Catatan.co – OPINI. Potret Kelam Generasi Sekuler: Kesepian di Tengah Keramaian. Saat ini, kita hidup di zaman di mana manusia begitu mudah terhubung. Ribuan teman di media sosial, puluhan grup WhatsApp, dan komunikasi yang bisa dilakukan kapan saja dengan siapa saja. Anehnya, makin ramai dunia, makin banyak pula orang yang merasa sendirian.
Ada yang bisa tertawa di depan kamera, tetapi menangis ketika sendirian. Ada yang terlihat sukses, padahal sedang berantakan di dalam. Ada pula yang berpendidikan tinggi, berpekerjaan bagus, dan hidup berkecukupan secara materi, tetapi hatinya tetap terasa kosong.
Luka Itu Nyata
Dua peristiwa yang terjadi belakangan ini kembali mengingatkan kita bahwa persoalan kesehatan mental generasi muda tidak bisa dianggap sepele. Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berusia 19 tahun diduga melakukan percobaan bunuh diri, dan seorang pria berusia 30 tahun ditemukan meninggal di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Dua peristiwa yang berbeda, tetapi menunjukkan luka yang sama. Generasi yang tampak baik-baik saja dari luar, ternyata sedang bertarung sendirian di dalam.
(https://www.kompas.id/artikel/diduga-berniat-bunuh-diri-mahasiswa-kedokteran-universitas-brawijaya-lompat-dari-lantai-6-kampus)
Persoalan ini tidak cukup dilihat sekadar sebagai masalah individu atau kurangnya layanan kesehatan mental. Bantuan psikolog, psikiater, konselor, dan layanan krisis tetap penting. Mereka yang sedang berada dalam kondisi berat harus ditolong, bukan dihakimi. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita juga perlu menengok sistem kehidupan yang ikut membentuk manusia seperti ini.
Agama Dipisahkan dari Kehidupan
Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akidah sering kali hanya ditempatkan di ruang ibadah, sementara pendidikan, ekonomi, pekerjaan, dan kehidupan sosial berjalan dengan standar yang sama sekali berbeda. Generasi pun dibentuk untuk mengejar kesuksesan individu, yakni harus pintar, produktif, berprestasi, terlihat bahagia.
Baca Juga: Hutan Terbakar
Padahal, manusia bukan mesin. Ada kegagalan, kehilangan, tekanan, dan takdir yang tidak selalu sesuai rencana. Ketika nilai diri hanya diukur dari pencapaian, kegagalan bisa terasa seperti akhir dunia.
Di sisi lain, penerapan sistem kapitalisme hari ini telah melahirkan masyarakat yang kian individualis. Semua orang sibuk mengejar target masing-masing. Tak peduli terhadap fakta ataupun kondisi di sekitar.
Teman banyak, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu keadaan kita. Tetangga berdekatan, tetapi tidak saling mengenal. Bahkan, satu keluarga tinggal serumah, tetapi masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Pada akhirnya, seseorang merasa harus menghadapi semuanya seorang diri.
Solusi Islam
Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Islam menawarkan cara pandang yang berbeda.
Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa. Hidup dipahami sebagai amanah dan ujian dari Allah Swt.
Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ketika mendapat nikmat, seorang Muslim bersyukur. Ketika diuji, ia bersabar. Allah pun menjanjikan bahwa, _”Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6)
Begitupun dalam ayat lain Allah tegaskan dan bagi siapa yang bertakwa, Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Talaq [65]: 2–3).
Keyakinan ini pula yang menjadi penahan terkuat dari keputusasaan. Islam dengan tegas melarang seseorang mengakhiri hidupnya sendiri. Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
Larangan ini dikuatkan oleh hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yang menegaskan bahwa siapa pun yang mengakhiri hidupnya kelak akan menanggung akibatnya di akhirat. Bagi seorang muslim yang berpegang pada akidah ini, betapa pun berat sebuah ujian, jalan keluar bukanlah kematian, melainkan kembali bersandar kepada Allah.
Selain membangun kekuatan jiwa secara individu, Islam juga membangun ikatan keluarga dan masyarakat atas dasar akidah, bukan sekadar kedekatan geografis. Allah juga menyatakan orang-orang mukmin itu bersaudara (QS. Al-Hujurat [49]: 10). Pun Rasulullah saw. bersabda bahwa perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kasih sayang dan kepedulian satu sama lain bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan demam dan sulit tidur (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan ikatan seperti ini, tidak seharusnya ada seorang pun yang dibiarkan memikul beban hidupnya sendirian. Maka dari itu, solusinya tidak cukup dengan berkata kepada generasi muda, “Jadilah lebih kuat.” Yang dibutuhkan adalah membangun manusia yang kuat jiwanya, sekaligus lingkungan yang kuat menopangnya, termasuk pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi yang menjamin kebutuhan dasar masyarakat.
Dengan demikian, negara tidak sekadar mengobati dampak setelah masalah terjadi, tetapi menjaga manusia sejak awal.
Sebab, yang dibutuhkan bukan sekadar generasi yang pintar, produktif, dan kompetitif, melainkan generasi yang kokoh akidahnya, kuat jiwanya, dekat dengan keluarga, peduli kepada sesama, dan tahu untuk apa ia hidup.
Khatimah
Jangan hanya bertanya, “Kenapa anak muda sekarang gampang menyerah?” Mari bertanya lebih dalam, “Sistem kehidupan seperti apa yang sedang kita wariskan kepada mereka?”
Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan sesuatu untuk dikejar. Manusia juga membutuhkan alasan untuk bertahan. Bagi seorang muslim, alasan itu sederhana. Hidup ini milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.
Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Ety Faturohim
Aktivis Muslimah


