Honorer, Mengabdi dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian

Honorer, Mengabdi dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian

Catatan – Honorer, Mengabdi dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian. Selama bertahun-tahun, banyak tenaga honorer yang mengabdikan diri di berbagai tempat dengan penuh tanggung jawab, meskipun honor yang diterima jauh dari kata layak. Tidak jarang, honor tersebut datang terlambat, bahkan tanpa kejelasan waktu pencairannya.

Ketidakpastian ini menimbulkan keresahan, karena di satu sisi para honorer tetap dituntut profesional, sementara di sisi lain hak mereka belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Kondisi ini menggambarkan betapa perjuangan honorer masih membutuhkan perhatian serius agar mereka mendapatkan penghargaan yang selayaknya.

Nasib Honorer

Ratusan honorer di Penajam Paser Utara Kalimantan Timur geram. 15 tahun mengabdi tak ada kejelasan pengangkatan. Seperti diketahui, bahwa tenaga honorer yang berasal dari berbagai instansi menggelar aksi demo. Mereka dari masa kerja yang berbeda-beda, ada yang tidak lulus pada pengadaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun lalu. Ada pula yang sudah mengabdi 10 tahun sampai 15 tahun tapi tak kunjung menerima kejelasan.

https://banjarmasin.tribunnews.com/2025/08/11/tenaga-honorer-di-penajam-paser-utara-geram-15-tahun-mengabdi-tak-ada-kejelasan-pengangkatan

Di saat sekarang ini, di mana kehidupan masyarakat sudah sangat sempit, tak mengherankan banyak honorer menuntut kejelasan. Tenaga honorer dianaktirikan dan diabaikan, padahal mereka juga turut andil untuk mengabdi kepada negara, yang sejatinya juga perlu di perlakukan sama dengan yang lain.

Terlihat jelas adanya perbedaan perlakuan antartenaga honorer dengan pegawai negeri. Biasanya yang honorer selalu mendapatkan pekerjaan yang porsinya lebih besar dibandingkan dengan pegawai negeri. Akan tetapi, untuk masalah penghasilan terlihat jomplang. Hal inilah yang membuat tenaga honorer geram. Pemerintah menunjukkan kebijakan negara yang berat sebelah serta sangat zalim.

Fenomena dalam Kapitalisme

Fenomena ini merupakan suatu keniscayaan di sistem ekonomi kapitalisme. Minimnya pemasukan negara dan dana tidak mencukupi untuk semua pegawai. Padahal di sisi lain, Penajam Paser Utara memiliki potensi sumber daya alam dan energi yang mampu membuat rakyatnya sejahtera. Seperti pemberitaan terbaru bahwa Pertamina HULU akan melakukan pengeboran 2 sumur migas di wilayah PPU. Ini seharusnya bisa menjadi peluang untuk membuka lapangan pekerjaan sebagai jaminan kesejahteraan, bukannya untuk menambah pengangguran.

Beginilah kenyataannya apabila kehidupan ini tidak diatur dengan aturan Islam, maka jelas akan menimbulkan ketidakadilan, kesengsaraan, penderitaan, juga jauh dari keberkahan. Tuntutan ratusan honorer yang direspons oleh pemangku kebijakan sangatlah minim. Dengan ketidakjelasan bagaimana nasib mereka, para honorer ini juga bukti suramnya nasib di negeri kaya akan sumber daya alam dan energi.

Islam Memberikan Banyak Lapangan Kerja

Islam tidak hanya sebuah agama, tetapi sebuah ideologi yang sempurna dan paripurna yang mampu memberikan jawaban atas segala tantangan kehidupan. Di dalam Islam, negara memberikan sebesar-besarnya peluang pekerjaan bagi rakyat demi memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan mereka.

Hal ini mencakup sandang, pangan, juga perumahan yang berhubungan dengan kebutuhan primer, bahkan kebutuhan sekunder pun terpenuhi dengan baik, secara individu maupun kelompok. Karena pekerjaan adalah hak seluruh rakyat, baik muslim maupun nonmuslim, baik kaya maupun miskin, laki-laki ataupun perempuan.

Baca Juga: Guru Tercekik dalam Sistem Sekuler

Ini terasa kontras dengan masa sekarang yang begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan. terkadang hanya untuk mendapatkan status honor saja susah, apalagi yang jelas-jelas pegawai tetap.

Semua rakyat mendapatkan akses atas jaminan kesejahteraan dari negara. Hal ini mudah karena negara yang berdasarkan syariat Islam memiliki berbagai sumber kekayaan dan pemasukan negara hingga bisa menjamin kesejahteraan seluruh pekerja atau pegawai. Di dalam Islam, tidak ada yang namanya status honor karena semuanya adalah pegawai negara yang diberikan gaji sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang layak.

Adapun masalah pembiayaan akan dioptimalisasikan pada pengelolaan di bidang sumber daya alam dan energi, sehingga tidak ada nasib rakyatnya yang buram dengan ketidakjelasan status dan upah. Penguasa negara dalam Islam akan berusaha merespons tuntutan umat/ masyarakat dengan bersegera untuk menyelesaikan permasalahannya agar tidak sampai ada yang berlarut tanpa kejelasan.

Karena penguasa adalah raa’in yang tidak akan membiarkan umatnya hidup dalam kesulitan sebagaimana hadis Rasulullah “Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya”. (HR. Muslim). Karena di dalam Islam, pemimpin itu sebagai raa’in dan junnah yang berfungsi sebagai penanggung jawab kesejahteraan dan pemeliharaan rakyatnya, sementara junnah pemimpin menjadi pelindung rakyat dari kezaliman.

Dengan demikian, marilah kembali pada aturan Islam sehingga bisa merasakan ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian di dalam kehidupan. Wallahu a’lam. []

Penulis: Rahmayanti

(Aktivis Muslimah)