Catatan.co – Ironi Pendidikan: Kesejahteraan Guru Terlupakan. Sejumlah guru dari berbagai organisasi madrasah menggelar demonstrasi di sekitar Monas (Monumen Nasional) Jakarta Pusat, kamis (30/10/2025). Demonstrasi ini digelar untuk menyampaikan aspirasi pengangkatan guru madrasah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau Aparatur Sipil Negara (ASN)
Ketua Umum Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI), Heri Purnama, menyampaikan bahwa aspirasi mereka sederhana, yakni menuntut kesetaraan perlakuan antara guru madrasah dan guru di sekolah negeri. “Di madrasah ada RA, TK, MI, MTS dan Aliyah. Dasar hukumnya sama, undang-undang guru dan dosen, tetapi perlakuannya berbeda. Tidak ada kuota P3K atau ASN untuk guru madrasah swasta,” kata Heri di lokasi. (https://megapolitan.kompas.com/read/2025/10/30/11191021/guru-madrasah-gelar-demo-di-monas-tuntut-diangkat-jadi-pppk-atau-asn)
Ironi Kesejahteraan Guru
Kondisi guru di negeri ini masih jauh dari kata sejahtera. Gaji yang kecil tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga. Guru yang hidup di alam kapitalisme saat ini harus memutar otak agar gaji yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga.
Tidak sedikit dari guru melakukan kerja sampingan agar denyut nadi kehidupan terurus berjalan. Untuk menyambung hidupnya banyak guru yang mempunyai pekerjaan sampingan, semisal les privat, konten kreator, bisnis kuliner, dan lian sebagainya.
Inilah kondisi guru di negara kita, terlebih dengan guru madrasah. Madrasah merupakan sebuah kata dalam bahasa Arab yang artinya sekolah. Di Indonesia, madrasah dikhususkan sebagai sekolah yang kurikulumnya terdapat pelajaran-pelajaran tentang keislaman.
Madrasah di Indonesia terdiri dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi dengan status swasta atau negeri. Guru madrasah mengajarkan pelajaran agama Islam lebih banyak dibanding dengan guru sekolah umum. Pelajaran agama Islam diajarkan lebih spesifik dan mendalam.
Saat ini pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan untuk generasi. Apalagi ketika kita lihat banyak generasi yang mengalami krisis adab. Maka, pendidikan agama menjadi pondasi peserta didik dalam mengarungi kehidupan.
Faktanya, kesejahteraan guru madrasah jauh dari kata layak. Tuntutan ke penguasa berupa aksi demonstrasi sudah sering disuarakan. Suara nyaring guru madrasah sudah diteriakkan. Namun, sampai hari ini suara tersebut tak ada respons sedikit pun dari penguasa. Lantas, dengan cara apalagi agar jeritan guru didengar oleh penguasa?
Inilah ironi kondisi guru madrasah yang jauh dari kata sejahtera. Sebuah ironi dalam sistem pendidikan. Kesejahteraan guru ini erat kaitannya dengan sistem yang diterapkan di negeri ini, yakni sistem kapitalisme.
Jelas, hari ini sistem kapitalisme tidak mampu menyelesaikan permasalah guru. Kesejahteraan guru masih menjadi PR besar di negeri ini. Butuh sistem alternatif agar kesejahteraan dirasakan oleh guru-guru di negeri ini. Sistem yang mampu menyejahterakan nasib para guru, yakni sistem Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt.
Sistem Islam Menyejahterakan Guru
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Menuntut ilmu adalah kewajiban dari setiap muslim. Karena dengan ilmu,manusia mempunyai pegangan dalam mengarungi samudera kehidupan. Namun, mustahil ilmu didapat tanpa seorang guru yang mengajar ilmu.
Baca Juga: Pemuda Mati Kelaparan
Sistem Islam sangat memperhatikan pendidikan. Pendidikan dalam sistem Islam adalah kebutuhan dasar yang wajib dirasakan oleh setiap warga negara. Negara wajib menyediakan kebutuhan pendidikan bagi setiap warga negara, baik muslim maupun nonmuslim, miskin maupun kaya.
Pembiayaan pendidikan bersumber dari kas negara yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam (SDA). Dari pengelolaan SDA ini hasilnya disalurkan berupa pendidikan، kesehatan, dan keamanan untuk seluruh warga negara. Selain itu, sistem pendidikan Islam mampu memberikan kesejahteraan kepada guru. Posisi guru dalam Islam sangatlah dihargai dan dihormati.
Guru memiliki peran strategis dalam mencerdaskan generasi dan kemajuan peradaban bangsa. Dengan posisi dan perannya yang cukup penting dan strategis untuk keberhasilan negara di masa mendatang, maka pemerintah dalam sistem Islam sangat memperhatikan kesejahteraan guru. Salah satu kesejahteraan guru yang diperhatikan dalam sistem Islam adalah terkait dengan penggajian guru.
Negara Islam akan memberikan gaji guru yang tinggi. Dengan gaji yang tinggi maka kesejahteraan guru akan terjamin. Guru akan fokus mengajar tanpa harus memikirkan kerja sampingan. Karena dengan gaji yang diterima dapat memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.
Berdasarkan sirah Nabi dan Tarikh Daulah Khilafah Islam (lihat Al Baghdadi, 1996) negara akan memberikan jaminan pendidikan secara gratis untuk warga negaranya. Selain itu, negara juga memberikan kesempatan yang luas untuk semua warganya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kesejahteraan atau gaji guru juga sangat diperhatikan oleh negara. Sebagai contoh, Khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar di Madinah masing-masing sebesar 15 Dinar emas setiap bulannya (1 Dinar = 4,25 gram emas).
Beginilah cara istem Islam melaksanakan sistem pendidikan. Sistem pendidikan gratis agar semua warga negaranya bisa merasakannya. Fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana memadai, serta gaji guru tinggi sehingga kesejahteraan pun terjamin.
Dengan gaji guru yang tinggi, maka guru akan fokus mengajar untuk masa depan anak didiknya, tanpa memikirkan lagi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Dari sini akan lahir generasi yang berkualitas yang akan mengisi peradaban bangsa.
Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Lia Ummu Thoriq
Aktivis Dakwah Muslimah Peduli Generasi




