Catatan.co – Buaya Mengintai Warga, Tanda Alam Tak Aman. Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat pesisir di Bontang kembali diliputi rasa waswas. Ancaman kemunculan buaya semakin sering terjadi dan tidak lagi bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Apa yang dahulu hanya sesekali terdengar, kini berubah menjadi kekhawatiran harian bagi warga yang hidup berdampingan dengan sungai dan laut.
Pemerintah daerah bahkan menyebut situasi ini sudah memasuki tahap darurat. Sepanjang tahun 2025 saja tercatat sekitar 25 laporan kemunculan buaya di berbagai wilayah pesisir Bontang. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi peringatan keras bahwa hubungan antara manusia dan alam sedang tidak baik-baik saja.
Sumber: https://jurnalborneo.com/serangan-buaya-meningkat-pemkot-bontang-susun-langkah-penanganan/?utm_source=chatgpt.com
Ketika Buaya Mendekat ke Permukiman
Jamak kejadian menunjukkan betapa nyata ancaman ini. Di kawasan pesisir Tanjung Limau, seorang lansia bernama Sukiman (64) nyaris kehilangan nyawa ketika kakinya tiba-tiba disambar buaya saat mencari kerang di perairan dangkal. Buaya sepanjang sekitar dua meter menyerang secara mendadak ketika korban baru saja menurunkan kakinya ke air. Beruntung korban berhasil menarik diri dan selamat.
Peristiwa tragis kembali terjadi pada awal 2026 serangan buaya kembali memakan korban. Seorang anak berusia sekitar 11 tahun diserang buaya saat bermain di perairan dekat kapal di kawasan pesisir Bontang. Korban mengalami luka serius dan harus mendapatkan jahitan akibat gigitan reptil tersebut. https://nomorsatukaltim.disway.id/read/71334/kasus-serangan-meningkat-pemkot-bontang-siapkan-langkah-penanganan-ancaman-buaya
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bontang. Di berbagai wilayah Kalimantan Timur seperti Muara Badak hingga Kutai Timur juga dilaporkan kasus serangan buaya terhadap warga. Bahkan ada korban anak-anak yang meninggal dunia akibat diterkam saat berenang di sungai. Serangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar semakin meningkat.
Mengapa Buaya Semakin Sering Menyerang?
Secara alami, buaya bukanlah hewan yang secara aktif mencari manusia sebagai mangsa. Dalam kondisi habitat yang seimbang, mereka lebih banyak memangsa ikan, monyet, rusa, atau hewan lain yang hidup di sekitar sungai dan rawa.
Namun, para peneliti konservasi menjelaskan bahwa kerusakan habitat dan berkurangnya sumber pakan alami dapat mengubah perilaku buaya. Ketika mangsa alami berkurang akibat kerusakan ekosistem, buaya terdorong mendekati wilayah manusia untuk mencari makanan.
Hilangnya sumber pakan alami bagi hewan predator dan rusaknya habitat tak lepas dari sistem kapitalisme yang menaunginya. Hutan dan laut telah kehilangan fungsi akibat dieksploitasi oleh segelintir elit untuk meraup keuntungan tanpa peduli dampak yang ditimbulkannya.
Akibatnya, hutan mangrove menjadi rusak, laut dan sungai tercemar, populasi ikan menurun, wilayah rawa berubah menjadi permukiman. Dalam kondisi seperti ini, rantai makanan terganggu. Buaya yang kehilangan habitat dan sumber makanan akhirnya masuk ke wilayah manusia.
Secara biologis, buaya juga merupakan predator puncak yang sangat adaptif. Spesies seperti buaya muara (Crocodylus porosus) mampu hidup di sungai, rawa, bahkan laut. Mereka bisa menempuh jarak jauh untuk mencari wilayah baru ketika habitatnya terganggu.
Selain itu, seekor induk buaya mampu bertelur puluhan butir dalam satu musim, sehingga populasi dapat meningkat pesat jika tidak diimbangi dengan pengelolaan habitat yang baik.
Artinya, kemunculan buaya di pemukiman bukan semata karena sifat buas hewan tersebut, tetapi sering kali karena manusia yang lebih dahulu merusak keseimbangan alam.
Peringatan Keras
Meningkatnya serangan buaya seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah. Penanganan masalah ini tidak boleh hanya bersifat reaktif, yakni bergerak setelah korban jatuh. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah langkah-langkah preventif yang sistematis dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemetaan wilayah yang rawan kemunculan buaya, pemasangan rambu serta sistem peringatan bagi masyarakat, pengawasan terhadap habitat satwa, relokasi buaya yang berpotensi membahayakan, hingga edukasi kepada masyarakat pesisir agar lebih waspada dan memahami cara berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Islam memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi manusia, tetapi alam adalah amanah dari Allah yang harus dijaga keseimbangannya.
Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan alam bukan sekadar masalah ekologis, tetapi juga masalah moral dan spiritual.
Dalam Islam, manusia ditetapkan sebagai khalifah di bumi, yaitu pengelola yang bertugas menjaga keseimbangan alam bukan malah merusaknya.
Dalam banyak hadis, Rasulullah saw. melarang tindakan yang menyakiti hewan tanpa alasan yang benar. Islam mengajarkan bahwa setiap makhluk memiliki hak hidup dalam ekosistemnya.
Buaya dalam Perspektif Islam
Para ulama fikih membahas buaya dalam konteks hukum makanan. Sebagian ulama mengategorikannya sebagai hewan buas yang hidup di air dan darat sehingga hukumnya tidak halal dimakan, tetapi sebagai hewan ciptaan Allah yang harus dihormati keberadaannya. Dalam pandangan Islam, buaya bukanlah musuh manusia yang harus dimusnahkan, melainkan makhluk hidup yang memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam.
Oleh karenanya, keberadaan buaya sejatinya tidak dapat dipandang sebagai ancaman semata. Mereka adalah bagian dari ekosistem yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Persoalan justru muncul ketika manusia merusak habitat alami mereka hutan ditebang, kawasan mangrove dihancurkan, dan air tercemar sehingga satwa liar kehilangan ruang hidupnya. Dalam kondisi seperti itu, satwa-satwa tersebut akhirnya terpaksa mendekati wilayah pemukiman manusia.
Oleh sebab itulah, dibutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada keselamatan manusia, tetapi juga memiliki perhatian terhadap kelestarian alam serta perlindungan terhadap hewan dan satwa liar lainnya sebagai bagian dari amanah dalam menjaga bumi.
Baca Juga: Menakar Kembali Makna Toleransi
Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa keadilan dalam pemerintahan dapat membawa keberkahan bagi seluruh makhluk, termasuk hewan. Peristiwa ini bisa kita jumpai pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, diriwayatkan dalam sebuah kisah yang cukup terkenal. Seorang penggembala di daerah Karman melaporkan bahwa serigala tidak lagi menyerang domba-dombanya. Hewan buas tersebut hidup berdampingan secara damai dengan ternak.
Fenomena ini dipahami oleh masyarakat saat itu sebagai tanda keadilan pemimpin. Bahkan ada ungkapan terkenal:
“Jika serigala tidak menyerang, berarti pemimpinnya adil.”
Ungkapan ini tentu bukan sekadar kisah romantisme masa lalu, tetapi menunjukkan bahwa keadilan dan pengelolaan alam yang baik dapat menciptakan keseimbangan makhluk hidup dan kehidupan itu sendiri. Ketika manusia hidup dalam sistem yang adil dan tanpa eksploitatif terhadap alam, maka ekosistem pun akan lebih stabil. Sumber: https://alif.id/1bYg/keadilan-umar-bin-abdul-aziz
Islam Rahmat bagi Sekalian Alam
Islam bukan hanya rahmat bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk.
Allah Swt. berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Konsep rahmatan lil ‘alamin berarti mencakup seluruh ajaran Islam yang membawa kebaikan bagi manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan, dan seluruh ekosistem yang ada di bumi.
Dalam sistem Islam, pengelolaan sumber daya alam tidak boleh merusak keseimbangan lingkungan. Negara wajib memastikan bahwa eksploitasi alam tidak menyebabkan kerusakan ekosistem. Dengan mengacu prinsip ini, maka konflik antara manusia dan satwa liar dapat diminimalisir.
Semakin seringnya kemunculan buaya di Bontang semestinya menjadi bahan renungan sekaligus pembelajaran bagi pemerintah dan masyarakat. Kondisi ini mendorong perlunya upaya serius untuk mencari solusi atas persoalan tersebut, terutama bagaimana mengusir buaya agar tidak lagi bercokol di kawasan permukiman yang membahayakan keselamatan warga. Pada dasarnya, buaya seharusnya hidup di habitat alaminya di alam bebas, bukan berada di lingkungan tempat tinggal manusia.
Khatimah
Sesungguhnya satwa liar tidak akan terusik apabila hutan tidak ditebang, kawasan mangrove tidak dirusak, dan air tidak tercemar. Namun kenyataannya, ketika habitat mereka dirusak oleh tangan-tangan serakah oligarki maka ruang hidupnya menyempit, satwa liar pun kehilangan tempat tinggal. Pada akhirnya, mereka terpaksa menyasar ke wilayah pemukiman warga. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat pun perlahan mulai kehilangan rasa aman di lingkungannya sendiri.
Oleh karena itu, menjaga kelestarian alam sejatinya bukan sekadar program lingkungan semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral semua manusia sebagai khalifah di muka bumi terlebih pemimpin. Ia bertanggung jawab akan keselamatan warganya.
Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan, maka keseimbangan alam akan terpelihara dengan baik. Pada saat itulah manusia benar-benar dapat merasakan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bishawab []
Penulis: Mimy Muthmainnah
(Pegiat Literasi)




