Pelajar Doyan Tawuran, Cermin Kegagalan Pendidikan

Pelajar Doyan Tawuran, Cermin Kegagalan Pendidikan

Catatan.co – Pelajar Doyan Tawuran, Cermin Kegagalan Pendidikan. Belasan remaja diamankan Polsek Balikpapan Barat karena diduga akan melakukan tawuran. Rencana aksi tersebut adalah lanjutan kejadian sebelumnya yang mengakibatkan dua orang terluka. Peristiwa itu mendapat perhatian serius dari sekretaris Komisi IV DPRD Balikpapan yang menilai aksi tersebut tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pengawasan orang tua serta media sosial yang mendorong anak melakukan tindak kekerasan. Untuk itu, ia meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak, serta menanamkan pendidikan moral dan agama sejak dini. (Pusaranmedia, 20/01/2026)

https://pusaranmedia.com/read/45457/munculnya-fenomena-tawuran-remaja-dprd-balikpapan-tekankan-pendidikan-moral-dan-agama.

Tawuran di kalangan remaja sudah terjadi berulang kali. Banyak faktor yang saling berkaitan memicu remaja melakukan tindak kekerasan seperti tawuran, diantaranya emosi yang tidak stabil, keinginan untuk diakui, solidaritas kelompok, tekanan teman sebaya, rasa frustasi, provokasi media sosial, lemahnya pendidikan karakter di rumah dan sekolah, hingga sanksi yang tak menimbulkan efek jera.

Tawuran yang terjadi berulang kali menunjukkan langkah yang selama ini diambil tak cukup kuat mencegah tindakan ini terjadi. Tawuran bukan sekedar masalah rusaknya individu, tapi persoalan sistemik yang penyelesaiannya harus menyeluruh, melibatkan seluruh lapisan, mulai keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.

Sistem pendidikan sekuler ala kapitalis, telah gagal mencetak output generasi emas sebagaimana yang diidamkan. Jauh panggang daripada api, masyarakat kini diliputi kecemasan. Mau dibawa kemana generasi muda bangsa ini. Pelajar yang mestinya sibuk belajar, justru sibuk bertengkar, saling melukai hingga mempertaruhkan nyawa.

Tawuran hanya salah satu  dari banyaknya masalah di kalangan remaja. Menurut data Pusiknas RI sejak 1 Januari sampai 20 Februari 2025 lalu, terdapat 6.442 kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang melibatkan anak dan remaja, 17.241 perkara pencurian, 6.469 perkara narkoba, serta 6 perkara perkelahian antar pelajar dan mahasiswa. (Pusiknas, 21/02/2025)

Ratusan Anak Terlibat Tindak Kriminal sejak Awal Tahun 2025 | Pusiknas Bareskrim Polri https://share.google/Tsva4oBn6Qw3dzSRc

Pola tawuran pun kini bertransformasi mengikuti perkembangan digital. Tawuran direncanakan melalui Instagram, disiarkan langsung di Tiktok, bahkan disponsori oleh akun judi online. Fenomena ini bahkan mendapat julukan “Transformasi Kenakalan Remaja 2.0”. Motifnya pun bukan lagi perkara ekonomi, melainkan eksistensi diri. Tawuran dinilai sebagai bentuk ekspresi dan rekreasi bagi remaja-remaja yang mencari jati diri.

BRIN – BRIN Soroti Fenomena “Kenakalan Remaja 2.0” yang Bermigrasi ke Dunia Digital https://share.google/xYtgFDgmIx7urBgTU

Inilah potret buram sistem pendidikan, agama dinilai sebagai rutinitas ritual. Cukup mengatur di lingkup pribadi, tak boleh dibawa ke ruang publik. Pendidikan agama semakin terkikis, jam pertemuan tipis. Mapel agama menjadi teori tanpa makna.

Penanganan masalah tawuran tak cukup mengandalkan orang tua. Apalagi di bawah penerapan sistem kapitalis saat ini, kesulitan ekonomi cenderung membuat orang tua sibuk bekerja. Akhirnya, anak menjadi korban kesibukan. Tak terdidik, tak terurus, tak terarah. Padahal penanaman karakter harus dibangun kuat di tatanan keluarga.

Baca Juga: Pernikahan Dini Marak

Menyerahkan penuh pendidikan karakter pada sekolah tentu tak bijak. Peran sekolah terbatas di jam-jam aktif belajar. Di luar itu, anak bersinggungan dengan beragam karakter manusia. Peran guru terbatas. Apalagi dengan jumlah siswa ratusan dan tuntutan administratif. Kurikulum sebenarnya berubah-ubah, hanya saja nafasnya tetap sama, sekulerisme. Output difokuskan pada angka, bukan penanaman karakter dan nilai agama.

Segelintir masyarakat pun cenderung apatis. Bahkan tak jarang menormalisasi aksi tawuran, dengan dalih “kenakalan remaja” bagian dari proses pencarian jati diri. Ditambah derasnya arus digitalisasi, dorongan eksis semakin menjadi-jadi, akhirnya terjadilah tawuran, saling melukai.

Lalu bagaimanakah solusi tepat masalah ini?

Islam hadir mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Pembentukan karakter generasi, harus dimulai sejak dini,  di lingkup keluarga. Ayah dan ibu berperan menanamkan akidah yang kokoh dan pendidikan karakter sesuai fitrahnya. Karakter anak dibentuk melalui kebiasaan, keteladanan, dan pendidikan berbasis akidah serta akhlak mulia. Tidak hanya berfokus pada kecerdasan, tapi pembentukan iman dan adab.

Orang tua sebagai guru pertama harus memberikan teladan yang baik seperti jujur, disiplin dalam ibadah dan keseharian, amanah, sopan santun pada yang lebih tua, menyayangi sesama makhluk, empati dan tolong-menolong, hingga pengendalian ego dan emosi. Anak juga dididik meneladani Rasulullah dan para sahabat. Ketika anak berbuat salah orangtua juga harus menegurnya dengan adab. Sebaliknya ketika anak berbuat baik, orangtua tak boleh pelit memberikan pujian dan apresiasi. Ini penting untuk membangun kepercayaan diri anak bahwa eksistensinya di keluarga sangat berharga dan diakui.

Sekolah memegang peranan yang tak kalah penting. Anak menghabiskan banyak waktu di sekolah, bertemu circle baru yang sedikit banyak akan menentukan arah kehidupannya. Anak dibentuk karakternya melalui aturan, keteladanan, dan pembiasaan baik dari apa yang ia lihat, dengar, dan lakukan secara berulang di sekolah.

Guru dalam Islam menjadi figur yang sangat berpengaruh. Disiplin waktu, berbicara sopan, tak pilih kasih, dan cerdas. Tak hanya menguasai materi, guru harus mampu menghubungkankan materi dengan konsep tauhid. Agar anak mendapat gambaran utuh tentang ilmu, bahwa semua ilmu adalah ilmu dari Allah. Anak akan belajar sungguh-sungguh, menemukan makna dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Pendidikan Islam mengintegrasikan pendidikan karakter dalam semua mata pelajaran. Kurikulum disusun berlandaskan akidah Islam. Semua mata pelajaran terintegrasi dengan pembentukan karakter mulia dan akidah. Diampu oleh guru-guru profesional dan mumpuni di bidangnya.

Sistem pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek akademis saja, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter islami generasi muda. Islam juga menciptakan lingkungan yang mendukung, baik di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara, guna meningkatkan ketakwaan dan memotivasi produktivitas generasi muda ke arah yang positif sesuai dengan aturan Islam.

Kesuksesan sistem pendidikan Islam ini tak akan terwujud tanpa dukungan sistem lain. Sistem ekonomi misalnya, harus sejalan pula dengan Islam. Negara wajib menjamin kesejahteraan rakyat, memenuhi semua kebutuhan pokok sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dengan demikian, terwujud keluarga-keluarga yang sehat ekonomi, yang mampu memberikan perhatian lebih bagi anak-anaknya.

Kehidupan dunia maya juga harus dipantau dan diberi kontrol ketat. Konten-konten berbau kekerasan dan provokasi harus disetop. Bahasa-bahasa kasar, kotor, dan jorok di media sosial harus difilter. Seringkali tawuran terjadi akibat saling mencaci dan memaki di media sosial, berujung perkelahian di dunia nyata. Anak-anak pelaku tawuran sebenarnya memiliki energi lebih yang harus disalurkan. Bila perlu, aktivitas-aktivitas positif semakin digiatkan untuk mengalihkan perhatian mereka pada kegiatan positif.

Khatimah

Peran negara sangat besar untuk melahirkan generasi hebat yang mengarahkan potensinya untuk berkarya dalam kebaikan dan terlibat dalam perjuangan Islam. Negara tidak boleh lengah membiarkan masalah tawuran berlarut dan terjadi berulang. Dengan kembali pada aturan Islam, pemuda mampu menemukan jati dirinya. Insyaa Allah.

Wallahualam bishawab []

Penulis: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd

(Pendidik dan Aktivis Dakwah)