Catatan.co – Hari Santri: Antara Seremonial dan Spirit Perjuangan yang Terlupakan. Peringatan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober selalu mendapat perhatian besar dari publik. Tahun ini, berbagai kegiatan meramaikan peringatan tersebut, antara lain upacara, kirab, pembacaan kitab kuning, hingga festival sinema. Tema yang diangkat, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, mencerminkan ajakan untuk menjadikan santri sebagai penjaga moral dan pelopor kemajuan bangsa.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah kepada para santri, santriwati, kiai, nyai, hingga keluarga besar pondok pesantren di seluruh tanah air. Dalam ucapannya, Kepala Negara menekankan bahwa Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Presiden Prabowo mengingatkan kembali kontribusi santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang merujuk pada momen Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari. Menurut Presiden Prabowo, semangat jihad yang digelorakan para santri 80 tahun silam tetap relevan hingga hari ini, yaitu menjaga keutuhan bangsa dengan ilmu dan keimanan.
(https://setneg.go.id/baca/index/peringatan_hari_santri_presiden_prabowo_santri_adalah_penjaga_moral_dan_pelopor_kemajuan_bangsa)
Namun, di balik gegap gempita peringatan Hari Santri, muncul pertanyaan mendasar, apakah semarak seremonial tersebut benar-benar menggambarkan esensi perjuangan dan peran strategis santri sebagaimana dahulu para ulama dan pejuang Islam melakukannya?
Peringatan Hari Santri saat ini lebih banyak berhenti pada tataran simbolik. Upacara dan kegiatan festival memang menumbuhkan kebanggaan. Namun, belum sepenuhnya menghadirkan sosok santri yang fakih fiddin (mendalami agama secara mendalam) dan berperan sebagai agen perubahan umat. Santri seharusnya menjadi ujung tombak dalam menegakkan kebenaran, menolak kezaliman, dan memperjuangkan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Pujian terhadap peran santri dalam jihad melawan penjajah di masa lalu kerap disampaikan oleh para pemimpin. Namun, sayangnya tidak diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada eksistensi pesantren dan idealisme perjuangan santri hari ini. Sebaliknya, santri justru diarahkan untuk menjadi “agen moderasi beragama” dan “agen pemberdayaan ekonomi” peran yang lebih condong pada proyek politik dan ekonomi kapitalistik, bukan pada misi menjaga kemurnian akidah dan perjuangan umat.
Jika dulu santri mengangkat senjata melawan penjajahan fisik, kini seharusnya mereka tampil di garda terdepan melawan penjajahan gaya baru yaitu penjajahan pemikiran, budaya, dan sistem ekonomi sekuler yang menindas umat. Sayangnya, arah pembinaan santri justru sering menjauh dari misi jihad ini. Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan membuat pesantren kehilangan daya ideologisnya dalam melahirkan generasi pejuang Islam yang siap menegakkan syariat.
Padahal, peran strategis santri tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada kemampuan membawa perubahan sosial yang berpihak pada kemaslahatan umat. Santri yang sejati bukan hanya hafal kitab, tetapi juga memahami realitas dan mampu memimpin umat menuju penerapan hukum Allah yang adil dan menenteramkan.
Baca Juga: Zakat Bukan Penambal Luka Sosial
Para santri adalah cikal bakal para ulama, orang- orang yang berilmu yang merupakan pewaris para Nabi. Seperti sabda Rasullullah saw.,
“Para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh asy-Syekh al-Albani).
Maka, negara memiliki peran fundamental untuk mendukung eksistensi pesantren sesuai visi mulianya yaitu mencetak santri yang berilmu, calon ulama yang berakhlak, dan siap berjuang di jalan Allah. Dukungan negara seharusnya tidak sebatas administratif atau bantuan ekonomi, melainkan membangun sistem pendidikan yang memerdekakan pesantren dari intervensi ideologi sekuler. Santri harus didorong untuk kembali pada jati dirinya sebagai pejuang peradaban Islam yang menjadi penjaga akidah, pelindung umat, dan pengemban risalah dakwah.
Sejatinya potensi besar pesantren tidak akan pernah terwujud dalam sistem yang sekuler. Karena, sistem ini menolak keterlibatan agama dalam ranah publik dan hanya menempatkannya di ruang privat. Akibatnya, pesantren dibiarkan hidup, tetapi dimatikan fungsinya. Seharusnya pesantren tumbuh dari akar sistem Islam bukan sekuler, yakni negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat jihad dan perjuangan santri sebagaimana dicontohkan KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama terdahulu. Santri bukan hanya bagian dari sejarah perjuangan, tetapi juga kunci kebangkitan peradaban Islam masa depan. Dengan keilmuan yang mendalam dan keteguhan iman, mereka dapat memimpin umat keluar dari cengkeraman penjajahan sekuler kapitalistik menuju kehidupan yang diatur oleh syariat Allah secara kaffah.
Peringatan Hari Santri akan kehilangan maknanya jika hanya dipenuhi seremonial tanpa ruh perjuangan. Saatnya mengembalikan santri pada peran aslinya yaitu fakih fiddin dan agen perubahan menuju peradaban Islam yang gemilang, peradaban yang menjamin keadilan, kemuliaan, dan kemerdekaan sejati bagi seluruh umat manusia. Walalhu a’lam. []
Penulis: Lia Julianti
Aktivis Dakwah Tamansari Bogor




