaza-dibom-nuklir-hamas-kecam-politisi-as)
Pernyataan tak etis ini, tidak sah secara hukum internasional, bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan (humaniter) dan agama. Ini juga merupakan penghinaan luar biasa terhadap umat Islam.
Selain itu, pernyataan Fine juga melanggar Konvensi Jenewa serta bertentangan dengan klaim AS sebagai negeri yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Sementara rekam jejak AS penuh darah dan kebohongan. Salah satunya, tahun 2006 dengan pongahnya AS “menghukum Irak” dengan menggempur negeri 1001 malam itu secara membabi buta atas tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal.
Kini, justru AS sendiri mempromosikan penggunaan senjata pemusnah massal bom nuklir untuk menghabisi 2 juta warga sipil yang tinggal di wilayah Gaza. Menurut Hamas, inilah sisi gelap para pendukung Israel. Namun, Hamas menegaskan bahwa meski menghadapi retorika brutal semacam ini, perjuangan Palestina tidak akan pernah goyah.
Tragedi Gaza menegaskan bahwa logika dan nurani manusia sudah mati. Ketika kita diam tak berdaya menyaksikan bayi-bayi mati terbakar, sungguh nurani serasa mati! Katanya, “Doa adalah upaya maksimal yang kita bisa lakukan“. Sungguh ucapan tak logis. Di manakah nurani mereka?
Naluri kasih sayang (gharizah na’u) pada sesama manusia yang pada hewan pun ada, telah hilang. Kemampuan berpikir (logika) dan gharizah adalah fitrah yang dimiliki semua spesies manusia. Tak perlu religius untuk bangkitnya nurani.
Ketika akal dan nurani tersentuh, bahkan seorang dokter asal Inggris nonmuslim pun mengatakan rumah sakit di Gaza bagaikan rumah jagal! Banyak relawan Barat di Gaza tersentuh jiwa dan imannya hingga memilih masuk Islam.
Umat Mulia dengan Daulah Islam
Al-Qur’an mengajarkan logika sekaligus nurani secara cerdas. Cukup logika sederhana saja, mengakhiri penjajahan adalah mengusir penjajah. Dengan kekuatan seimbang apple to apple.
Naluri hewan akan mempertahankan sarangnya bila ada yang merusak. Apalagi, manusia yang memiliki akal. Logika cerdas Al-Qur’an adalah kemampuannya dalam menyolusi setiap problem.
Beda antara cerdas dan pintar. Seseorang yang pintar hanya menguasai teori-teori, sementara orang cerdas mampu memberikan solusi. Al-Qur’an mengajarkan solusi tuntas mengakhiri penjajahan dan arogansi AS-Israel dengan jihad.
Jihad selama ini tak cukup dilakukan oleh Yaman, Libanon, apalagi Hamas saja. Namun, harus melibatkan negeri-negeri muslim di sekitar Palestina. Bukankah kekuatan militer negeri-negeri muslim sangat besar?
Pakistan sebagai muslim terbesar di dunia memiliki hulu ledak nuklir. Tentara muslim seluruh dunia kuat dari sisi kualitas dan kuantitas. Namun, siapa yang mengomandoi hal tersebut? Maka dari itu, butuh wadah untuk mempersatukan semua elemen kekuatan.
Mirisnya, pemimpin negeri muslim tak terdorong untuk menunjukkan pembelaan atas agamanya. Mereka tetap bergeming demi kekuasaannya. Padahal, Gaza sungguh telah dihancurkan.
Inilah bukti kuat pengkhianatan penguasa muslim di dunia. Mereka berpihak pada sistem yang tega membunuh bayi-bayi tak berdosa. Sistem kapitalisme sekuler jelas tidak layak memimpin dunia dan mengatur hidup manusia. Oleh karena itu, harus ada adidaya baru, yaitu sebuah ideologi yang kokoh, tiada lain adalah ideologi Islam dalam wadah daulah Islam dengan khalifah pemimpinnya.
Daulah Islam terbukti hampir 14 abad telah memimpin dunia. Hanya ideologi Islam yang menghormati nyawa manusia. Bahkan, dalam peperangan sekalipun Islam memerintahkan berlaku baik dan menjaga nyawa penduduk sipil serta fasilitas umum. Islam memliki aturan perang yang sangat luar biasa indahnya.
Penerapan Islam jelas menjaga kemuliaan manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Maka, kewajiban umat Islam berjuang menegakkan Islam secara kaffah di muka bumi. Berjuang bersama, mengikuti metode dakwah Rasulullah saw. Karena, kemuliaan hanya akan terwujud dengan menerapkan Islam secara kaffah oleh Daulah Islam.
“Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR. Muslim)
Wallahu a’lam bishawab.[]
Penulis: Rengganis Santika, STP (Aktivis Muslimah)




