Ritual Adat dan Lapak UMKM Ramaikan Nutuk Beham 2025 di Desa Kedang Ipil

Catatan.co, TENGGARONG – Desa Kedang Ipil kembali menggema lewat Festival Nutuk Beham 2025. Selain merawat adat, kegiatan ini menghidupkan ekonomi warga dan memperkuat keterlibatan pemuda dalam pelestarian budaya lokal.

Festival Adat Budaya Kutai Lawas Nutuk Beham 2025 resmi digelar pada Jumat (9/5/2025) dan menjadi bukti bahwa desa ini tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal.

Kepala Desa Kedang Ipil, Kuspawansyah, menyebutkan bahwa penyelenggaraan tahun ini terasa jauh lebih meriah dibandingkan sebelumnya.

Tak hanya pengunjung yang meningkat, jumlah pelaku UMKM dan komunitas adat dari luar daerah pun ikut ambil bagian.

“Festival adat Nutuk Beham tahun ini lebih meriah. Dari segi pengunjung, pelaku UMKM, dan komunitas adat yang hadir, semuanya meningkat. Ini jadi bukti bahwa kegiatan budaya desa kami memiliki daya tarik yang makin kuat,” ujarnya.

Festival yang berlangsung selama tiga hari ini tetap menjadikan ritual adat sebagai pusat kegiatan.

Prosesi menumbuk padi oleh tokoh adat perempuan dan doa bersama dipimpin tetua adat dilakukan dengan khidmat di Balai Adat Desa, diiringi musik dan tarian tradisional yang menggambarkan kehidupan agraris masyarakat Kutai tempo dulu.

“Acara intinya tetap meriah dan tidak ada pengurangan. Doa adat tetap menjadi pusat acara. Kita tetap jaga marwah dan kesakralan tradisi, agar tidak kehilangan jati diri,” tambah Kuspawansyah.

Yang tak kalah menarik, geliat ekonomi warga selama festival pun meningkat. Lapak UMKM tumbuh subur di sepanjang area acara. Mulai dari kuliner tradisional, kerajinan rotan, hingga kain khas Kutai, semua menyemarakkan suasana.

Salah satu pelaku UMKM lokal, Rahayu (38), warga RT 3 Kedang Ipil, mengaku bersyukur bisa kembali berjualan kue tradisional saat festival. Ia bahkan mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp1 juta per hari selama acara berlangsung.

“Kalau acara seperti ini, kita warga sangat terbantu. Dagangan cepat habis, apalagi banyak yang datang dari luar kampung,” ungkap Rahayu sambil melayani pembeli di lapaknya yang menjual kue cincin dan lemang.

Senada, Adi Prasetyo (21), pemuda desa yang menjadi panitia bidang media sosial, mengatakan keterlibatan anak muda di tahun ini meningkat. Mereka membantu promosi kegiatan lewat Instagram dan TikTok, serta mendampingi tamu dari luar daerah.

“Kita ingin tunjukkan bahwa desa kita punya potensi. Budaya jangan hanya orang tua yang jaga, anak muda juga harus bangga,” ujarnya.

Festival Nutuk Beham tahun ini juga dihadiri komunitas adat dari Balikpapan, Samarinda, hingga Banjarmasin. Bagi warga desa, ini menjadi momentum memperkenalkan kearifan lokal mereka sekaligus memperluas jejaring.

“Kita senang karena semakin banyak yang datang dari luar. Ini juga jadi ruang pertukaran budaya dan memperluas jaringan kerja sama antarkomunitas adat,” jelas Kuspawansyah.

Demi kelancaran acara, Pemerintah Desa Kedang Ipil berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar serta Serikat Budaya Kutai Kartanegara.

Dukungan logistik dan teknis disiapkan agar acara berjalan lancar tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

“Nutuk Beham bukan sekadar pesta rakyat. Ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap leluhur. Maka harus dijaga nilai-nilainya,” tegas Kuspawansyah.

Festival ini menjadi kebanggaan Desa Kedang Ipil, sekaligus wajah asli dari desa yang terus menjaga akar tradisi di tengah arus modernisasi.

Pengunjung yang ingin menikmati festival bisa menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Tenggarong, melewati jalur poros darat melalui Desa Suka Bumi, Sari Nadi, dan Sedulang.

Meski cukup jauh, keramahan warga dan keindahan alam desa menjadi penyambut yang tak terlupakan.