Catatan.co – Generasi Kian Rusak, Butuh Solusi Bijak. Negeri ini tak kunjung selesai dirundung dengan berbagai persoalan. Persoalan silih berganti tak kunjung henti. Salah satu persoalan di negeri ini adalah persoalan generasi.
Generasi adalah pemimpin di masa yang akan datang. Namun, faktanya kehidupan generasi dalam sistem kapitalisme diliputi dengan berbagai kemaksiatan, seperti narkoba, tawuran, dan pembegalan. Selain itu, generasi juga lemah mengendalikan diri dalam menghadapi persoalan termasuk kecemasan dan ketakutan.
Tawuran
Salah satu kasus yang dilakukan oleh generasi adalah tawuran. Angka tawuran dari hari ke hari makin meninggi. Sebanyak 54 pelajar diamankan polisi karena diduga hendak tawuran di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (9/08/2025).
Kerumunan remaja ini menimbulkan kecurigaan warga dan warga melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Saat diperiksa, polisi mengamankan sejumlah barang kuti enam celurit, satu bom molotov dan 25 sepeda motor. Para remaja mengaku hendak melakukan tawuran di wilayah Kedaung, tapi aksi tersebut berhasil digagalkan berkat kecurigaan warga. (https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/09/20170061/54-pelajar-ditangkap-polisi-saat-hendak-tawuran-di-serpong).
Generasi Rusak, Akibat Sistem Kapitalisme
Generasi hari ini lahir dari rahim sistem kapitalisme sekuler. Di mana nilai kebebasan sangat diagungkan, agama dipinggirkan, sedangkan materi menjadi tuhan. Dalam prinsip kapitalisme cuan adalah segalanya. Wajar jika generasi saat ini hanya mengejar materi belaka.
Hal ini diperparah dengan paham sekularisme yang sudah menjangkiti generasi. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam paham sekuler, agama hanya mengatur masalah ibadah saja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari agama tidak boleh ikut campur.
Jelas kedua paham ini tidak sesuai dengan fitrah manusia. Maka tidak heran generasi yang lahir dari rahim kapitalisme sekuler adalah generasi rusak. Generasi yang tidak punya arah tujuan.
Paham kapitalisme sekuler juga telah merasuk jauh ke dalam sistem pendidikan di negara kita. Kapitalisme sekuler menjadi kiblat. Kita bisa lihat sistem pendidikan sekuler-kapitalisme gagal membentuk generasi berkepribadian tinggi. Output -nya adalah generasi yang rusak. Generasi yang jauh dari pemahaman agama.
Agama diposisikan sama seperti pelajaran lain, hanya nilai akademis semata. Agama tidak diambil nilai-nilai yang ada di dalamnya. Wajar saat ini generasi banyak yang berbuat kerusakan karena tidak mengetahui mana yang benar dan salah.
Perbuatan buruk yang dilakukan generasi saat ini didukung oleh media. Dalam sistem kapitalisme sekuler, negara tidak memfilter tayangan media. Negara seharusnya membuat aturan yang ketat terkait dengan konten yang ada di sosial media.
Konten-konten negatif, sampah, dan yang berbau kekerasan dilarang untuk diposting di sosial media. Aturan dan sanksi bersosial media harus tegas untuk menyelamatkan generasi dari pemikiran yang buruk. Jika tidak, maka generasi kita ke depan akan dirusak oleh sosial media.
Seharusnya pemerintah membuat media berupa ruang edukasi untuk generasi. Media ini bermanfaat untuk pendidikan generasi ke depan.
Selain media, masyarakat dalam sistem kapitalisme sekuler juga menyumbang peran penting dalam pendidikan dan perkembangan generasi. Generasi tidak mungkin hanya mendekam di rumah. Mereka butuh sosialisasi di masyarakat. Namun, saat ini masyarakat cuek dengan kondisi generasi. Salah satu buktinya ketika banyak anak-anak muda yang nongkrong di warung pada saat jam sekolah, masyarakat tidak peduli dan mendiamkan saja.
Baca Juga: Generasi Rusak Buah Kapitalisme, Islam Solusinya
Lingkungan masyarakat yang ramah generasi sangat diperlukan hari ini, agar mereka dapat mengeksplorasi dirinya. Masyarakat ibarat inkubator yang akan mendukung perkembangan generasi. Namun, lingkungan masyarakat seperti ini dari hari ke hari makin sedikit.
Peran masyarakat mandul terkait dengan tumbuh kembang generasi. Amar makruf dan kontrol dari masyarakat terkait perilaku generasi yang menyimpang tidak ada. Akibatnya, generasi hari ini makin rusak dan angkanya makin meninggi.
Jelas, kapitalisme sekuler telah melahirkan generasi rusak. Butuh solusi bijak agar generasi hari ini dapat diselamatkan. Solusi bijak itu adalah sistem Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt. Sistem Islam telah berhasil melahirkan generasi terbaik di masanya.
Islam Melahirkan Generasi Berkepribadian Unggul
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat di atas mengajarkan kepada kita sebagai orang tua agar menjaga generasi dari api neraka. Salah satu penjagaannya adalah dengan pemahaman agama yang kuat. Orang tua mempunyai peran dan tanggung jawab mengajarkan pendidikan agama Islam kepada anak-anaknya.
Orang tua adalah pendidikan utama dan pertama. Di tangan orang tualah masa depan anak terukir. Orang tua harus menanamkan akidah atau pondasi yang kuat kepada anak-anaknya.
Akidah adalah pondasi keimanan kepada Allah bagi seorang anak. Selain akidah, orang tua juga harus mengajarkan syariat atau aturan Allah kepada anak-anaknya. Pengajuan syariat ini secara bertahap dan pembiasaan.
Selain orang tua atau keluarga, masyarakat juga berperan dalam pendidikan generasi. Kontrol masyarakat dibutuhkan dalam pendidikan dan perkembangan anak. Ketika generasi memiliki sikap atau perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan Islam (berbuat kemaksiatan), maka masyarakat yang akan menegurnya. Misalnya, ketika generasi yang sudah balig tidak melakukan salat Jum’at malah nongkrong di warung. Maka, di sinilah peran masyarakat dibutuhkan untuk menegurnya.
Selain orang tua atau keluarga dan masyarakat, negara juga mempunyai peran dalam pendidikan generasi. Peran negara ada empat dalam pendidikan generasi, yaitu penerapan sistem pendidikan, sistem sanksi, sistem penyiaran atau media dan penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Sistem pendidikan Islam mempunyai tujuan mencetak generasi yang bersyaksiyah Islam. Syaksiyah Islam adalah pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan aturan Islam. Halal haram menjadi standar dalam bertingkah laku.
Ketika perbuatan haram, maka tidak akan dilakukan. Namun, jika perbuatan halal maka akan dilakukan. Dengan syaksiyah Islam generasi tidak akan berbuat kerusakan, karena Allah senantiasa mengawasi perbuatan manusia.
Sanksi tegas diberlakukan oleh negara bagi generasi yang melakukan kerusakan di masyarakat. Negara tidak pandang bulu, siapa yang bersalah sanksi akan diberlakukan dengan tegas. Bagi pelaku yang sudah balig maka negara akan menjatuhkan sanksi.
Jika pelakunya belum balig, maka tidak akan dijatuhkan sanksi. Sanksi akan dijatuhkan kepada orang tua pelaku sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sanksi dalam Islam bersifat jawazir (pencegah) dan jawabir (penebus).
Sistem penyiaran atau media yang ketat. Penyiaran atau media dalam sistem Islam mempunyai fungsi untuk dakwah Islam. Negara akan memberikan kontrol yang ketat terhadap penyiaran atau media yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Konten-konten sampah akan disensor karena akan merusak generasi.
Demikianlah, cara dalam sistem Islam dalam menjaga generasi. Sistem Islam ibarat inkubator yang akan melahirkan generasi berkualitas, ketakwaan tinggi, serta cemerlang dalam prestasi.
Wallahu alam bishawab. []
Penulis: Lia Ummu Thoriq
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)




