Catatan.co – KISAHKU. Ujian Hidup Mengajarkanku Ketaatan Kepada Allah (Part 2). Tepat di bulan Ramadan, di mana umat Islam fokus beribadah menjalankan puasa, suami kubangunkan untuk sahur. Namun, ia menolak untuk sahur dan puasa, ia berdalih bahwa hal itu adalah kebiasaan dari awal sebelum menikah.
Setelahnya, ada saja masalah yang dibuat suami, kebiasaan masak di bulan Ramadan untuk sahur dan berbuka tidak bisa kulakukan di rumahku. Ia meminta kopi dan sarapan seperti biasa, walaupun dia dalam keadaan tidak bekerja. Aku tidak menghiraukannya, dan membuatnya marah dan membuat rusuh di dalam rumah. Aku sudah tidak peduli lagi, terserah apa yang diperbuatnya. Hidup bersamanya makin hari membuat aku makin jijik. Bahkan ketika ia meminta haknya, dekat saja sudah membuatku enggan. Astagfirullah.
Menyadari kebencianku kepadanya makin parah, ia mengatakan kepada anak pertama kami jika sebaiknya ia pergi ke Jawa. Tanpa mengatakan apa pun kepadaku, dijualnya motor yang baru lunas kami cicil dari tetangga untuk ongkos ke Jawa. Ketika malam menjelang Isya, kudengar suara mobil travel di luar rumah dan suaranya berpamitan kepada anak-anaknya. Aku hanya cuek diam di dalam kamar.
Setelah kepergiannya, rumah serasa luas rasanya, tidak ada lagi rasa takut dan umpatan yang membuat ngilu hati. Aku tidak mempermasalahkan motor, dengan kepergiannya saja aku sudah merasa lega, dunia serasa sangat luas ternyata. Selama ini aku hidup terasa tertekan dan sempit.
Beberapa hari anak-anak masih tidak mendapat kabar dari ayahnya, bahkan sampai hari raya tiba. Dua hari setelah Lebaran, anak pertamaku mengatakan ayahnya membuat status di WA memangku anak laki-lakinya yang sama-sama memakai kopiah, salat di depan teras mesjid. Aku tidak bisa melihat di status WA-ku, mungkin ia privasi.
Masih di suasana Lebaran, aku mulai chat WA suami dan meminta maaf lahir dan batin, aku memberikan kabar bahwa aku bersiap mengurus surat cerai dan meminta tolong agar tidak mempersulit. Aku mau hidup bersama anak-anak dan melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Mendengar keputusanku, seperti biasa dia emosi mengancam membakar rumah dan mau membunuhku. Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan meneruskan pernikahan tidak jelas ini.
Kabar datang dari kakak laki-lakiku di Jawa, beliau mengatakan bahwa ayahnya anak-anakku datang dan memintanya membujukku untuk membatalkan gugatan perceraian. Keluarga di Jawa memikirkan bagaimana nasib anak-anak, apalagi anak pertama kami baru saja ditinggal pergi suaminya. Ternyata suami bisa juga memikirkan nasib anak-anak. Lantas ketika anak bermasalah, ke mana sosoknya selama ini? Sosok suami dan ayah hanya gagah, keras, kasar kepada istri dan anak saja.
Aku menceritakan permasalahan yang selama ini kupendam sendiri kepada kakakku. Entah apa yang disampaikan oleh suami pada saat itu, keluargaku malah menyalahkan keputusanku. Kakakku mengatakan aku berani memutuskan perceraian dengan ayahnya anak-anakku hanya kenekatan konyol gara-gara aku terbawa kajian menyesatkan.
Berbeda lagi dengan keluarga suami, ketika aku menelepon mereka meminta maaf selama menjadi seorang menantu di keluarganya. Jika mertua perempuan hanya bisa menangis ketika aku bertanya mengapa mendiamkan dia menikah lagi, padahal mereka tahu kelakuan suami sebelum dan sesudah merantau. Sedangkan bapak mertua dengan entengnya mengatakan kalau aku sudah memiliki laki-laki lain yang kaya, makanya aku berani menceraikan suami. Astagfirullah, fitnah yang sangat keji.
Aku sempat terpukul mendengarnya, sambil menangis aku masih bisa menjelaskan, kalau kami di sini tinggal di kontrakan bersebelahan dengan keluarga suami. Anak-anakku pun sudah pada besar, seandainya aku berbuat yang macam-macam pasti mereka lebih tahu karena mereka selalu ada di sampingku. Aku juga mengatakan semoga apa yang diucapkan oleh bapak mertua menjadi doa bagiku, andaikan Allah memberikan kesempatan aku berjodoh lagi dengan orang kaya.
Proses perceraian akhirnya selesai dengan dua kali persidangan, setelah tidak ada mediasi karena suami posisi di Jawa. Bisa jadi ketika ada surat panggilan ia juga tidak mau datang, sehingga membuat jalan persidangan lancar. Aku sangat berterima kasih dengan Umi dan keponakan suami yang bersedia menjadi saksi perceraian. Akhirnya resmilah aku menjadi janda. Tidak ada tuntutan macam-macam yang kupinta karena percuma tidak akan mendapatkan apa-apa. Anak-anak tetap bersamaku, aku menjanda, dan anakku berstatus istri tapi tidak ada suami.
Status janda dan anak pertamaku yang ditinggal suami membuat orang memandang rendah kami. Keluarga mantan suami yang tadinya baik, mulai menampakkan aslinya. Setiap kesalahan kecil ada saja agar aku terpancing emosi, tapi aku berusaha untuk mengendalikan diriku. Setiap salat aku selalu berdoa memohon perlindungan Allah dari sifat orang yang iri dengki, benci, dan hasut. Di dalam salat tahajud aku mengadu kepada Allah untuk dikuatkan fisik dan kewarasan jiwaku. Hanya kepada-Nya aku mohon ampun atas dosa dan kesalahan yang aku sadari maupun tidak.
Tuntutan bekerja dan bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, bayar kontrakan, tarif listrik yang tinggi karena beban Watt sangat besar, dan harus gabungan sama tetangga membuat aku terbebani. Karena aku bekerja setrika memakai listrik. Jika ada kenaikan melebihi jatah tetangga sisanya aku yang bayar lebih besar, tapi aku bersyukur masih bisa mengatasinya.
Ujian seolah masih belum berhenti dari bayang-bayang mantan suami. Istri paman mantan yang memang sifatnya kekanakan selalu mengikuti nafsunya. Aku yang bekerja di dalam rumah mendengarkan anak-anak yang main di teras rumahnya. Kudengar dari dalam rumah suara anak keduaku. Ia paling besar di antara anak-anak lain yang bermain di teras, usianya 8 tahun, sedangkan cucu sepupu mantan suami 4 tahun, dan anak paman usia 2 tahun.
Aku mendengar anakku main sama cucu sepupu, dan anak paman menangis karena anakku tidak mau berteman dengannya. Kudengar ia mengadu kepada ibunya yang menuruti anaknya sambil mengomeli anakku. Dari dalam kuingatkan anakku agar tidak mengikuti anak kecil, semarah-marah apa orang tuanya, sebentar anak balik main lagi. Kulihat anakku masuk rumah dan langsung ke kamar kakaknya yang sedang keluar. Tidak lama anakku masuk, paman ayahnya yang biasa dipanggil ‘mbah’ sama anakku itu mengejarnya sampai ke kamar anakku dan mengomelinya karena tidak mau berteman dengan anaknya.
Ia mengusir kami karena tanpa keluarga ayahnya tidak akan bisa di sini. Aku yang dari tadi menyetrika baju segera mendatanginya dan mengingatkan kalau dia itu orang tua yang tidak pantas gara-gara masalah anak, sampai mengejar anakku yang juga cucunya ketakutan. Aku juga mengingatkan kalaupun kami bisa di sini sampai saat ini, karena kami juga bayar kepada pemilik tanah. Aku melanjutkan, kalau ia mau kita pergi dari sini apa mau bayar biaya rumah yang aku bangun, karena kebetulan kami juga sudah tidak betah di lingkungan sini. Karena aku bicara tegas dengan emosi, mau tidak mau dia akhirnya pergi meninggalkan rumahku.
Menjadi seorang janda harus kuat dalam menghadapi kehidupan, apalagi di lingkungan toxic. Sebelum menjadi janda dan sesudah janda banyak perbedaan. Jika dulu memiliki suami sekalipun tanpa status, tetangga sekitar baik selalu senyum dan menyapa jika berpapasan. Akan tetapi, ketika sudah menjadi janda, berpapasan di jalan saja kita mau senyum sudah buang muka. Apalagi kalau yang ibu-ibu lagi berboncengan dengan suaminya. Aku tak habis pikir apa yang mereka lihat dariku. Jadi suuzan sendiri apakah mereka ketakutan suaminya berpaling karena kami janda?
Tahun 2019 terjadi wabah virus Covid-19 dengan kebijakan “Jaga Jarak” yang mengharuskan masyarakat beraktivitas di rumah, setahun setelah operasi, penyakit kistaku ternyata tumbuh kembali hampir 8 cm. Aku sempat stres dan takut ke rumah sakit. Karena akibat adanya virus Covid-19 banyak orang sakit menahun dan ringan, pulang meninggal dunia dinyatakan kena virus ganas tersebut.
Aku bertekad harus sembuh, setiap salat memohon kesembuhan kepada Allah, anak dan cucuku butuh aku untuk tempat mengadu. Aku ikhtiar mulai dengan pengobatan rempah sampai akhirnya terapi minum 2 jeruk nipis dengan kelipatan dua setiap harinya, sampai sebanyak 30 buah di 15 hari. Setiap pagi aku minum ketika perut masih kosong. Atas kehendak Allah kista di tubuhku dinyatakan dokter hilang, walau badan sempat kurus tinggal tulang.
Kawan-kawan kajianku sangat perhatian mereka silih berganti berdatangan, memberikan semangat hidup dan bantuan materi. Aku yang sempat stres dengan adanya virus Corona karena tidak bisa bekerja akibat kebijakan “Jaga jarak” dan semua harus beraktivitas di rumah membuat aku tidak bisa lagi mencari nafkah.
Atas kehendak Allah, Ia mengirimkan bantuan melalui teman-teman kajian, dan orang-orang yang mengenalku. Dari bahan sembako mulai beras, minyak, tepung, gula, teh, mi instan, susu yang terus berdatangan. Karena ada kelebihan, sembakoku kusedekahkan kembali kepada tetangga yang terdampak Covid. Kuasa Allah, bukannya berkurang, malah makin banyak sedekah kepadaku berdatangan.
Allah sangat menyayangiku dengan memberikan kemudahan, aku ikhtiar menawarkan rumah gubukku ke pemilik kontrakan untuk bayar uang muka kontrakan baru, dai ia mau membelinya. Kami sudah tidak betah tinggal di lingkungan keluarga mantan. Akhirnya kami keluar dari lingkungan toxic ini. Kusewa mobil pick up tetangga lamaku untuk mengangkut barang perabotan rumah. Tidak bosan-bosan aku bersyukur kepada Allah, ternyata tetanggaku tidak mau menerima uang sewa.
Di tempat baru lingkungannya lebih baik, anak-anakku betah tinggal di kontrakan baru. Anak pertamaku membuka kios kecil-kecilan sambil kerja di toko tetangga perumahan tempat kami tinggal.
Enam bulan aku tinggal di kontrakan baru, Allah mendatangkan jodoh untukku yang sebenarnya belum ada kepikiran mau menikah dan berumah tangga lagi. Aku berharap, anakku yang baru selesai mengurus surat cerai setelah hampir 2 tahun tidak ada kabar dari suaminya akan ada yang melamarnya. Namun, nasib berkata lain, ternyata emaknya yang duluan dilamar orang. Kita tidak tahu rencana Allah Swt., tugas manusia hanya bisa tunduk dan mengikuti apa kehendak-Nya.
Aku dan suami baru beda hampir 30 tahun setahun lebih tua dari bapak kandungku. Berawal dari inbox di Messenger FB yang awalnya kucuekin, ujungnya malah serius mengatakan kalau tujuannya adalah cari istri. Iseng-iseng kutanyakan pekerjaannya, ia menjelaskan bahwa ia seorang pensiunan Kepala Kantor Pos dan usaha kontrakan rumah, insyaallah bisa mencukupi kehidupan kami. Ia memiliki dua orang anak, satu di Kalimantan Sebulu yang bekerja sebagai administrasi perusahaan kelapa sawit dan sudah menikah. Sedangkan anaknya yang kedua pada saat itu belum bekerja.
Aku menceritakan kondisi keadaanku tanpa kututupi, dan aku menantangnya kalau memang serius silakan datang ke Jawa Timur melamarku. Dari Bandung, Jawa Barat, suami meminta bantuan iparnya adik dari almarhumah istrinya yang tinggal di Kota Malang melamarku ke orang tua di Jawa Timur. Sebelumnya, aku mengabari orang tua dan keluarga untuk menerima kedatangan mereka. Keluarga dan orang tua sempat kaget melihat usia suamiku yang sudah berusia seumuran bapakku, tapi mereka mau juga menerima lamarannya.
Sesudah mendapat restu dari orang tuaku untuk menikah, akhirnya beliau terbang ke Kalimantan. Kebetulan ada anaknya yang bekerja di Sebulu, Kaltim. September beliau melamarku, bulan Oktober kami menikah di KUA Bontang. Anak-anak menerima bapak barunya dengan panggilan Abi. Akhirnya kami memiliki sosok seorang laki-laki seutuhnya di dalam rumah. Suamiku yang pensiunan dan tidak bekerja lebih banyak di rumah mengantarku belanja, mengantar anak kedua sekolah, bahkan sampai pekerjaan mencuci pakaian sekalipun yang tidak pernah dilakukan suami terdahulu kecuali saat aku melahirkan.
Baca Juga: Subsidi Pendidikan
Kedamaian dan ketenangan di dalam rumah tangga baru bisa kurasakan bersama anak-anak. Suami tidak mempermasalahkan kondisi anakku yang janda, bahkan ia juga mengasuh cucuku jika ditinggal ibunya bekerja. Anak-anak juga sangat menghormati suamiku. Suami keduaku ini suka sekali mengumandangkan azan setiap salat lima waktu di mana pun berada, bahkan di mana pun kita singgah di berbagai masjid ketika safar. Aku dan anak-anak di perintahkan salat berjemaah di rumah, dan belajar puasa sunah setiap Senin dan Kamis.
Atas kehendak Allah, hidup kami makin terasa tenang dan damai sehingga akhirnya anakku memutuskan untuk menikah lagi. Atas restu dan persetujuan ayahnya dengan wali hakim, akhirnya terlaksana juga pernikahan kedua anakku. Suami baruku mengurus dan membantu acara kecil-kecilan dengan acara pernikahan tamu laki dan perempuan terpisah (infhisol).
Setelah anakku menikah, suami memutuskan kami pindah ke rumah beliau di Bandung bersama anak keduaku. Anakku ikut suaminya tetap tinggal di Bontang. Kami bertiga tinggal di Bandung selama dua bulan. Ujian datang dari anak kedua suami yang kurang menyukai kehadiran kami yang usianya tidak jauh dariku. Aku dan anakku dianggapnya parasit yang menumpang hidup bersama bapaknya. Ketegasan suami mendengar pernyataan anaknya dengan memutuskan kami untuk pindah ke Ciawi, Tasikmalaya, di rumah kontrakannya.
Ciawi, Tasikmalaya daerah kabupaten, rumahku kebetulan dekat jalan umum sehingga berisik suara mobil dan motor. Walaupun rumah tua yang kami tempati hasil dari uang pensiunan suami, tetapi bangunannya masih kokoh. Setiap Jumat aku mengadakan kajian bersama teman-teman dan ibu-ibu di kampung. Anakku sekolah di ponpes (pondok pesantren) setiap satu bulan sekali kami diizinkan berkunjung. Hari-hariku berdua dengan suami kami isi dengan aktivitas dakwah.
Sekalipun usia suamiku lebih tua dariku, fisik beliau sangat kuat, rajin olahraga, makanan terjaga dengan puasa, inilah cara mengendalikan pola hidupnya. Hari-hari kuisi waktu dengan menuntut ilmu Islam kafah, memahami, dan berusaha menerapkan serta mengamalkan di dalam kehidupan. Bukannya tidak ada ujian, jauhnya perbedaan usia kami membuatku dituntut untuk senantiasa belajar sabar. Apalagi tipe suami yang memiliki sifat keras di dalam memutuskan segala hal, karakter sebagai bos kadang masih melekat pada dirinya.
Sekeras-kerasnya prinsip suami di dalam hal berpendapat masih hal wajar dan tidak keluar dari syariat Islam. Suami betul-betul memberikan pelayanan nafkah lahir dan batin. Tanggung jawabnya di dalam rumah tangga, bahkan kepada anak keduaku melebihi tanggung jawab mantan suami yang ayah kandungnya sendiri. Dari hal kebutuhannya, pendidikan, dan kesehatannya, serta perhatian masa depan anakku beliau sudah mempersiapkan.
Karena seorang pensiunan dengan gaji kecil, suami sangat berhati-hati di dalam mengelola uangnya agar kami tidak konsumtif. Aku berusaha mengerti kondisi suami apalagi ia juga selalu memenuhi kebutuhan kami, begitu pun ketika aku butuh uang untuk kebutuhan dakwah.
Masyaallah, dengan keahliannya mengelola keuangan dan usaha rumah kontrakannya, ia mendaftarkan bapak, ibu, dan aku untuk beribadah umrah ke tanah suci Makkah pada bulan November 2026. Sedangkan ia tidak berangkat karena sudah berhaji, dan mendahulukan orang tuaku yang berkeinginan berangkat umrah.
Aku menyibukkan diri dengan terus menuntut ilmu Islam kafah yang banyak ketinggalan. Dari satu kajian ke kajian lainnya. Aku juga aktif interaksi ke lingkungan rumah dengan ikut pengajian RT, ke masjid agung, kontak masyarakat, dan tokoh sehingga jarang waktuku terisi hal sia-sia. Kalaupun ada waktu kosong dan senggang, aku isi dengan menulis opini, share berita, dan menjadi editor media.
Pelajaran yang aku dapatkan dari perjalanan kisah hidupku dari awal hingga akhir pastinya butuh proses kesabaran besar. Kita saat ini hidup dalam sistem rusak. Kita butuh aturan yang berasal dari syariat dan hukum-hukum Allah. Sementara peran negara tidak ada untuk menciptakan masyarakat yang beriman dan bertakwa.
Sebagai seorang manusia dan seorang muslim, tentu kita harus memahami dari mana kita berasal, untuk apa hidup kita di dunia ini, dan mau ke mana setelah kehidupan ini? Jika kita sudah mampu menjawab tiga pertanyaan tersebut, kita pasti bisa menjalankan kehidupan ini dengan akidah yang benar dan mampu menyelamatkan setiap problem dengan pikiran yang jernih.
Karena manusia itu berasal dari Allah, kita adalah hamba yang wajib taat akan perintah-Nya dengan syariat dan hukum-hukum-Nya. Adanya KDRT, karena seorang suami tidak memahami tentang agama yang mengajarkan sebagai seorang pemimpin keluarga. Terjadinya perselingkuhan akibat interaksi campur baur laki-laki dan perempuan tidak ada batas halal haram di dalam pergaulan. Tidak adanya amar makruf nahi mungkar menjadikan lingkungan toxic, individualis, merasa bukan urusannya sekalipun mengetahui ada tetangga melakukan kekerasan fisik.
Pemahaman masyarakat tentang Islam yang tidak keseluruhan (kafah) hanya dipahami sebagai agama ritual menjalankan rukun Islam. Padahal, Islam juga mengatur ibadah, pergaulan, sosial, politik, dan hukum. Kita hidup di dunia memiliki tujuan dan aturan. Tentu saja aturan tersebut berasal dari Allah Swt. Sang Pencipta.
Rumah tangga adalah ibadah paling lama, pastinya membutuhkan ilmu. Suami istri harus memiliki satu visi dan misi agar terbentuk sakinah mawadah warahmah. Seorang suami harus memahami tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin keluarga dan pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Tujuan manusia hidup di dunia adalah untuk ibadah. Sekeras apa pun ujian yang kita hadapi, selama kita senantiasa melibatkan Allah, maka Allah akan menolong kita. Adapun jodoh, rezeki, sudah Allah tentukan. Bahkan sekeras apa pun kita bekerja hingga menjauhkan diri dari Allah, hanya akan mendapatkan capek, sementara dunia tidak akan pernah bisa kita raih. Karena sesungguhnya dunia adalah permainan, tempat masalah, sakit, dan lelah. Ambillah kenikmatan materi dunia secukupnya sebagai rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan.
Fokus mengejar dunia tidak akan pernah merasa terpuaskan. Tujuan hidup di dunia adalah menanam amal saleh karena setelah kematian akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Allah menciptakan manusia beriman dan kafir. Allah juga telah menyediakan bagi orang beriman dan bertakwa dengan kenikmatan surga. Sedangkan yang kafir tempatnya di neraka.
Tidak adanya peran negara membentuk masyarakat bertakwa di dalam sistem sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) menghasilkan banyak masyarakat salah arah. Kehidupan serba bebas, emosi tidak terkontrol, konsumtif, dan tuntutan gaya hidup menjadikan umat Islam tidak peduli akan halal dan haram. Umat Islam membutuhkan dakwah Islam kafah agar memahami arah tujuan hidupnya di dunia dan amal saleh sebagai bekal hidup di akhirat.
Umat Islam adalah khoiru ummah, manusia terbaik yang selalu mengajak kepada kebaikan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)
Tidak ada kata terlambat bagiku untuk terus menuntut ilmu dan berusaha menerapkan serta mengamalkan Islam di dalam kehidupan bersama komunitas dakwah Islam kafah. Allah mengirimkan seorang suami kepadaku untuk mengangkat derajatku yang tadinya tidak mau tahu tentang ilmu agama, ternyata aku sangat membutuhkannya dalam menjalankan kehidupan ini. Kelamnya masa, bukan untuk disesali atau diratapi. Setiap peristiwa dan musibah akan aku jadikan pelajaran di dalam hidupku untuk menjadi teladan anak-anakku agar kuat dan sabar menjalankan kehidupan dengan senantiasa melibatkan Allah dalam lindungan-Nya.
Semoga Allah memberikan keberkahan di dalam rumah tangga kami dan memberikan anak-anak yang saleh dan salihah sebagai penyenang hati kami.
Wallahualam bissawab. []
Penulis: Siti Mukaromah
(Aktivis Dakwah


