Rindu di Pelupuk Mata

Rindu di Pelupuk Mata

Catatan.co – Kisahku. Rindu di Pelupuk Mata. Rindu itu berat, maka jangan biarkan ia terus menggelayutimu. Kerinduan terberat yang dirasakan seorang Muslim di bulan Dzulhijjah adalah rindu untuk kembali mengunjungi Ka’bah, tetapi belum mampu mewujudkannya.

Dahulu, aku kira Dzulhijjah hanya soal haji dan kurban. Tidak pernah terpikir akan menjadi peristiwa penting dalam perjalanan kehidupanku di dunia.

Peristiwa Besar Bulan Dzulhijjah

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, banyak peristiwa penting di bulan Dzulhijjah yang terjadi pada para nabi, seperti diampuninya Nabi Adam oleh Allah, peristiwa Nabi Yunus saat dikeluarkan dari perut ikan paus, doa Nabi Zakaria diijabah, Maryam melahirkan Nabi Isa, kelahiran Nabi Musa dan dirawat oleh Firaun. Kemudian pada 6 Dzulhijjah juga Allah memberikan rahmat dan kebaikan pada Rasulullah Muhammad saw. Bahkan, peristiwa bersejarah di zaman Rasulullah saw., yakni Baiat Aqabah dan Haji Wada juga terjadi di bulan Dzulhijjah.

Masyaallah, sungguh luar biasa dan tak ada yang kebetulan di dunia ini melainkan sudah tertulis dalam Lauhulmahfuz. Pelajaran besar dari kisah ayah dan anak yang taat, yakni Ibrahim dan Ismail ketika mendapatkan perintah membangun Ka’bah serta mendapatkan mimpi untuk mengurbankan Ismail pun terjadi di bulan Dzulhijjah.

Aku rindu sekali dengan cerita guru tentang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Dzulhijjah itu. Rasanya tak akan habis rasa syukur atas setiap rangkaian episode epik yang memberikan hikmah berharga dalam kehidupan.

Bagaimana kita tahu cara berhaji jika dahulu Rasulullah tidak mencontohkannya? Bagaimana kita memahami arti kurban, apabila dulu Nabi Ibrahim dan Ismail tidak bisa menjalankan perintah Allah lewat mimpi itu?

Namun, semua peristiwa besar itu tidak bisa terindra secara langsung olehku. Sebelum kejadian 10 tahun lalu, Dzulhijjah hanya berlalu tanpa makna.

Tahun 1437 H, tepatnya pada tanggal 7 Dzulhijjah, aku mencoba menyempurnakan hijrahku juga agamaku. Seorang lelaki saleh mengucapkan ijab kabul bersama ayahku di hari Jumat pukul 09.45 WIB. Hari itu, aku resmi menjadi seorang istri. Pada hari itu juga Arasy Allah bergetar hingga menggetarkan hatiku.

Perjalanan Cinta

Aku tidak pernah menyangka jodohku datang secepat itu, di saat usiaku belum genap 21 tahun. Waktu itu, aku masih kuliah semester 4. Banyak cita dan mimpi belum tercapai, tetapi Allah berkehendak lain. Sekeras apa pun aku mencoba mengejar mimpi, pada akhirnya Allah juga yang menetapkan apa yang terjadi.

Bukan aku tidak bahagia, melakukan pernikahan secara singkat dengan seorang yang datang secara baik-baik pada ayahku. Hanya saja, jika aku mempersiapkannya lebih matang, mungkin perjalanan cinta kami tidak akan seberat ini.

Hari ini aku rindu ayah, ibu, dan adik-kakakku. Rindu yang terus hadir di pelupuk mata. Mereka tidak jauh, juga tidak sulit dihubungi, tetapi rasanya tetap berbeda. Sebab kini, aku telah menjadi seorang ibu dari 3 anak. Tidak mudah datang dan pergi mengunjungi orang tua, terlebih sebab kami merantau jauh di kota.

Sebetulnya bukan jarak yang menjadi masalah, tetapi butuh dana yang tidak sedikit untuk biaya transportasi kota ke desa juga sebaliknya. Demi menumpahkan rasa rindu, kami harus menyisihkan uang yang cukup untuk ongkos pulang. Selain itu, tentu saja harus menyiapkan kesehatan untuk safar.

Rupanya bulan Dzulhijjah itu memang penuh berkah. Ketika menikah, aku mendapatkan keluarga baru dengan karakter dan kebiasaan baru. Ujian setelah pernikahan yang kujalani juga terhitung tidak mudah. Selain adaptasi dengan suami yang baru kukenal sebulan sebelum pernikahan, aku juga harus tetap menyelesaikan kuliah hingga akhir dalam keadaan hamil anak pertama. Kondisi itu langsung terjadi setelah dua pekan pernikahan.

Aku termasuk orang yang selalu bahagia, mudah akrab dengan siapa saja, dan bebas berekspresi di mana saja. Namun, entah karena hormon kehamilan atau karena memang karakter kami yang jauh berbeda, rasanya adaptasi dengan suami saat itu sangat berat kurasa.

Rindu yang Membuncah

Sebulan setelah pernikahan, aku merasa jadi orang asing di keluarga sendiri. Ayah tidak menghubungiku selama hampir 2 bulan penuh. Saat itu aku masih melanjutkan kuliah di kota. Katanya, “Serasa habis membuang anak“. Saat diajak bicara pun tetap tidak mau. Aku tidak paham bagaimana perasaan ayahku saat itu, tapi aku adalah putri kesayangannya yang cukup dibanggakan. Tiba-tiba di tengah perjalanan belajar di bangku kuliah, ayah menerima niat baik orang asing yang datang meminang.

Mungkin saja ada rasa kecewa, sebab saat resepsi pernikahan kami tidak melakukannya sesuai adat kebiasaan keluarga, meskipun aku sudah mencoba memberikan penjelasan tentang adab pernikahan syar’i. Akan tetapi, keluarga belum siap menerima aturan Islam secara kaffah. Saat itu aku juga belum lama memulai perjalanan hijrah.

Cukup ekstrem cara suami menerapkan dakwah Islam kaffah. Hal itu juga yang memunculkan paradigma keliru tentang indahnya Islam di mata mereka yang belum siap menerima sepenuhnya. Akhirnya, bagiku hanya ada kerinduan yang terus membuncah pada keluarga setelah menikah.

Islam Obat yang Mujarab

Lambat laun, ayah ibuku bisa mulai menerima kami dengan ikhlas, terutama setelah kelahiran anak pertama. Alhamdulillah, saat itu suami mengizinkanku melahirkan di rumah ibu. Meski akhirnya kami harus terpisah jarak yang jauh dalam waktu cukup lama, tapi aku bisa mengobati rasa rinduku dengan keluarga serta memperbaiki hubungan kami yang kurang harmonis sebelumnya.

Waktu itu, keluargaku bukan tidak mau menerima Islam sebagai aturan kehidupan. Mereka hanya belum siap menerapkannya secara keseluruhan dan kami terburu-buru untuk menyempurnakan pengamalannya. Sehingga terjadilah salah paham, bukan karena Islam yang kami sampaikan, melainkan cara menyampaikannya yang kurang tepat.

Hasan Al-Bashri pernah berkata,

اتَّقِ اللهَ، وَاصْبِرْ وَلَا تَسْتَعْجِلْ

Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu-buru.” (Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Selama ini, mungkin kami, aku dan suami, kurang sabar dalam menyampaikan Islam, juga kurang sabar dalam menunggu waktu yang tepat melakukan suatu perkara. Sehingga ketika Allah uji dengan berbagai cobaan dalam satu waktu sekaligus, kami belum siap sepenuhnya. Padahal, Allah yang Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Ujian silih berganti ketika setengah agama telah kami sempurnakan. Ujian terberat hingga saat ini bukan soal ekonomi yang pas-pasan, juga bukan soal mengasuh anak yang cukup menguras energi, tetapi melepaskan ego masing-masing yang masih berusaha menggapai cita-cita yang belum sejalan.

Baca Juga: Koperasi Merah Putih

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, juga tidak bisa dikatakan lama. Sepanjang itu pula suka duka, luka dan bahagia menghiasi kebersamaan kami. Berbekal tujuan dan kerinduan yang sama, kami tetap berjalan beriringan menghadapi badai cobaan dalam perjalanan hidup yang singkat ini.

Alhamdulillah kami dikaruniai putra-putri penghafal Al-Qur’an yang memiliki cita-cita tinggi, yakni mengajak kami mengunjungi Tanah Suci saat besar nanti. Semoga kelak Allah ijabah doa-doa mereka, memboyong kami semua, sekeluarga besar ke Baitullah untuk haji ataupun umrah. Mengobati seluruh kerinduan yang senantiasa bersemayam dalam hati. Sehingga Dzulhijjah bisa jauh lebih bermakna lagi suatu hari nanti.

Bekasi, 24 Mei 2026

Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis: Desi Ummu Idris

Pendidik/Pegiat Literasi