Pengangguran di Samarinda Tinggi, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Andi Satya Adi Saputra

Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Andi Satya Adi Saputra, menilai persoalan pengangguran di Kalimantan Timur, khususnya di Kota Samarinda, masih jauh dari kata tuntas.

Ia menyebut, kondisi riil di masyarakat belum mencerminkan laporan resmi yang menyatakan angka pengangguran mengalami penurunan.

Menurut Andi, ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan masih sangat terasa.

Hal itu tampak dari tingginya antusiasme masyarakat dalam setiap proses rekrutmen, meski lowongan yang tersedia sangat terbatas.

Dia mengungkapkan hal tersebut usai memantau langsung penerimaan tenaga kerja di Rumah Sakit Mulya Medika, Samarinda Seberang.

Dalam proses seleksi itu, hanya dua formasi front office yang dibuka, namun jumlah pelamar mencapai sekitar 1.400 orang.

“Ini menunjukkan betapa beratnya persaingan kerja di Samarinda. Secara data memang dikatakan menurun, tapi di lapangan kita melihat pengangguran masih sangat tinggi,” kata Andi, Rabu (10/12/2025).

Tak hanya pada dua posisi tersebut, Andi menyebut pada tahap awal rekrutmen rumah sakit itu, jumlah pelamar dari berbagai formasi bahkan menembus lebih dari 10 ribu orang.

Fenomena ini, menurutnya, menjadi cerminan nyata bahwa lapangan kerja yang tersedia belum mampu menampung kebutuhan masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, politisi Partai Golkar itu mengingatkan generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk mempersiapkan diri sejak dini menghadapi dunia kerja.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kompetensi dan keterampilan agar mampu bersaing.

“Dunia kerja tidak semudah yang dibayangkan. Banyak yang ingin cepat lulus, tetapi setelah lulus justru dihadapkan pada persaingan yang sangat ketat,” ujarnya.

Andi juga menegaskan bahwa tekanan persaingan kerja tidak hanya dirasakan oleh lulusan umum, tetapi juga tenaga profesional.

Dirinya mencontohkan pengalaman lulusan kedokteran yang tetap menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai.

“Dokter umum pun merasakan ketatnya persaingan. Sudah lulus, tapi masih harus berjuang mencari peluang kerja,” tambahnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera merumuskan kebijakan strategis untuk membuka lebih banyak lapangan kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal, terutama menjelang pembangunan dan operasional Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

“IKN seharusnya menjadi peluang besar bagi tenaga kerja lokal. Pemerintah harus memastikan kesiapan SDM agar pembangunan ini tidak justru menambah pengangguran,” tutup Andi. buatkan judul berita