CATATAN.CO, TENGGARONG – Bahasa Kutai bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara. Namun, arus globalisasi dan dominasi bahasa Indonesia membuat penggunaan bahasa Kutai kian menurun, bahkan di lingkungan keluarga.
Menjawab tantangan ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar menggelar Bincang Buku Antologi Puisi di Taman Titik Nol Tenggarong, Rabu (6/8) malam. Acara ini menghadirkan kolaborasi dengan Komunitas Talent Kesah Rupa (Takeru) dan Gerakan Literasi Kutai (GLK), menghadirkan suasana literasi yang hangat dan inklusif.
Dua karya sastra putra daerah menjadi sorotan, yakni “Begenjoh” karya Sukardi Wahyudi dan “Maharagu” karya Khalis Abniswarin. Bedah buku ini turut menghadirkan dua sosok pegiat literasi dan budaya, Dedi Nala Arung dan Chai Siswandi, yang membedah makna karya sekaligus pentingnya sastra sebagai penjaga memori kolektif masyarakat.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal menciptakan ruang ekspresi bagi para pelaku sastra dan budaya.
“Teman-teman penggiat sastra selama ini belum punya wadah mengekspresikan gagasan dan kegelisahan mereka. Ini adalah awal yang baik untuk mendukung pelestarian bahasa dan kebudayaan,” ujarnya.
Puji menambahkan, kegiatan serupa akan dievaluasi dan dirancang menjadi agenda rutin, agar literasi berbasis bahasa daerah terus berkembang. Apalagi, kosakata dalam kedua buku tersebut menggunakan bahasa Kutai yang dapat menjadi referensi bagi generasi muda.
“Disdikbud Kukar juga sudah menjalankan program pelestarian bahasa Kutai melalui program Bahasa Ibu yang sempat meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ini, program itu akan kembali dilaksanakan di tingkat kabupaten dengan harapan bisa diperluas hingga provinsi dan nasional,” jelasnya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Kukar untuk memperkuat jati diri budaya sekaligus membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga bahasa daerah. Dengan cara ini, bahasa Kutai diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi terus hidup dan berkembang seiring zaman. (adv)




