Gabung Board of Peace, Indonesia Mengkhianati Palestina

Gabung Board of Peace, Indonesia Me ngkhianati Palestina

Catatan.co – Gabung Board of Peace, Indonesia Mengkhianati Palestina. Senyum pak Prabowo merekah lebar, mukanya terlihat antusias dan gembira sembari tangan beliau menggenggam sebuah piagam pengesahan bahwa Indonesia secara resmi sah bergabung dengan Board of Peace yang digagas oleh Presiden Trump. Salah satu agenda pembahasan KTT Board of Peace yang diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat pada hari Kamis, 19 Februari 2026, yaitu pembahasan mengenai perdamaian di Gaza, Palestina.

(https://www.idntimes.com/news/world/fakta-ktt-board-of-peace-perdana-ini-yang-perlu-diketahui-00-84mpg-c1xmw4)

Apa yang digagas oleh BoP berbanding jauh dengan realitas di Gaza. Lagi dan lagi, Gaza diserang kembali oleh Israel. Kali ini bukan dengan rudal yang mencerai-beraikan jasad, tetapi senjata termobarik dan bom aerosol yang mampu menguapkan 2.842 warga Gaza.

Mirisnya, hari ini Indonesia justru dengan bangganya duduk dengan negara Zionis Israel. Apalagi, yang membuat darah mendidih adalah Indonesia menyumbangkan 17 triliun rupiah sebagai iuran wajib anggota Board of Peace. (https://www.instagram.com/p/DUrwBUokcwt/?igsh=MWhnZHltNjliMThjaw==)

Bukankah ini disebut sebagai pengkhianatan?Tak pelak, pro dan kontra pun bermunculan. Namun, presiden kita berada di pihak mana, itu adalah pilihan. Sayangnya, pilihan tersebut malah bentuk pengkhianatan.

Lantas, sebenarnya perdamaian apa yang diserukan, jika kita malah duduk bersama dengan penjajah yang berlumuran darah saudara kita? Perdamaian apa yang diharapkan, jika penjajah Zionis dibiarkan tanpa diadili?

Gaza, Jantung Keimanan

Masih ingat kita akan banyak kisah heroik datang dari tanah para nabi ini. Tanah yang Allah berkahi dan tanah yang dengan darah dan jiwa kaum muslimin mempertahankannya.

Baca Juga: Ramadan, MBG Dipaksakan

Kita masih merasa bahwa Gaza adalah denyut iman kita. Mata kita selalu tertuju pada Gaza. Ingin rasanya memberikan apapun demi kebebasan Gaza. Namun, lagi-lagi, justru yang belajar tentang iman adalah kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشّامِ فَلا خَيْرَ فِيكُمْ

Jika penduduk Syam rusak agamanya, maka tidak akan tersisa kebaikan di tengah kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2192)

Faktanya, karena merekalah kita bisa melihat kecintaan kepada Al-Qur’an di tengah badai kematian. Karena merekalah kita bisa melihat teguhnya keimanan dalam tekanan yang luar biasa dan kekuatan untuk melawan di balik kematian yang terus mengintai.

Kesedihan kami, saudaramu, bukan hanya karena tidak berdaya melihat penjajahan Israel atas Gaza, tetapi juga karena para penguasa Muslim, terutama Indonesia, bak macan ompong di tangan Trump.

Gaung perdamaian seolah hanya pemanis bibir semata. Tepuk tangan riuh mereka di ruang sidang, menghilangkan tangis kelaparan dan kesakitan di Gaza.

Bebaskan Palestina

Gaung pembebasan Palestina memang menyeruak santer terdengar dari awal Oktkber 2023 yang lalu. Berbagai kalangan turun ke jalan, mulai dari tokoh publik, pegiat sosial sampai generasi Z yang kuat dalam bersikap.

Solusi yang diminta terhadap kondisi Palestina di antaranya adalah gencatan senjata permanen, penghentian penjajah Israel atas Gaza, embargo atas Israel, dan bahkan ada yang menyarankan untuk two state solution, yang faktanya hari ini juga Palestina dan Israel ada di satu wilayah Palestina.

Namun, kita mesti paham bahwa solusi yang ditawarkan tidak akan memberikan kebebasan secara total kepada Palestina, terutama Gaza. Karena kekuatan Israel bukan karena mereka kuat secara militer, tetapi karena hegemoni USA atas negeri-negeri Muslim.

Lihatlah, bagaimana Umar bin Khattab membebaskan Palestina. Belajarlah dari Sholahuddin Al-Ayubi bernegosiasi tanpa merendahkan diri sendiri. Ingatlah Sultan Abdul Hamid dengan tegas mengusir utusan Yahudi.

Para pemimpin seperti mereka, bisa tegas karena memiliki kekuasaan untuk bersikap. Kekuasaan itulah yang belum kita miliki saat ini.

Jika kaum Muslimin bersatu, mereka akan mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla, kebaikan dan kekuatan. Sebaliknya, jika mereka berselisih, yang terjadi adalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran.

Allâh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Dan taatilah Allâh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allâh beserta orang-orang sabar.” [Al-Anfâl/8:46]

Dengan kekuasaan itulah, kekuatan Islam akan tampak. Persatuan umat Islam akan kuat dan menjadi tameng bagi kaum muslimin di mana pun berada.

Wallahu’alam bishawwab.[]

Penulis: Ernawati, S.Pd

(Guru Bekasi Kota)