Tragedi Mandala: Ironi Kemiskinan di Negeri Kaya

Tragedi Mandala: Ironi Kemiskinan di Negeri Kaya

Catatan.co – Tragedi Mandala: Ironi Kemiskinan di Negeri Kaya. Di tengah gemerlapnya kekayaan tambang dan megahnya proyek-proyek besar di Kalimantan Timur, tersiar kabar pilu yang menusuk hati. Seorang anak bernama Mandala dikabarkan meninggal dalam kondisi memprihatinkan. Keluarganya tak mampu membelikan sepatu baru sehingga ia bersekolah menggunakan sepatu yang sudah sempit dan rusak dalam waktu yang lama.

Inilah kisah pilu Mandala Rizky, seorang pelajar SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, yang meninggal akibat mengalami peradangan di kaki setelah memakai sepatu kekecilan dalam waktu yang cukup lama. Ratna Sari, ibu korban, sangat terpukul atas kepergian Mandala pada Jumat, 24 April 2026 lalu. Faktor ekonomi membuat ibunya tak mampu membelikan sepatu baru. (http://www.kompas.tv/amp/regional/667524/kronologi-siswa-smk-di-samarinda-meninggal-gara-gara-sepatu-kekecilan-hingga-respons-dpr-ri)

Meskipun belum jelas penyebab pastinya kematian Mandala, fakta tentang sepatu kekecilan yang dipakai Mandala benar adanya. Kondisi menyedihkan lain adalah Mandala tidak pernah di rawat di fasilitas kesehatan dikarenakan terkendala biaya maupun menjangkau akses.

Ironi di Negeri Kaya

Ironis. Daerah penghasil kekayaan alam bernilai triliunan rupiah, tetapi masih menyisakan tangisan anak-anak miskin yang bahkan kesulitan mendapatkan kebutuhan sekolah sederhana, yaitu sepatu. Kasus ini bukan sekadar kisah sedih tentang sepatu. Hal ini merupakan tamparan keras bagi sistem saat ini yang membiarkan kekayaan alam berlimpah diberikan kepada korporasi, tetapi gagal menjamin kehidupan yang layak bagi rakyatnya sendiri.

Seorang anak harus menahan sakit demi tetap bersekolah hingga kehilangan nyawa. Ini berarti bukan hanya kematian satu anak, melainkan rasa kemanusiaan dan tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.

Kekayaan alam berlimpah, tetapi miskin kepedulian kasus Mandala menunjukkan kenyataan pahit bahwa kekayaan daerah tidak otomatis membuat rakyat sejahtera.

Tambang batu bara, migas, dan berbagai investasi besar terus berjalan. Sayangnya, masih ada keluarga yang tidak mampu untuk membeli sepatu sekolah anaknya. Hal ini menandakan adanya ketimpangan yang sangat dalam antara penguasa dan rakyat.

Jika kita lihat, penguasa saat ini sering kali pamer bergelimang harta dengan berbagai fasilitas mewah. Tidak ada rasa empati dengan keadaan rakyat yang berjuang untuk bertahan dalam kehidupan yang makin tak menentu. Harga-harga barang pokok makin merangkak naik, fasilitas kesehatan kian tak terjangkau, hingga mahalnya pendidikan, makin membuat sakit hati masyarakat.

Buah Sistem Kapitalisme

Hari ini pembangunan sering diukur dari megahnya gedung bertingkat, investasi besar, dan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, kesejahteraan rakyat justru tertinggal. Anggaran bisa habis untuk proyek mercusuar, perjalanan dinas pejabat, sampai fasilitas mewah, sementara kebutuhan dasar rakyat kerap dianggap urusan pribadi rakyat. Di mana mereka harus berjuang sendiri untuk mendapatkannnya tanpa ada keterlibatan penguasa.

Baca Juga: PSEL Mampukah Menyolusi

Inilah dampak dari sistem kapitalisme yang menjadikan negara lebih sibuk mengatur bisnis ketimbang mengatur rakyatnya. Kekayaan alam banyak dikuasai korporasi, sementara rakyat hanya mendapatkan sisanya. Pendidikan memang ”gratis”, maksudnya tidak bayar SPP tiap bulannya, tetapi realitasnya seragam, sepatu, buku, transportasi, dan kebutuhan lainnya tetap menjadi beban bagi keluarga tak mampu.

Ironisnya, kasus seperti ini hanya akan mendapat perhatian setelah diviralkan atau ada korban jiwa. Artinya, negara bekerja bukan lantaran ada amanah, tetapi adanya tekanan opini dari publik. Padahal, seorang anak tidak seharusnya menanggung beban kemiskinan sendirian. Anak-anak sejatinya harus tumbuh dengan rasa bahagia, aman, dihargai, dan terpenuhi segala kebutuhannyq agar bisa belajar dengan baik.

Solusi Islam

Di dalam Islam, negara adalah pengurus bukan penonton. Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyat. Hal ini seperti dinyatakan dalam hadis Rasulullah, “Imam (penguasa) adalah mengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim)

Islam mengatur bahwa kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan wajib dijamin negara secara nyata di lapangan, bukan hanya laporan tertulis di atas kertas. Negara tidak boleh membiarkan ada anak yang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan hanya karena miskin. Apalagi, sampai kehilangan nyawa karena ketidakmampuan ekonomi.

Berdasarkan hadis Rasulullah, “Kaum muslimin berserikat dalam 3 hal, yaitu air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)

Artinya, kekayaan dan sumber daya alam adalah milik umum/rakyat. Tidak boleh dikuasai oleh satu orang atau sekelompok orang. Minyak bumi, hutan, batu bara, gas alam, adalah milik umum yang harus dikelola negara, hasilnya dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyat, bukan diserahkan untuk investasi asing atau ke oligarki.

Jika pengelolaan kekayan alam ini dilakukan sesuai dengan syariat Islam, maka hasilnya dapat digunakan untuk pendidikan gratis dan berkualitas. Bisa memenuhi kelengkapan sekolah anak yang tidak mampu, menjamin kebutuhan pokok keluarga lemah, serta menciptakan kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat. Di dalam Islam kalau ada pemimpin yang lalai terhadap penderitan rakyatnya, maka akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Negeri ini bukan kekurangan harta, tapi kehilangan rasa keberpihakan kepada rakyat kecil. Islam membawa solusi yang menempatkan penguasa sebagai pelayan umat. Tidak ada lagi rakyat yang menderita kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan. Oleh karena itu, betapa indahnya sistem Islam jika kembali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis: Rahmayanti, S.Pd

Aktivis Muslimah