Pemuda Mati Kelaparan, Potret Nihilnya Pemimpin Berperan.

Pemuda Mati Kelaparan, Potret Nihilnya Pemimpin Berperan.

Catatan.co – Pemuda Mati Kelaparan, Potret Nihilnya Pemimpin Berperan. Randika, nama seorang pemuda yang akhir-akhir ini membuat ramai media sosial. Pemuda asal Lubuklinggau ini ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan diduga akibat kelaparan. Randika Alzatira Syaputra (28) meninggal dunia di Cilacap seorang diri, sebelumnya Ia menulis surat berisi identitas dirinya. Keluarganya _broken home_, Ayahnya di Lubuklinggau sedangkan Ibunya sudah menikah lagi dan kini tinggal di Bogor. Selain itu, Ia juga menulis alamat di mana jenazahnya ingin diantarkan.

Randika ternyata pernah viral pada tahun 2023 lalu. Di tempat asalnya di Lubuklinggau, Ia pernah menyerahkan diri ke Polsek dan mengaku telah mencuri motor. Namun, saat diselidiki lebih lanjut oleh pihak kepolisian, Randika tak dapat membuktikan kelakuannya. Ia malah bingung saat olah TKP. Disinyalir, Ia berbohong karena ingin masuk penjara agar mendapat tempat tinggal dan makan gratis.

Menurut pengakuannya saat sebelum diselidiki, Ia hanya ingin hidup tenang. Pihak kepolisian menduga Randika mengalami depresi, dan menyerahkannya kepada Dinas Sosial setempat.

(https://jakarta.tribunnews.com/jakarta/425391/kisah-randika-pemuda-yang-ditemukan-tewas-kelaparan-pernah-viral-ingin-dipenjara-biar-bisa-makan)

Pilu membayangkan apa yang terjadi pada seorang pemuda di negeri ini. Tak punya tempat bersandar, tidak paham bagaimana caranya menyembuhkan dirinya yang sedang depresi. Bahkan meminta bantuan pada pihak berwenang pun tak dapat menuntaskan masalahnya.

Saat diantar ke Dinas Sosial dua tahun lalu, Randika masih belum jelas identitasnya. Sehingga tak bisa diantar ke alamatnya di Lubuklinggau. Kehilangan ayahnya yang membuat dirinya menjadi kehilangan arah. Tak lama, Ia minta diantar ke pulau Jawa untuk mencari anggota keluarganya. Namun nahas, tahun ini Randika ditemukan meninggal mengenaskan di sebuah masjid seorang diri.

(https://www.tvonenews.com/lifestyle/trend/385281-2-tahun-lalu-randika-alzatria-ngaku-mencuri-demi-dipenjara-tapi-ditolak-polisi-kini-ditemukan-md-di-cilacap-surat-terakhirnya-pilu)

Sendirian dan kelaparan yang menyebabkan kematian di negeri ini bukan hanya sekali terjadi. Namun, yang perlu kita cermati mengapa kasus ini berulang terjadi dan bahkan menimpa seorang anak muda yang seharusnya masih memiliki masa depan.

Beberapa faktor yang menyebabkan kasus seperti Randika ini terjadi.

Pertama, adanya keluarga disfungsional yang marak terjadi saat ini. Peran keluarga yang harusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi seseorang, kini semakin “semrawut” keadaannya. Utuhnya suatu keluarga tak mampu dialami banyak individu dewasa ini. Sistem kehidupan yang ada menuntut keluarga berjuang masing-masing. Jauhnya kehidupan keluarga dengan aturan agama memicu keluarga tercerai berai, tak lagi menjadikan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan tempat berlindung yang nyaman. Bisa jadi, akibat perceraian orang tuanya Randika menjadi depresi dan tak tahu ke mana tempat berlindung.

Kedua, minimnya kepedulian sosial masyarakat saat ini. Peran masyarakat amat diperlukan bagi seseorang yang sedang sakit. Entah sakit fisik maupun mental karena suatu hal. Sistem kehidupan saat ini, melahirkan kebanyakan masyarakat yang individualisme. Kebanyakan masyarakat hanya mementingkan kehidupan pribadi maupun keluarganya masing-masing. Di sisi lain, polemik ini terjadi akibat sulitnya keadaan ekonomi, sehingga masyarakat hanya berjuang bertahan hidup sendiri-sendiri. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa kurangnya empati menambah ironi bagi negeri ini.

Ketiga, hilangnya peran pemimpin setempat. Sebagai pemimpin setempat harusnya memerhatikan setiap keadaan warganya. Kesendirian dan kelaparan yang dialami seseorang membuktikan jauhnya jarak antara pemimpin dengan warganya sendiri. Saat ini, pemimpin daerah maupun pusat hanya fokus pada program-program yang menguntungkan mereka. Bahkan, belum ada kesadaran penuh maupun kepedulian pemerintah kepada masyarakat yang mengalami sakit mental, butuh penanganan atau bahkan hanya sekadar pendataan warga yang membutuhkan bantuan khusus. Lambannya penanganan oleh pemerintah atau rumitnya birokrasi mengakibatkan banyak masyarakat menderita hingga harus meregang nyawa. Sungguh amat disayangkan, pada kasus Randika, aparat atau pemerintah di bidangnya (Dinas Sosial) tidak menuntaskan masalah kesehatan mentalnya, sehingga Ia meninggal sendirian dalam kelaparan.

Baca Juga: Tata Kelola Pertambangan

Hidup Tenteram dengan Islam

Islam adalah agama yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dengan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh, tentunya keburukan seperti kasus di atas dapat dicegah. Dalam Islam, keluarga muslim memiliki peran utama yang menjamin pendidikan, keamanan dan kenyamanan seorang individu. Keluarga muslim selalu memiliki visi misi untuk kebaikan kehidupan di dunia dan akhirat. Sehingga nilai-nilai yang ditanamkan selalu sesuai dengan syariat Islam.

Jika terjadi perceraian dalam keluarga muslim, hak seorang anak harus tetap dipenuhi. Seorang ayah tetap harus menafkahi anaknya hingga anaknya dewasa. Kedua orang tuanya wajib menjamin keamanan, pengasuhan yang baik, dan lingkungan hidup yang stabil. Jika orang tuanya tidak mampu, pengasuhan bisa diserahkan ke anggota keluarga dari Ibu maupun dari Ayahnya. Islam mengatur dengan detail konsep pengasuhan anak agar tidak terjadi kerusakan, kekerasan, dan kebinasaan.

Dalam kitab An- Nizham Al Ijtima’i (Sistem Pergaulan dalam Islam), Syekh Taqiyyudin an-Nabhani menyebutkan bahwa pengasuhan anak merupakan suatu kewajiban. Karena jika menelantarkannya dia akan binasa. Serta, dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman:

Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Dalam nas ini menjelaskan bahwa Allah melarang kita untuk membuat kerusakan pada diri kita sendiri maupun orang lain.

Selain keluarga, peran masyarakat amat penting untuk mencegah terjadinya kerusakan bagi seseorang. Dalam Islam, amar makruf nahi mungkar amat dianjurkan demi terciptanya masyarakat Islami. Sehingga kepedulian pada setiap individu akan tumbuh ditengah-tengah masyarakat.

Selain itu, peran pemerintahan Islam kepada seorang warga yang tidak memiliki keluarga apalagi hal ini dialami oleh pemuda, adalah dengan menjamin segala aspek kebutuhannya. Pendidikan, kesehatan (fisik maupun mental), pengawasan, pengasuhan dan kebutuhan pokok orang tersebut ditanggung oleh negara. Pemuda yang masih memiliki masa depan dan kelak menjadi penerus peradaban layak untuk diperjuangkan kehidupannya. Hukumnya wajib bagi negara untuk mengurus warga terlantar apalagi jika akan mengancam keamanan jiwanya.

Negara juga wajib mencegah segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia. Dasarnya adalah sabda Nabi saw.,

Tidak boleh (haram) ada sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibn Majah dan Ahmad)

Betapa mulianya syariat Islam dalam menjaga setiap hak dan nyawa individu. Sejak masa kekhalifahan Rasulullah saw. hingga Khulafaur rasyidin terbukti bahwa hak dan nyawa setiap manusia begitu dilindungi. Keamanan dan kenyamanan setiap warganya dijamin. Berbeda sekali dengan apa yang kita lihat pada negara sekuler saat ini yang seringnya gagal menjaga atau melindungi rakyatnya. Wallahualam []

Penulis: Ayu Lusfita A

(Aktivis Muslimah)