Catatan.co – Solusi Hakiki Kemerdekaan Palestina. Puluhan ribu orang dari seluruh dunia turun ke jalan menyuarakan kemarahan imbas pencegatan armada Global Sumud Flotilla (GSF). Armada kapal ini membawa bantuan berupa obat, makanan sekaligus harapan menuju Gaza, Palestina. Pasukan bersenjata Israel menghentikan sekitar 40 kapal yang berusaha menembus blokade laut Gaza. Bahkan, lebih dari 400 aktivis ditangkap, termasuk aktivis iklim terkenal asal Swedia, Greta Tunberg. (https://www.kompas.com/global/read/2025/10/04/063435970/populer-global-tuntutan-gen-z-maroko-demo-flotilla-dicegat-israel?page=all)
Adanya blokade bukan hanya menghentikan laju kapal, tetapi juga nilai kemanusiaan. Kecaman internasional diarahkan ke Israel usai kejadian ini. Masyarakat dunia sudah muak dengan kesewenang-wenangan mereka. Reaksi ini dapat dilihat dari banyaknya orang-orang yang turun melakukan protes di berbagai kota besar seluruh dunia. Mulai dari Istanbul, Athena, Buenos Aires, Roma, Berlin, Madrid hingga Jakarta untuk mengecam sergapan tersebut. (https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2025/10/03/084500565/belasan-negara-kompak-kecam-israel-atas-pencegatan-global-sumud-flotilla)
Aksi ini membuktikan bahwa kepedulian dunia terhadap penderitaan Gaza tidak pernah surut, meskipun usaha pelayaran GSF secara paksa dihentikan. Israel juga tidak berhenti menumpas segala peluang yang mengarah ke pembebasan ataupun kemerdekaan Palestina. Ini jelas memperlihatkan bahwa Zionis sampai kapan pun tidak bisa ditundukkan kecuali dengan mengirimkan pasukan millter yang seimbang untuk melawan mereka. Bukan dari kelompok mujahidin ataupun kecaman semata.
Two State Solution Bukan Solusi
Hingga saat ini banyak yang berpikir bahwa “two state solution” menjadi jalan paling realistis bagi penyelesaian masalah Palestina. Implementasi solusi dua negara yang sesuai dengan parameter internasional, yakni berupa gencatan senjata dan pengakuan atas kemerdekaan Palestina, dinilai akan menjadi solusi terbaik untuk menciptakan perdamaian yang abadi. Indonesia termasuk negara yang menyerukan perdamaian sekaligus mendorong terealisasinya solusi ini.
Konsep two state solution sejatinya adalah gagasan klise yang terus digaungkan negara-negara adidaya untuk memastikan Palestina dan Timur Tengah tetap membara. Gagasan ini merupakan jebakan politik yang dibuat negara-negara adidaya untuk melanggengkan kepentingan politik dan ekonomi kapitalisme mereka di kawasan yang menjadi jantung negeri-negeri Islam. Hal ini tampak sejak awal munculnya problem Palestina, yakni ketika pada 1922 Inggris mendapat mandat LBB untuk mengurus wilayah ini pasca kekalahan Khilafah Utsmani pada Perang Dunia I.
Saat itu, Inggris sengaja membiarkan migrasi besar-besaran bangsa Yahudi yang terusir dari Eropa ke Palestina dan membiarkan mereka merampas tanah milik bangsa Palestina. Namun, puncaknya justru terjadi pasca Perang Dunia II. Singkatnya, mandat Inggris kemudian dicabut, dan atas inisiatif Amerika melalui PBB keluarlah Resolusi 1947 yang isinya justru meneguhkan konsep solusi dua negara. Tahun berikutnya berdirilah “Negara Yahudi” atas izin PBB.
Setelahnya, Yahudi makin berani membantai dan mengusir bangsa Palestina dari rumah-rumah mereka. Sepetak demi petak tanah kaum pribumi dicaplok, hingga memicu perlawanan terstruktur dari milisi bersenjata yang lahir dari tubuh rakyat Palestina. Ini berawal dari peristiwa yang disebut-sebut sebagai “hari kemerdekaan bangsa Yahudi” hingga menjadi bencana (Nakba) yang jauh lebih besar lagi. Sudah tidak terhitung berapa ribu jiwa rakyat Palestina melayang.
Solusi Hakiki
Di sisi Allah Swt. jiwa seorang muslim lebih berharga dari hancurnya dunia. Sebagaimana Rasulullah Saw. mengingatkan, “Sungguh, lenyapnya (kehancuran) dunia ini, lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan atas seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Baca Juga: Kebiadaban Zion*s
Di bawah kendali Amerika, perjanjian demi perjanjian pun dilakukan demi solusi dua negara yang terus digadang-gadang bisa menghentikan konflik bangsa Yahudi dan Palestina. Hingga hari ini, perbincangan atas solusi Palestina di semua meja pertemuan politik para pemimpin dunia, termasuk para penguasa muslim, terus berputar di sekitar gagasan solusi dua negara ini. Padahal, sudah sangat jelas bahwa ini merupakan tipuan Barat dan tidak akan pernah mampu menciptakan perdamaian yang diharapkan.
Sejarah membuktikan tentara Salib dahulu mampu dikalahkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Sebelumnya hampir 90 tahun Yerusalem berada di bawah kekuasaan kaum Nasrani, penduduk muslim di Baitulmaqdis banyak mendapat perlakuan yang buruk dari mereka. Banyak terjadi pelanggaran perjanjian dan kesepakatan. Namun, di bawah komando Salahuddin kaum muslim berhasil membebaskan kembali Baitulmaqdis dari tangan orang-orang kafir, tepatnya pada 27 Rajab 583 H (1187 M).
Setelahnya, kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani, hidup berdampingan dengan aman sejahtera selama sekian ratus tahun. Sebelum kembali dikuasai Inggris melalui perjanjian Ballfour yang mana ini juga menjadi awal kedatangan Zionis lalu menguasai tanah Palestina.
Sebelumnya, Palestina juga pernah dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. dari tangan Romawi pada 16 H (637 M). Khalifah Umar berhasil membebaskan Al-Quds dan seluruh penduduknya dari kezaliman penguasa Romawi yang pada akhirnya menyerah tanpa peperangan karena mereka bersedia berdamai.
Dari sini kita melihat, bahwa tidak sekali dua kali Palestina pernah tertindas. Namun, hanya dengan mengirimkan pasukan militer dalam satu komando yang mampu menghentikan penjajahan di Palestina. Karena bangsa Zionis Yahudi tidak bisa memahami kesepakatan jalur damai maupun diplomasi. Ini hanya akan terjadi ketika umat Islam memiliki persatuan dalam satu kepemimpinan.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Imam (pemimpin/khalifah) adalah perisai (pelindung). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah dan berlaku adil, maka baginya pahala. Dan jika ia memerintahkan yang selain itu (yakni berbuat zalim atau maksiat), maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah solusi hakiki Palestina agar terbebas dari segala penjajahan dan genosida sekaligus menyelematkan umat muslim di seluruh dunia dari penindasan.
Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Siti Nur Aisyah
Mahasiswi




