HIV/AIDS Meningkat Butuh Solusi Tuntas

HIV/AIDS Meningkat Butuh Solusi Tuntas

Catatan.co – HIV/AIDS Meningkat, Butuh Solusi Tuntas. Masa muda adalah masanya para remaja. Masa di mana seorang anak mulai menuju dewasa awal. Mereka akan berusaha mencari tahu tentang diri mereka, baik melalui orang tua, keluarga, bahkan lingkungan pergaulan mereka.

Pencarian jati diri tersebut sudah selayaknya mendapat pendampingan ekstra ketat dari orang tua, agar tidak mendapatkan informasi yang salah atau menyimpang. Karena hari ini kita menyaksikan justru banyak remaja yang terpapar pergaulan bebas yang merusak. Tak sedikit juga remaja yang akhirnya terinfeksi virus HIV/AIDS.

Sebagaimana menurut Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati, Kota Balikpapan sudah masuk zona merah HIV, homoseks, dan pengguna narkoba suntik. Kemudian disusul Samarinda dengan angka peningkatan yang begitu drastis. Status zona merah yang kini disandang Kota Balikpapan mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama lintas instansi dan relawan masyarakat memperkuat upaya pencegahan sekaligus penanganannya.

Alwiati menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya bergantung pada layanan medis. Menurutnya, pencegahan di tingkat hulu harus menjadi prioritas melalui kolaborasi lintas sektor sebagai pencegahan sejak awal.

Selain di Balikpapan dan Samarinda, HIV/AIDS juga masih menjadi PR besar di Kota Bontang yang mengalami peningkatan, seperti diberitakan dari pusaranmedia.com (11/09/2025), Kepala Dinkes Bontang, Bahtiar Mabe, menyebut ada tujuh basis kelompok yang menjadi prioritas skrining HIV/AIDS, yaitu perkumpulan waria, gay, ibu hamil, penderita tuberkulosis paru, penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), pekerja seks, serta warga binaan kemasyarakatan.

Dari data Dinkes, sepanjang 2024 Bontang mencatat pemeriksaan HIV terhadap 7.537 orang atau melampaui target pusat sebanyak 5.574 orang. Hasilnya, ditemukan 65 kasus positif, dengan 5 orang meninggal dunia. Sementara di tahun 2025, target yang ditetapkan sebanyak 5.573 orang. Hingga Agustus, baru 3.060 orang yang diperiksa, dan 20 orang dinyatakan positif. (https://pusaranmedia.com/read/41480/kasus-hiv-terbaru-20-orang-positif-dinkes-bontang-fokus-skrining-tujuh-kelompok-ini)

Pengaruh Liberalisme

Meningkatnya kasus HIV/AIDS tidak bisa dilepaskan dari perilaku bebas dan menyimpang di kalangan homoseksual dan generasi muda. Bahkan, penyimpangan seksual ini trus meningkat dan menyebar di kalangan generasi sebagai dampak dari pemahaman sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Inilah yang menyebabkan pergaulan bebas kian tumbuh kembang membawa generasi kita dalam jurang kehancuran.

Jaminan hak asasi manusia (HAM) yang memberikan kebebasan masyarakat dalam berperilaku menjadikan remaja makin liar dan bebas tanpa batasan moral ataupun spiritual. Pemahaman kufur yang diterapkan di negeri ini akan berdampak buruk dari segala aspek. Mulai dari khalwat sampai zina, khamar sampe narkoba, dan masih banyak keburukan lainnya.

Baca Juga: Nikah Dini

Ditambah lagi, tayangan televisi maupun media sosial juga dipenuhi dengan tontonan yang memberi contoh pergaulan bebas dan dengan cepatnya ditiru oleh banyak remaja. Kampanye LGBT makin meluas lewat film, acara bakat seperti lomba kecantikan. kemudian konten-konten yang berbau pornografi dan pornoaksi juga tak kalah tenar dan mudah sekali untuk diakses.

Sistem pendidikan di negeri ini belum mampu membentuk pribadi bertakwa. Padahal, ketakwaan adalah benteng pertama seseorang dari perilaku maksiat. Kurikulum di sekolah juga belum membahas secara detail aturan pergaulan laki-laki dan perempuan, mana yang boleh (halal) dan mana yang tidak boleh (haram).

Selanjutnya, pendidikan keluarga pun belum menjadi benteng keluarga dari maksiat. Selain itu, negara masih belum menjalankan fungsinya sebagai pengurus dan pelindung remaja dari pengaruh buruk pergaulan bebas.

Oleh karena itu, meskipun solusi demi solusi sudah ditetapkan, nyatanya tak mampu menyelesaikan permasalahan. Selama akar masalahnya belum dihilangkan, permasalahan HIV/AIDS tidak akan berhenti.

Islam Atasi HIV/AIDS

Kondisinya tentu sangat berbeda ketika sistem Islam yang diterapkan. Islam memiliki aturan yang mampu mencegah dan mengobati HIV/AIDS.

Pencegahannya meliputi peran keluarga dalam mendampingi dan mengarahkan masa remaja dengan nilai-nilai Islam. Masyarakat juga menjadi filter bagi perilaku para remaja. Mereka akan selalu melakukan amar makruf dan nahi munkar. Kurikulum pendidikan dibuat untuk mencetak remaja yang memiliki kepribadian Islam. Di mana pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan ilmu yang sudah dipelajari.

Negara yang menerapkan syariat Islam akan membatasi tayangan di media massa, visual, maupun audiovisual dan media sosial. Tayangannya hanyalah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Adapun tayangan yang bertentangan dengan Islam akan diblokir.

Adapun jika sudah terlanjur terkena HIV/AIDS, maka dilakukan beberapa opsi. Ketika ada individu yang ketahuan terinfeksi virus bukan karena ia bermaksiat atau ketidaksengajaan, maka individu tersebut akan diisolir dan segera ditangani oleh tim medis terbaik dan akan didampingi hingga sembuh. Akan tetapi, apabila terinveksi virus akibat pergaulan bebas, maka dilihat dulu. Jika dia belum menikah akan dikenai hukuman cambuk 100 kali. Jika sudah menikah, akan dirajam sesuai dengan sanksi zina yang telah ditetapkan Allah Swt..

Islam juga melarang perilaku homoseksual (menyukai sesama jenis). Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah As-Syu’ara, ayat 165 -166, yang artinya, “Mengapa kamu mendatangi jenis laki laki di antara manusia (berbuat homoseksual). Dan kamu tinggalkan perempuan yang di ciptakan Tuhan untuk menjadi istri istri kamu? Kamu (memang) orang orang yang melampaui batas.”

Demikianlah, aturan Islam dalam mencegah dan menangani kasus HIV/AIDS. Semua ini hanya akan terjadi jika aturan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, kita sebagai seorang muslim harus selalu menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat, agar mereka paham dan mau diatur dengan aturan Islam saja dalam menyelesaikan semua persoalan hidup mereka.

Wallahu a’lam Bishawab. []

Penulis: Rahimah Ummu Alif

Aktivis Dakwah