Catatan.co – Gaza Butuh Kebebasan Hakiki Bukan Two-State Solution. Hidup di Gaza hari ini bukan sekadar berat, tapi benar-benar penuh penderitaan. Rumah hancur, keluarga tercerai-berai, listrik dan air terbatas, hingga obat-obatan pun tak cukup. Dunia bisa melihat semua ini, tapi solusi yang selalu diulang oleh para pemimpin dunia adalah two-state solution. Seolah-olah itu satu-satunya jalan yang bisa menenangkan semua pihak. Padahal, solusi dua negara bukan obat mujarab.
Kenyataannya, Palestina sudah puluhan tahun dijajah. Sejak 1948 (Nakba) dan makin parah sejak 1967, rakyat Gaza terus kehilangan tanah sedikit demi sedikit. Pemukiman ilegal makin luas, akses wilayah makin sempit, dan kedaulatan Palestina makin terkikis. Bahkan, laporan PBB terbaru menyebut ada banyak perusahaan besar yang ikut ambil bagian dalam proyek pemukiman ilegal. (https://internasional.kontan.co.id/news/pbb-menilai-158-perusahaan-beroperasi-di-israel-dinilai-ilegal?utm_source=chatgpt.com)
Penjajahan Global
Penjajahan ini bukan sekadar soal politik, tapi sudah jadi sistem global yang menguntungkan banyak pihak. Lantas, apakah solusi dua negara bisa menyelesaikan akar masalah ini? Sulit rasanya. Karena jika Palestina diakui sebagai negara, tapi tanahnya sudah terpotong-potong, lautnya dibatasi, udaranya dikontrol, dan ekonominya tergantung penuh, maka apa gunanya pengakuan itu?
Nyatanya, pengakuan tersebut meniscayakan negara hanya di atas kertas, tapi tidak benar-benar berdaulat. Itulah sebabnya banyak orang menyebutnya ilusi, karena tidak menyentuh akar masalah, yaitu adanya penjajahan yang masih berlangsung.
Allah mengingatkan kita tentang larangan tunduk pada penjajah yang merampas hak-hak manusia:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)
Bantuan kemanusiaan memang sangat penting, dan sudah banyak dikirimkan. Akan tetapi faktanya bantuan itu, hanya bisa menahan lapar sesaat, dan mengobati luka sementara. Selama penjajahan terus berjalan, penderitaan akan kembali lagi.
Gaza Butuh Kebebasan Hakiki
Bukan sekadar belas kasihan, akan tetapi Gaza butuh butuh kebebasan hakiki. Masalahnya, sampai hari ini, tidak ada negara yang benar-benar berani menekan Israel habis-habisan. Hampir semua negara punya hubungan dagang, politik, atau keamanan dengannya. Akibatnya, tidak ada yang serius mengambil langkah berani.
Baca Juga: Gaza Trump dan Sumud Flotilla
Dukungan dunia muslim pun hanya berhenti pada pernyataan, doa, dan bantuan sementara. Lantas, apa jalan keluarnya? Yang dibutuhkan Gaza adalah sebuah kekuatan politik baru yang mampu memimpin dan melindungi kaum tertindas, bukan sekadar jadi penonton.
Allah menjanjikan kemenangan bagi kaum yang beriman dan berjuang di jalan-Nya, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)
Negara Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunah, jika hadir, bisa jadi jawaban. Negara Islam adalah negara yang menegakkan keadilan, melindungi rakyatnya, dan berani menantang penjajahan dengan cara yang sah.
Negara seperti itu tidak hanya akan memperjuangkan Palestina, tapi juga membawa keadilan bagi umat manusia secara luas.
Khatimah
Sejarah menunjukkan, ketika hukum Allah ditegakkan, tidak hanya kaum muslim, bahkan nonmuslim pun hidup dalam keadilan. Allah pun menegaskan janji-Nya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)
Karena itu, jalan menuju kebebasan Palestina bukanlah sekadar menunggu two-state solution yang tak kunjung nyata. Jalan itu ada pada keberanian untuk menghapus penjajahan, membangun solidaritas yang sungguh-sungguh, dan menghadirkan kekuatan politik Islam yang mampu berdiri tegak menentang kezaliman. Inilah yang bisa membawa kepada kemerdekaan sejati, bukan hanya bagi Palestina, tapi juga bagi dunia.
Wallahualam bishawab. []
Penulis: Riska Amaliah
Aktivis Muslimah




