Operasi Epic Fury, Wajah Imperialisme Amerika-Zionis

Operasi Epic Fury, Wajah Imperialisme Amerika-Zionis

Catatan.co – Operasi Epic Fury, Wajah Imperialisme Amerika-Zionis. Timur Tengah memanas. Dunia telah menyaksikan dengan gamblang bagaimana perang antara As-Israel vs. Iran dimulai. Sejak perang dimulai, AS dan Israel melakukan operasi besar-besaran terhadap Iran. Serangan ini diberi nama Epic Fury. Epic fury menurut komando pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) merupakan sebuah operasi kekuatan udara terbesar AS di Timur Tengah semenjak invasi Irak tahun 2003.

Serangan AS dan Israel yang dilakukan pada 28-02-2026 itu telah menghantam 1000 lebih sasaran strategis dalam waktu 24 jam.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20260302144857-4-715227/mengenal-operasi-epic-fury-36-jam-as-israel-bom-iran-bunuh-khamenei

Presiden Donald Trump mengklaim serangan tersebut sebagai upaya untuk melindungi rakyat AS dan menghapus ancaman rezim Iran. Namun, dibalik narasi keamanan yang disampaikan tersebut faktanya telah banyak menimbulkan korban, terutama warga sipil.

Hal ini menunjukkan bahwa serangan AS-Israel sejatinya bukan hanya menyasar tempat strategis saja, tapi juga menyasar warga sipil. Menurut beberapa laporan dan berbagai media internasional kolaborasi AS dan Israel ini merupakan bagian strategi geopolitik jangka panjang untuk menancapkan dominasi mereka di Timur Tengah. Pola yang mereka gunakan pun sama, yakni menghancurkan negara yang berani menentang dan melakukan serangan-serangan brutal. Mereka selalu membungkusnya dengan narasi keamanan dan perdamaian dunia.

Imperialisme Tulen

Kedua negara ini adalah negara imperialisme tulen. Sepak terjang dalam memberikan kerusakan di dunia sudah sangat gamblang terlihat. Persekutuan militer dan ambisi mereka sama, yaitu ambisi untuk menguasai politik global. Mereka tidak akan segan menghancurkan setiap negara yang berani menentang. Mereka akan hancurkan dengan senjata modern meskipun senjata itu terlarang secara internasional, seperti yang dijatuhkan pada warga Gaza akhir-akhir ini.

Iran, salah satu bukti yang ditunjukkan kembali oleh nafsu imperialis mereka. Bagi penjajah, tidak ada kawan yang abadi. Iran pernah berkompromi dengan AS pada masa lalu, tetapi tetap menjadi sasaran kebrutalan mereka tatkala dianggap sudah tidak berguna dan berani menentang kepentingan mereka. Iran pun berusaha untuk digulingkan dengan agresi militer.

Baca Juga: Buaya Mengintai Warga

Serangan terhadap Iran menjadi bukti nyata imperialisme modern. Mereka melakukan operasi militer besar-besaran, menguasai wilayah strategis dan menancapkan pengaruh ekonomi dan politiknya di kawasan. Mereka datang tidak hanya membawa senjata pemusnah tapi juga ideologi mereka. Mereka angkuh merasa sebagai tuan di bumi ini dan negara lain harus tunduk, patuh padanya.

Itulah sejatinya imperialisme, yang digunakan sebuah negara untuk memperluas kekuasaan dan mendominasi pengaruhnya kepada negara lain demi menguasai sumber daya, pasar, ekonomi, politik juga militer.

Negara yang menganut ideologi kapitalisme menggunakan metode imperialisme ini untuk menyebarkan ideologi agar bisa diakui dan diikuti pengaruhnya secara global. Inilah yang sekarang sedang dan akan terus dilakukan oleh AS sebagai kampiun negara kapitalisme.

Lemahnya Penguasa Muslim

Pernyataan Trump bahwa perang tersebut untuk melindungi warga AS adalah sebuah propaganda untuk menutupi hegemoninya. Memanipulasi narasi adalah keahlian busuknya. AS dan Israel berusaha menampilkan diri di pihak yang benar, sedangkan negara lain yang tidak patuh diposisikan sebagai pihak tertuduh dan musuh yang harus diperangi bersama. Jualan mereka tetap sama, yakni demi menjaga perdamaian, stabilitas, dan keamanan wilayah.

Ironinya, penguasa negeri-negeri muslim menutup mata atas kejadian ini. Mereka tidak menyadari bahwa negara kafir tersebut mempunyai kepentingannya sendiri dan akan tetap memusuhi kaum muslim.

Penguasa muslim juga dengan rela memberikan sebagian wilayahnya untuk dijadikan pangkalan militer penjajah. Ketergantungan mereka begitu besar pada perlindungan penjajah mengakibatkan melemahnya kedaulatan politik dan militer negeri-negeri muslim dan tentu saja membuka pintu-pintu penjajahan modern.

Dan letak kelemahan kaum muslim semakin parah ketika mereka mengadopsi paham nation state. Mereka terpecah belah sehingga pergerakan mereka hanya untuk kepentingan nasional masing-masing. Bahkan ada yang setia menjadi penjaga kepentingan penjajah dan berkhianat atas perjuangan sesama saudara di belahan negeri yang lain.

Khatimah

Dengan kejadian ini, seharusnya umat bisa mengambil pelajaran berharga. Umat harus membangun kemandiriannya, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan militer, serta secara tegas menolak intervensi asing dalam segala bentuk. Dengan begitu m, akan hilanglah cengkeraman hegemoni mereka dan dapat memperkuat kekuatan kaum muslimin.

Allah Swt. Berfirman:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, maka lepaslah ia dari pertolongan Allah.

(QS. Ali Imran: 28)

Termasuk meninggalkan paham _nation state_ dan mulai membangun lagi kesatuan Islam untuk bisa melawan imperialisme global. Jadi tidak sekadar membangun solidaritas moral, tetapi membangun kesatuan politik, ekonomi, dan militer yang nyata.

Untuk itu keperluan akan adanya kepemimpinan ideologis sangat penting dan perkara mendesak untuk diwujudkan. Kepemimpinan ideologis ini akan mengarahkan perjuangan umat.

Keberadaan jemaah ideologis di tengah-tengah umat harus serius dalam menjalankan peran pentingnya mengarahkan umat menegakkan kembali Khilafah Islam.

Juga tetap istikamah membangun kesadaran umat agar tidak mudah terprovokasi narasi penjajah. Jemaah ideologis harus serius membina umat, mendidik pemikiran, dan perasaan umat sehingga umat ini memahami hanya dengan sistem Islam mereka bisa terselamatkan dan terhindar dari kemerosotan berpikir dan bisa membentengi diri dari tipu daya orang-orang kafir.

Wallahualam bishowab. []

Penulis: Setyorini

(Komunitas Ibu Peduli Negeri)