Catatan.co – Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan. Tiap tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dirayakan dengan upacara dan pidato. Tahun ini Kemendikbudristek mengusung tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”. Ironisnya, dunia pendidikan justru makin buram dan memprihatinkan.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa. Ruang aman di sekolah dan kampus tak terjamin. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa pelajar sekarang seperti mengalami krisis kepribadian?
Potret Buram Pendidikan
Kekerasan antarpelajar makin sadis. Di Bantul, pelajar dikeroyok lalu dilindas motor hingga tewas. Dua pelaku ditangkap, lima buron.
Kasus serupa terjadi di Bandung. Seorang pelajar SMA di Bandung tewas dikeroyok enam tersangka yang juga pelajar. Di Bogor, dua pelajar SMA disiram air keras hingga wajah luka. Seolah tak memiliki empati, para pelajar berkelahi dengan sesama.
Sekolah tak lagi menjadi ruang aman bagi pelajar maupun pendidik. Data real-time SIMFONI-PPA Kementerian PPPA mencatat kasus kekerasan terhadap anak terus diinput sejak 1 Januari 2026 hingga saat ini. Salah satu kasus yang ramai di awal 2026 adalah perundungan siswa di Bekasi yang viral hingga korban trauma dan enggan kembali bersekolah. Anggota Komisi VIII DPR RI meminta KemenPPPA serta KPAI berkoordinasi untuk segera memperkuat sistem perlindungan anak di sekolah. (kemenpppa.go.id, 3-5- 2026)
Kecurangan akademik dilembagakan. Tercatat dua joki UTBK-SNBT di Surabaya ditangkap. Mereka mengaku dibayar Rp100 juta jika berhasil. Temuan kecurangan UTBK: joki hingga alat bantu dengar.
(https://news.detik.com/berita/d-8455689/terungkap-praktik-joki-utbk-di-2-kampus-surabaya-modus-palsukan-dokumen)
Pengamat menyebut, kecurangan UTBK terjadi tiap tahun. Kampus berisiko luluskan mahasiswa tak kompeten. Praktik joki UTBK 2026 terungkap di 2 kampus Surabaya dengan modus palsukan dokumen.
Tak cukup sampai di situ, fakta lain menyebutkan hal yang lebih serius. Miris! Narkoba masuk sekolah. Menurut data BNN 2025, sebanyak 2,3 juta pelajar dan mahasiswa jadi pengguna. Sekolah yang harusnya mendidik, justru jadi pasar gelap peredaran obat terlarang.
Terlepas dari semua fakta memilukan di atas, ada yang lebih memprihatinkan, yaitu krisis adab ke guru. Siswa laporkan guru ke polisi karena ditegur. Ada guru dipenjara karena cubit siswa. Serangkaian peristiwa itu membuat guru takut mendidik, sedangkan siswa makin berani melawan. UU Perlindungan Anak disalahgunakan jadi tameng.
Gagalnya Sistem Sekularisme-Kapitalisme
Tiap tahun perayaan Hardiknas diselenggarakan, tapi potret buram pendidikan tak berubah. Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka hanya fokus skill dan link and match industri. Hasilnya, pelajar krisis kepribadian, cenderung sekuler, agama dipisah dari pelajaran. Kebebasan tanpa batas jadi kiblat perbuatan mereka. Belajar hanya untuk ijazah dan kerja serta jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.
Artinya, ada yang salah di hulu. Bukan sekadar ganti kurikulum atau ganti menteri. Karena sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang sekarang diadopsi ini menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius.
Orientasi sukses adalah materi dan jabatan. Akibatnya, muncul joki UTBK, plagiat, dan budaya nyontek. Menghalalkan segala cara demi uang dan ijazah dianggap wajar. Kampus meluluskan sarjana tak kompeten, karena masuknya saja curang.
Selain itu, orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar ini tentu saja memiliki potensi kekuasaan untuk mereka melakukan hal tercela tersebut. Tidak mungkin dilakukan hanya sendirian, pasti banyak pihak yang terlibat. Sehingga perubahan sistem sangat dibutuhkan saat ini.
Longgarnya Sanksi
Pelaku kekerasan dalam dunia pendidikan mayoritas di bawah umur. Negara menoleransi kriminalitas sebagai “kenakalan anak”. Akibatnya, efek jera nihil. Pengeroyokan hingga tewas dianggap biasa. Hukum tumpul ke pelaku, tajam ke guru yang mendidik.
Minimnya pendidikan agama yang benar menyebabkan salahnya paradigma berpikir para pelajar. Pendidikan sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Pelajaran agama 2 jam sepekan, kalah dengan 30 jam pelajaran sekuler.
Tak pelak, ruang kebebasan melebar, moral terkikis. Pelajar mudah terseret narkoba, tawuran, dan kemaksiatan karena tak punya dhabt atau kontrol diri dari akidah. Hal itu mengakibatkan semakin lebarnya ruang kebebasan yang akhirnya mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Fakta-fakta buram ini bukan sekadar krisis moral individu, tapi cermin dari rusaknya paradigma pendidikan. Ketika agama dipisahkan dari sekolah, akhlak dicabut dari kurikulum, dan sukses hanya diukur dari ijazah serta gaji, maka wajar jika sekolah gagal mencetak manusia. Yang lahir justru generasi pintar secara angka, tapi kosong secara jiwa. Artinya, selama asas pendidikan masih sekuler-kapitalistik, ganti menteri atau ganti kurikulum berkali-kali pun tidak akan menyembuhkan penyakitnya. Di sinilah kita perlu menoleh pada sistem lain yang sudah terbukti melahirkan peradaban mulia.
Refleksi Hardiknas dalam pandangan Islam
Pendidikan ditujukan untuk lahirkan generasi takwa dan cerdas. Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Khalifah Umar bin Khattab ra. berkata, “Didiklah anak-anakmu, karena mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zamanmu.”
Maka pendidikan sangat penting dan krusial. Harus diatur secara sistematis dan terstruktur. Karena buah pendidikan inilah yang akan melahirkan generasi peradaban.
Baik dan buruknya suatu peradaban bergantung pada seberapa serius pendidikan dijalankan. Bisa dikatakan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan dipanen bersama.
Peran Negara dalam Pendidikan
Dalam Islam, negara adalah raa’in, wajib menyelenggarakan pendidikan dengan asas akidah Islam. Hal mendasar yang wajib dijamin negara salah satunya adalah pendidikan. Asas akidah Islam melahirkan insan kamil, yakni cerdas akalnya, takwa hatinya.
Pelajar yang paham hisab di akhirat tidak akan curang dalam UTBK, tidak akan nge-joki, tidak akan plagiat. Karena kesuksesan hakiki bukan ijazah, tapi rida Allah. Maka, negara hadir nyata dalam membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang berlomba dalam kebaikan.
Sistem Pendidikan dalam Negara Islam
Negara Islam akan menerapkan pendidikan secara holistik. Fokus pada pembentukan syakhsiyah islamiyah, yakni menyelaraskan pola pikir dan pola sikap dengan Islam, aqliyah islamiyah membuatnya berpikir cemerlang, dan nafsiyah islamiyah membuatnya bertingkah laku mulia. Sehingga lahirlah pelajar yang ahli sains, tapi tidak menindas adik kelas. Dokter yang pintar, tapi tidak komersilkan pasien.
Selain itu, Islam akan menerapkan sistem sanksi tegas dan mendidik. Hal ini tentu saja akan membedakan sanksi ta’dib untuk anak belum baligh dan uqubat untuk yang sudah baligh.
Baca Juga: Rakyat Sejahtera
Pengeroyokan hingga tewas bukan “kenakalan”, tapi jinayat yang ada qishash atau diyat. Pelajar pelaku kriminal tetap diberi sanksi sesuai syariat, agar jera dan tidak menular. Guru yang mendidik dengan pukulan ringan yang tidak melukai justru dibenarkan, bukan dipenjara.
Lebih jauh lagi, negara Islam menutup celah kemaksiatan dengan cara memblokir pornografi, bubarkan geng motor, razia narkoba hingga ke sekolah. Media, masjid, dan keluarga bersinergi mendorong amal kebaikan, bukan malah memberi panggung pada budaya liberal yang merusak generasi.
Sinergi Tga Pilar Pendidikan
Dalam sistem pendidikan yang dibangun oleh negara Islam, ada 3 pilar utama tercapainya visi misi pendidikan sesuai ajaran Islam:
Pertama, keluarga. pendidikan pertama seorang anak berada dalam ranah keluarga, yaitu mendidik ketakwaan individu.
Kedua, masyarakat. lingkungan di sekolah mengajarkan tsaqafah Islam dan sains dalam bingkai akidah.
Ketiga, negara. Dalam negara Islam wajib menerapkan kurikulum yang berlandaskan syariat Islam, menggaji guru layak dari baitulmal, dan menjaga lingkungan pendidikan dari pemikiran rusak.
Dengan sinergi 3 pilar tersebut, maka Islam akan melahirkan generasi peradaban yang mustanir. Telah terbukti beberapa ratus tahun silam, saat Islam memimpin dunia dengan kejayaan peradabannya. Melahirkan generasi mulia dan bertakwa seperti Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel di usianya yang belum genap 22 tahun.
Begitu pula guru besar Imam Syafi’i yang mewariskan banyak ilmu di usianya yang masih belia. Tidakkah kita rindu dengan generasi seperti mereka? Namanya terkenal karena kemuliaan dan karyanya. Bukan dikenal sebab kenakalannya atau viral karena perilaku yang kurang beradab!
Khatimah
Hardiknas seharusnya jadi momentum muhasabah, bukan seremonial. 79 tahun Indonesia merdeka, pendidikan makin buram karena sistem sekularisme-kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan maupun sekolah dan menjadikan pendidikan sebagai komoditas. Padahal Rasulullah saw. menegaskan, “Imam adalah raa’in dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak tidur sebelum memastikan semua anak Muslim bisa baca-tulis dan paham Al-Qur’an. Lalu bagaimana pertanggungjawaban pemimpin hari ini yang membiarkan kekerasan di sekolah terus terjadi dan joki UTBK merajalela tiap tahun? Solusinya bukan ganti kurikulum tiap 5 tahun, tapi mengembalikan fungsi negara sebagai penjamin pendidikan berkepribadian Islam. Karena dalam Islam, sekolah bukan pabrik ijazah, tapi madrasah untuk mencetak generasi bertakwa yang akan memimpin peradaban.
Selama aturan pendidikan tidak dikembalikan pada syariat Allah, maka tiap 2 Mei kita hanya merayakan buramnya potret pendidikan. Imam Al-Ghazali berkata, “Kerusakan rakyat karena kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa karena kerusakan ulama, dan kerusakan ulama karena cinta dunia.”
Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Penulis: Desi Nurjanah
(Aktivis Muslimah)




