Catatan.co – Harga Naik, Rakyat Tercekik: Di Mana Penguasa? Kenaikan harga BBM serta kebutuhan pokok kembali menjadi beban yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga berbagai komoditas justru makin mempersempit ruang gerak rakyat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini menimbulkan kegelisahan, terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang paling terdampak oleh fluktuasi harga di pasaran.
Kenaikan harga kebutuhan pokok ini terjadi di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Beberapa komoditas seperti cabai, bawang, telur, hingga beras mengalami kenaikan, sedangkan harga daging ayam masih relatif. Namun, di tengah kondisi tersebut, pedagang justru mengeluhkan melemahnya daya beli masyarakat. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga daging ayam saat ini berkisar 30.000 per kilogram yang menunjukkan relatif stabil. Namun, pedagang mengaku penjualan malah menurun akibat berkurangnya pembeli.
Komoditas lain seperti harga cabai misalnya, kini mencapai Rp82.000 per kilogram untuk cabai petik dan Rp77.000 per kilogram untuk cabai tangkai. Begitupun kenaikan barang-barang pokok lainnya seperti telur di kisaran Rp2.000-3.000 per butir, beras di kisaran Rp15.000-17.000 per kilogram. Menurut para pedagang, kenaikan harga dipengaruhi oleh pasokan dari distributor, sehingga mereka tidak memili banyak ruang untuk menentukan harga jual.
Ada yang menyebut harga plastik naik dari Rp47.000 menjadi Rp70.000 per ikat. Kondisi ini makin membebani pedagang, terutama saat melayani pembelian kecil yang membutuhkan banyak pembungkus. Untuk menekan biaya, sebagian pedagang memilih menggunakan plastik dengan kualitas lebih tipis, meski hal ini dinilai bukan solusi jangka panjang. Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan biaya operasional membuat keuntungan pedagang semakin menipis.
Kenaikan harga bukan hanya terjadi pada kebutuhan pokok. Lebih dari itu, kenaikan juga menimpa kebutuhan lainnya seperti makanan yang berbahan dasar kedelai, yaitu tempe. Sejak awal 2026 perajin tempe di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kaltim, terpaksa mengubah strategi produksi. Alih-alih menaikkan harga jual, mereka memilih memperkecil ukuran tempe demi menjaga daya beli konsumen.
Salah satu perajin tempe di Jalan Sangkulirang, Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, Ilham, mengaku kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap sejak Januari hingga Maret 2026. “Sekarang sudah di angka Rp575 ribu per karung. Dulu masih sekitar Rp500 ribu sampai Rp540 ribu.” Ujar Ilham, Senin (13/4/2026).
Untuk menyiasati kenaikan harga tanpa membuat pembeli berkurang, Ilham mengakali dengan memperkecil ukuran tempe. Strategi ini dianggap lebih aman di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Walaupun begitu, langkah ini berpengaruh pada menurunnya margin keuntungan yang didapat. Ia juga menyoroti perbedaan harga kedelai antara pelaku usaha kecil dan besar. Menurut Ilham, pembelian dalam jumlah terbatas membuat harga yang diterima cenderung lebih tinggi. Di tengah tekanan tersebut, Ilham berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan. (https://kaltim.tribunnews.com/tribun-etam/1144666/harga-cabai-bawang-telur-beras-di-tenggarong-alami-kenaikan-pedagang-keluhkan-daya-beli-melemah)
Serangkaian fakta di atas telah memperlihatkan pada kita bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan persoalan yang terus berulang dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Ketika berbagai kebutuhan naik secara bersamaan, sedangkan daya beli justru melemah, kondisi ini menuntut adanya penyelidikan lebih jauh tentang apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan di baliknya.
Rakyat Tercekik
Kenaikan harga bahan pokok yang terjadi saat ini sungguh tak bisa dianggap wajar. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan masyarakat lemah dan kondisi ekonomi hari ini juga tidak stabil. Ketika produksi pangan tidak kuat dan distribusi tidak merata, maka kenaikan harga menjadi hal yang sering terjadi.
Selain itu, daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi persoalan karena pendapatan masyarakat juga tidak meningkat.
Baca Juga: Selat Hormuz
Fenomena kenaikan harga ini juga dipengaruhi oleh konflik global yang berdampak pada rantai pasok, serta lemahnya ketahanan energi yang ikut mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi barang. Alhasil, masyarakat berada pada situasi yang terimpit dari segala sisi. Menyedihkannya, di tengah kondisi tersebut, rakyat malah dihadapkan pada kenaikan berbagai jenis kebutuhan pokok secara bersamaan. Rakyat pun tak bisa memilih untuk tidak membeli, karena kebutuhan pokok adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Sungguh, fenomena kenaikan harga yang terjadi berulang kali ini sangat membebani masyarakat, terutama mereka yang berada di lapisan ekonomi bawah. Di sinilah muncul pertanyaan besar, di mana letak empati penguasa ketika melihat rakyat yang tercekik karena harga kebutuhan pokok yang naik? Sudahlah harga kebutuhan pokok naik, masyarakat juga dibebani dengan berbagai pajak dan pungutan di setiap aspek. Kalau sudah begini, wajar jika kemiskinan meningkat dan kriminalitas menjadi hal yang biasa.
Inilah dampak dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Pengelolaan SDAE dan kebijakan ekonomi justru berorientasi pada mekanisme pasar dan keuntungan, bukan pada pemenuhan kebutuhan rakyat. Alhasil, negara sering kali abai dari perannya sebagai pelindung dan pengurus rakyat, dan malah berperan sebagai regulator yang memfasilitasi pengusaha dan rakyat dalam kepentingan bisnis.
Walaupun negeri kita kaya SDAE, nyatanya hal tersebut tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Lantas, masihkah kita berpangku tangan terhadap penerapan sistem demokrasi kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak? Apakah ada solusi lain yang mesti kita pahami dan perjuangkan bersama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memuliakan mereka?
Islam Menjamin Kesejahteraan Rakyat
Islam mempunyai sistem ekonomi yang bisa menjaga stabilitas harga sekaligus mewujudkan ketahanan pangan dan energi secara nyata. Dalam Islam, negara berperan langsung dalam memastikan ketersediaan kebutuhan pokok rakyat, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengawasan pasar. Negara tidak akan membiarkan mekanisme pasar berjalan bebas tanpa kendali. Negara mesti hadir sebagai penjamin agar tidak terjadi praktik penimbunan, monopoli, maupun permainan yang merugikan rakyat.
Dengan pengelolaan sumber daya alam yang sesuai syariat, ketahanan pangan dan energi dapat terjaga. Sehingga gejolak harga yang memberatkan rakyat dapat dikurangi. Dalam Islam, pemimpin mempunyai tanggung jawab besar untuk memudahkan urusan rakyatnya, bukan malah mempersulit.
Rasulullah saw., bersabda, “Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang mengurus umatku lalu ia memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR. Muslim)
Hadis di atas menjadi alarm keras bahwa para penguasa mestinya selalu berpihak kepada rakyat. Setiap kebijakan yang dibuat harus berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan tertentu. Sejarah peradaban Islam telah memberikan gambaran pada kita bagaimana para pemimpin benar-benar hadir di tengah kesulitan rakyat.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau pernah membawa sendiri karung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Bahkan beliau berkata bahwa dirinya takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah jika ada rakyat yang akan menuntut dia kelak di hari perhitungan amal, karena hak dan kebutuhannya sebagai rakyat tidak terpenuhi. Begitupun pada masa Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan begitu merata hingga sulit ditemukan orang yang berhak menerima zakat.
Demikianlah, sistem Islam mampu mencetak pemimpin-pemimpin amanah dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, negara akan mampu menjaga stabilitas harga secara menyeluruh dan memastikan setiap individu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Saatnya kita serius dalam mempelajari agama Islam dan memperjuangkannya di tengah-tengah kehidupan, agar keadilan dan kesejahteraan bisa kita rasakan.
Wallahu ‘alam bishawab.[]
Penulis: Hanifah Tarisa Budiyanti, S.Ag
(Aktivis Muslimah)




