Penanganan Stunting harus Sistemis

Penanganan Stunting harus Sistemis

Catatan.coOPINI. Penanganan Stunting Harus Sistemis. Pemerintah Kota Bontang resmi membuka pelaksanaan Operasi Timbang Serentak Tahun 2026 yang menyasar 9.840 balita. Kegiatan ini diharapkan dapat memetakan data status gizi anak demi menyusun intervensi lanjutan guna menekan angka stunting. Namun, di tengah optimisme penanganan program ini, Wali Kota Bontang justru menyoroti fakta yang getir: capaian penurunan stunting belum menunjukkan hasil yang signifikan. Salah satu ganjalan utamanya adalah masih tingginya angka bayi yang lahir langsung dalam kondisi stunting.

Sungguh sebuah ironi yang mendalam. Bontang dikenal luas sebagai kota industri yang kaya, namun kekayaan daerah ternyata tidak otomatis menjamin anak-anaknya merdeka dari ancaman gagal tumbuh. Mengapa masalah ini terus berulang dan polanya merata di berbagai daerah?

Sumber: https://radarbontang.com/pemkot-gelar-operasi-timbang-serentak-2026-sasar-9-840-balita/

Ilusi Angka dan Kegagalan Program

Sebelumnya, data stunting (2025) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan yang tersebar di beberapa kelurahan di Bontang diperoleh sebanyak 1.219 balita masuk kategori prevalensi stunting. Bahkan, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menuturkan penanganan stunting menjadi persoalan sangat serius.

Sumber: https://dinkes.bontangkota.go.id/akselerasi-penurunan-stunting-wali-kota-bontang-buka-operasi-timbang-serentak-dan-tinjau-langsung-ke-posyandu

Menariknya, kondisi ini tetap terjadi bahkan setelah pemerintah menggulirkan program berskala masif seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Harapan bahwa MBG akan menjadi peluru kendali yang langsung menuntaskan stunting ternyata meleset. Program tersebut terbukti tidak berhasil menyelesaikan persoalan dari hulu.

Baca Juga: Fragmentasi Geopolitik

Mengapa? Karena penanganan stunting di Bontang dan Indonesia secara umum bukanlah sekadar masalah teknis “kurang makan” atau “salah menu”. Ada akar masalah yang jauh lebih besar dan bersifat sistemis. Di antaranya:

Pertama, fakta bayi lahir stunting erat kaitannya dengan tingginya angka dispensasi nikah akibat kehamilan di luar nikah (hamil duluan). Remaja yang belum matang secara fisik, mental, dan ekonomi dipaksa menjadi orang tua. Kondisi ini lahir dari sistem pergaulan yang bebas, yang berakar dari paham liberalisme-sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Ketika standar moral dikesampingkan atas nama kebebasan, dampaknya konkret merusak kualitas generasi sejak dalam kandungan.

Kedua, ada andil besar dari sistem ekonomi kapitalisme sekuler. Sistem ini membiarkan kekayaan alam dikuasai segelintir elite dan korporasi, sementara masyarakat umum harus berjuang keras di tengah tingginya biaya hidup. Alhasil, akses terhadap pangan bergizi berkualitas dan layanan kesehatan yang layak menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh keluarga miskin.

Biar dikata pemerintah melakukan intervensi lintas sektor atau membagikan makanan gratis, semua itu hanyalah seumpama obat pereda nyeri sesaat. Program-program tersebut tidak pernah menyentuh akar masalah yang sebenarnya, yaitu sistem ekonomi kapitalistik yang memiskinkan rakyat dan sistem sosial sekuler yang merusak moral. Jadi, selama akar kapitalisme ini dipelihara, stunting mustahil bisa dituntaskan.

Solusi Totalitas dan Sistemis

Berbeda fundamental dengan sistem kapitalisme yang sarat tambal sulam, Islam memandang penanganan generasi sebagai kewajiban asasi negara yang bersifat sistemis. Di dalam Islam, pemimpin politik (Khalifah) diposisikan sebagai raa’in (penggembala/penanggung jawab).

Rasulullah saw. bersabda:

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Sebagai pengurus rakyat, Islam memiliki mekanisme komprehensif untuk memastikan melahirkan generasi yang sehat fisik, bertakwa, dan cerdas:

Sistem Ekonomi Berbasis Kepemilikan Umum

Islam melarang privatisasi kekayaan alam seperti tambang dan gas yang melimpah di Bontang. Hasil pengelolaan kekayaan alam dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk jaminan kebutuhan publik atau bantuan langsung. Negara wajib memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan yang layak agar mampu menyediakan pangan bergizi bagi keluarganya secara mandiri, bukan bergantung pada bansos.

Sistem Pendidikan Pranikah dan Parenting

Kurikulum Islam mendidik individu sejak dini untuk siap menjadi orang tua yang bertakwa dan paham sains kesehatan. Remaja disiapkan secara mental dan spiritual, sehingga pernikahan didasari oleh kesiapan, bukan pelarian akibat pergaulan bebas.

Sistem Sosial (Pergaulan) yang Terjaga

Islam menutup rapat celah liberalisme. Pergaulan laki-laki dan perempuan diatur ketat, pornografi diberantas, dan sanksi hukum (uqubat) ditegakkan secara tegas bagi pelaku kemaksiatan. Hasilnya, tidak ada ruang bagi maraknya “hamil duluan” yang menjadi salah satu hulu stunting.

Sistem Kesehatan Berkualitas dan Gratis

Fasilitas kesehatan, pemantauan gizi ibu hamil, dan pemenuhan nutrisi balita disediakan oleh negara secara gratis dan berkualitas tinggi karena akses kesehatan adalah hak komunal masyarakat.

Menjaga Kualitas Fisik dan Keimanan

Islam tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik (bebas stunting), melainkan juga kualitas kepribadian dan keimanan. Generasi yang ideal dalam Islam adalah yang kuat jasadnya sekaligus kokoh takwanya.

Allah Swt. berfirman:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…” (QS. An-Nisa: 9).

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di masa lalu berhasil melahirkan generasi emas karena ditopang oleh support system yang sahih ini. Kita mengenal ilmuwan sekaligus dokter luar biasa seperti Ibnu Sina (Avicenna) atau panglima militer tangguh seperti Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia muda. Mereka adalah produk nyata dari sistem kehidupan yang menyeimbangkan kesejahteraan materi dengan kematangan ideologis.

Khatimah

Operasi Timbang Serentak di Kota Bontang tahun 2026 menunjukkan fakta bahwa pendekatan teknis ala kapitalis telah menemui jalan buntu. Angka stunting yang tak kunjung turun secara signifikan adalah tanda bahwa kita sedang mengobati gejala, bukan penyakitnya.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa menyelamatkan 9.840 balita di Bontang dan jutaan anak lainnya di Indonesia membutuhkan perubahan paradigma. Kita harus beralih dari solusi pragmatis-kapitalistik menuju solusi sistemis-ideologis yang ditawarkan oleh Islam. Tanpa itu, jaminan masa depan generasi yang sehat dan kuat hanya akan tetap menjadi retorika di atas kertas.

Wallahualam bishawab []

Penulis: Mimi Muthmainnah

Pegiat Literasi