Grooming Growth yang Menjerat Anak

Grooming Growth yang Menjerat Anak

Catatan.co – Grooming Growth yang Menjerat Anak. Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan sebuah tulisan memoar yang kemudian dibukukan oleh seorang artis Indonesia. Artis tersebut diduga mengalami child grooming sewaktu muda. Sang artis membagikan pengalamannya menjadi korban manipulasi saat masih remaja dan ingin banyak orang mengambil pelajaran dari kisahnya. Akan tetapi, apa sebenarnya child grooming itu?

Manipulatif Tipe Child Grooming

Dilansir dari laman Alodokter.com, istilah child grooming merujuk manipulasi yang dilakukan seseorang pada seorang anak untuk menuruti kemauannya. Tidak seperti istilahnya yang terlihat glow up, lebih jauh, child grooming bahkan dekat dengan pemanfaatan anak untuk kepuasan seksual. Modusnya, bisa terjadi secara online dan lebih sering terjadi nyata alias sosial. Pendekatannya pun tidak secara tiba-tiba, melainkan perlahan dan bertahap hingga sang anak merasa nyaman dan tidak sadar sudah masuk dalam perangkap.

(https://www.alodokter.com/child-grooming-modus-pelecehan-anak-yang-jarang-disadari)

Lantas kenapa disebut grooming? Dalam bahasa, grooming artinya ‘merapikan’, ‘menata’ atau ‘menyiapkan’. Ini karena si pelaku betul-betul serius telah menetapkan target untuk kemudian dicari celah pendekatan hingga akhirnya bisa menjerat si anak.

Urgensi Kehati-hatian

Grooming bisa terjadi di lingkungan mana pun. Tidak peduli di sekolah, tempat bermain, lokasi kerja, atau bahkan keluarga sendiri. Karena itu, setidaknya anak harus tahu modus-modus di bawah ini agar menjadi lampu merah untuk tidak mendekati para pelaku child grooming, di antaranya:

Pertama, memberi hadiah. Siapa yang tidak suka diberi hadiah? Apalagi, untuk ukuran anak-anak dan remaja. Memberi hadiah sama dengan memberi perhatian. Jika anak di rumah atau di keluarganya tidak mendapatkan kasih sayang, bisa jadi dia akan mencari pada orang lain. Hati-hati dengan yang pertama ini.

Kedua, kata-kata manis. Dikasih hadiah apalagi mendapat kayak penyemangat atau kasih sayang seperti, “Aku yang paling mengerti kamu“. Atau “Tenang, ada aku“. Memberi harapan besar pada si anak untuk makin bergantian pada si pelaku.

Ketiga, membangun rahasia. Hubungan yang terjalin dari hadiah dan kata-kata manis sangat memungkinkan anak sudah menaruh harap dan percaya sepenuhnya pada pelaku. Karena itu, setelahnya dia akan sangat senang jika menjalin hubungan lebih, tapi merahasiakannya dari orang lain.

Anak-anak suka rahasia, karena itu berarti dia jadi orang spesial yang hanya tahu sendiri. Jika sudah begini, anak akan masuk makin dalam dengan perangkap pelaku.

Setelah semua modus di atas, pelaku akan meminta ‘bayaran’ atas semua perhatian yang telah dia berikan pada si anak. Di mana si anak diyakinkan tidak akan mendapatkannya dari siapa pun selain dia. Pelaku bisa langsung masuk ke tahap paling kontroversi, yakni menuruti semua keinginan si pelaku, termasuk jika itu berarti dia harus merelakan kesuciannya demi sang pelaku saja.

Baca  Juga: Panic Buying BBM

Biasanya, para anak yang menjadi korban tidak memiliki pilihan karena terlalu struggle dengan seluruh masalahnya. Lebih jauh lagi, mereka kerap mendapat ancaman jika tidak menurut. Di sinilah anak benar-benar tidak bisa lepas dari jaring laba-laba.

Akar Masalah

Ini mungkin kasus paling menyakitkan yang hanya terungkap satu. Namun, kasus lain bisa jadi lebih banyak daripada yang terlihat. Hubungan toxic ini terjadi sebab pelaku merasa memiliki power dan tidak punya tsaqofah atau pemahaman soal perlindungan, penghargaan pada orang lain, apalagi pada anak yang belum terlalu banyak mengerti dan harus dibimbing.

Selain itu, maraknya konten-konten dewasa telah memberi stimulus bagi seseorang untuk menjadi ‘pelaku’. Konten-konten pornografi yang masih banyak bermunculan di Indonesia selalu tidak memberi dampak positif bagi seseorang. Parahnya, dia malah menjadikan seorang anak sebagai pelampiasan. Ditambah lagi, tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk membatasi pergaulan sosial yang dibiarkan bebas sebebas-bebasnya.

Ya, seorang anak seharusnya bisa dibimbing dengan baik, bukan dimanfaatkan sisi kepolosannya. Di negara sekuler liberal ini, nafsu seakan diberi ruang karena ada istilah ‘suka sama suka’. Padahal, jelas jauh dari syari’at.

Bangun Pola Pikir Bersih dengan Islam

Perlu ditegaskan bahwa kasus ini harus diusut tuntas dan bukan dibiarkan. Anak diberi ruang komunikasi yang adil dan non-diskriminasi untuk bercerita sebagai korban yang sangat dirugikan.

Pola sikap kita selalu lahir dari pola pikir kita. Karena itu, negara hendaknya mengimbau agar sekolah dan masyarakat menanamkan tsaqofah Islam seperti batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang tidak sebebas itu.

Laki-laki dan perempuan diperbolehkan berinteraksi, jika ada sesuatu yang sangat penting seperti dalam kesehatan, pendidikan, dan muamalah. Dianjurkan untuk menghindari perbincangan hangat dan lebih jauh ke curhat yang bisa menimbulkan perasaan lain. Namun, jika ada niat untuk ke pernikahan maka diizinkan untuk mengajak mahram agar lebih mengenal satu sama lain, bukan dimanipulasi.

Katakanlah kepada laki laki dari kaum beriman agar menjaga pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian lebih baik bagi mereka. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

(QS Surat An-Nur 30)

Ayat di atas tidak hanya berlaku untuk laki-laki saja. Namun, untuk perempuan yang berinteraksi sosial.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430)

Hadis ini memang sangat familiar bagi kita. Namun, kebanyakan hanya menganggap angin lalu. Padahal, ini aturan jelas untuk mencegah hal-hal buruk terjadi antara laki-laki dan perempuan.

Untuk orang tua, hendaknya menaruh perhatian lebih pada anak, agar anak tidak bergantung pada orang asing yang kita tidak tahu niatnya. Bisa jadi, awalnya terlihat baik, tapi ujungnya ada udang di balik batu.

Negara juga menetapkan sanksi tegas pada pedofil dan manipulator ini. Dengan sanksi tegas, akan tercipta keadilan yang melindungi rasa aman si korban. Negara juga harus menutup akses ke konten-konten pornografi.

Child grooming bukan sekadar teori. Ia lahir dari pola pikir yang salah dan kesempatan yang terbuka. Karena itu, sistem yang baik akan membantu membuat lingkungan juga baik, termasuk tidak adanya kasus-kasus pemanfaatan anak di bawah umur seperti ini.

Wallahu ‘alam bishawab.[]

Penulis: Dwi Nanda

(Aktivis Muslimah)