Bantuan Pendidikan Asing, Antara Peluang dan Ancaman

Bantuan Pendidikan Asing, Antara Peluang dan Ancaman

Catatan. co – Bantuan Pendidikan Asing, Antara Peluang dan Ancaman. Pemerintah Kota Samarinda menerima kunjungan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Public Affairs Kedutaan Besar Amerika Serikat, John Slover mengatakan bahwa pihaknya berkesempatan mengunjungi sejumlah sekolah menengah atas di Kota Samarinda. Ia mengaku terkesan dengan kualitas siswa maupun sekolah yang ada. Dalam kesempatan ini, ia mengutarakan harapannya agar memberikan dukungan di bidang pendidikan, khususnya dalam membuka akses dan kesempatan bagi pelajar Samarinda untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat.

(https://presisi.co/index.php/read/2026/02/04/19567/kedubes-amerika-serikat-ingin-pelajar-samarinda-lanjutkan-studi-ke-negeri-paman-sam)

Kabar ini, sekilas terdengar seperti peluang emas. Namun, benarkah ini murni sekadar dukungan pendidikan, atau ada misi ideologis yang ingin dicapai?

Misi Politik di Balik Bantuan Pendidikan AS

Amerika Serikat membuat generasi muda tertarik untuk melanjutkan pendidikan di negaranya. Padahal, jika kita telaah lebih mendalam, AS adalah negara yang mengusung ideologi kapitalisme serta kental dengan nilai sekuler dan liberal. Dukungan pendidikan yang ditawarkan oleh negara AS tidak pernah bersifat cuma-cuma. Semua bantuan tersebut memiliki kepentingan untuk menjaga hegemoni globalnya.

Pendidikan adalah salah satu alat soft power paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) dan liberalisme (kebebasan) kepada intelektual muda. Tak heran, output generasi yang dilahirkan kelak menjadi kepanjangan tangan kepentingan AS di negeri sendiri. Ketika generasi muslim belajar ke AS, mereka tidak hanya mengambil ilmu sains dan teknologi, tetapi juga terpapar gaya hidup dan cara pandang AS yang bertentangan dengan Islam. Jelas, sistem pendidikan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) yang diusung Barat telah menghapus orientasi spiritual dan moral dari dunia pendidikan.

Baca Juga: Operasi Epic-Fury

Dukungan pendidikan dengan memberikan akses melanjutkan studi ke AS, tentu bukan semata kunjungan biasa, tapi memang punya misi politik di baliknya. Generasi muda yang sudah terpapar dengan gaya hidup dan cara pandang AS kemudian muncul dalam dirinya rasa “utang budi” serta kekaguman terhadap sistem mereka kemudian dibawa pulang ke negara asal. Saat mereka menjabat di posisi strategis (pemerintahan, akademisi atau media), maka kebijakan yang mereka ambil cenderung pro-Barat.

AS sering kali menarik orang-orang terbaik dari negara Muslim untuk bekerja di sana. Hal ini kemudian secara politik memperlemah potensi sumber daya manusia di negeri asalnya.

Munculnya pandangan Barat sebagai mercusuar pendidikan saat ini tidak lepas dari konsep kapitalis agar ide dan penjajahan mereka tetap langgeng. Melalui penjajahan pemikiran (ghazwul fikri), para pelajar atau intelektual diarahkan untuk memandang Islam hanya sebagai urusan privat. Sedangkan urusan negara, ekonomi, dan hukum harus menggunakan standar “universal”, yakni Barat. Hukum Islam sering digambarkan sebagai sesuatu yang tidak relevan, kuno, dan kejam, sehingga intelektual muslim sendiri merasa malu dengan agamanya.

Oleh karena itu, tawaran studi ke Barat berbahaya bagi umat. Umat bukan mendapatkan ilmu bermanfaat justru sebaliknya para intelektual akan membawa sekaligus gaya hidup, cara pandang (ideologi) dari Barat yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kemudian mereka menjadi kepanjangan tangan Barat untuk kepentingannya dan menjaga hegemoni ideologinya. Padahal, AS sedang menjajah banyak negeri-negeri Muslim baik secara militer maupun pemikiran (ghawzul fikri).

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam

Jauh sebelum Barat mendominasi, Islam telah menjadi kiblat pendidikan dunia. Sejarah mencatat bahwa sistem pendidikan Islam mencapai puncak keemasan selama ratusan tahun di bawah naungan institusi Islam. Negara menjadi pelopor utama pendidikan, membangun madrasah, perpustakaan, dan pusat riset.

Sistem pendidikan Islam tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (sains dan teknologi), tetapi juga membangun syakhsiyah islamiah (kepribadian Islam) yang kokoh. Sehingga mampu melahirkan generasi penerus Islam pelopor perubahan. Islam tidak menutup dari kemajuan, tetapi memfilter setiap tsaqofah asing yang bertentangan dengan akidah.

Tsaqofah adalah ilmu yang diperoleh dari penerimaan (talaqqi), studi pemikiran (seperti sejarah, fikih), pemberitahuan  (ikhbar) yang terikat pada pandangan hidup (ideologi) tertentu. Contoh tsaqofah asing yakni ideologi kapitalisme, sekularisme, liberalisme, atau ideologi sosialisme. Islam melarang mengambil tsaqofah-tsaqofah asing tersebut karena bertentangan dengan akidah Islam.

Adapun yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, maka hal ini diperoleh melalui eksperimen, observasi dan inferensi logis yang bersifat universal dan tidak terkait dengan pandangan hidup tertentu. Maka, Islam membolehkan bahkan mendorong pengambilan ilmu ini dari mana pun asalnya. Seperti ilmu kedokteran, teknik mesin, matematika, atau teknologi AI.

Rasulullah shallallahu’alaihi wassaalam memberikan teladan kebolehan mengambil ilmu duniawi (sains) dari non-Muslim selama tidak bertentangan dengan akidah. Rasulullah pernah menyuruh tawanan kafir Quraisy untuk mengajarkan baca tulis kepada anak-anak di Madinah sebagai pembebasan mereka. Ini menjadi bukti bahwa pengambilan keahlian (ilmu literasi) dibolehkan meskipun dari orang kafir.

Rasulullah saw. bersabda, “Hikmah (ilmu) merupakan barang milik orang mukmin yang hilang. Maka di mana saja ia menemukannya, maka dialah orang yang paling berhak terhadapnya.” (HR. Tirmidzi)

Sistem pendidikan di masa Daulah Islam berhasil memadukan spiritual Islam dengan kemajuan sains dan peradaban. Seperti Ibnu Sina dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” sekaligus telah menghafal Al-Qur’an di usia 10 tahun dan ahli hukum Islam (fikih). Al-Khawarijmi penemu aljabar dan angka nol, sekaligus menggunakan matematika untuk memecahkan persoalan waris dalam Islam. Al-Jazari dikenal sebagai “Bapak Robot dan Teknik Mesin”, juga banyak lagi SDM yang taat serta mendedikasikan ilmunya untuk umat.

Dalam Islam, negara berperan sebagai penanggung jawab penuh sistem pendidikan masyarakatnya. Dengan mekanisme kurikulum berbasis akidah, maka makin cerdas seorang pelajar, makin bertakwalah ia. Fasilitas pendidikan gratis dan berkualitas, seperti yang terjadi di masa keemasan Islam. Sehingga inteletual fokus berkarya tanpa terbebani utang pendidikan atau kepentingan korporasi (kapitalis).

Kembali kepada Sistem Pendidikan Islam

Sudah saatnya menggantungkan harapan pada syariat Allah. Karena sistem pendidikan Islam akan mencetak generasi yang unggul secara hakiki, melahirkan generasi bersyakhsiyah islamiah. Mereka bukan sekadar menjadi karyawan yang laku di pasar industri, melainkan menguasai ilmu sains untuk mengelola bumi (khalifah fil ardh) dan menguasai tsaqofah Islam untuk menjaga kemuliaan diri dan umat. Ini tidak bisa kita dapatkan jika kita hanya mengekor pada sistem pendidikan Barat.

Wallahua’lam bisshawab []

Penulis: Ayu Putri Wandani

(Aktivis Muslimah)