Catatan.co, SAMARINDA — Di tengah upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mewujudkan swasembada pangan melalui program cetak sawah, tantangan besar justru datang dari kondisi alam. Lahan pertanian di daerah Betapus, Kota Samarinda, yang menjadi salah satu fokus cetak sawah, kembali terendam banjir pada Senin (12/5/2025).
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Siti Farisyah Yana, mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi menjadi bukti bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi prioritas dalam pengembangan pertanian.
“Lahan yang terendam itu memang sedang dalam proses pengolahan. Karena ini memang masa penanaman sampai Juni, kami mengupayakan petani bisa melakukan pembibitan ulang,” ujar Yana di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (14/5/2025).
Yana menambahkan, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan pemantauan intensif melalui petugas lapangan yang memberikan data secara real-time. Dengan data tersebut, intervensi seperti bantuan benih dan pemulihan lahan bisa segera dilakukan saat terjadi bencana alam.
Selain tantangan alam, Kaltim juga menghadapi keterbatasan lahan sawah baku yang membuat pencapaian swasembada pangan lebih lambat dibandingkan provinsi lain. Oleh karena itu, pendekatan cetak sawah dilakukan dengan lebih selektif dan berbasis analisis lokasi yang layak.
“Kita identifikasi wilayah yang memungkinkan, dan nanti akan diputuskan mana yang bisa dicetak sawah secara optimal,” tambahnya.
Langkah-langkah adaptif dan sinergi lintas sektor, menurut Yana, menjadi kunci dalam menjawab tantangan geoklimatik yang dihadapi petani Kaltim.
“Memang tidak mudah, tapi kita tidak bisa menyerah. Kolaborasi dengan OPD lain terus dilakukan untuk mendorong ketahanan pangan,” tegasnya.(DSH)




