Islam, Fondasi Kokoh Menjawab Tantangan Globalisasi

Islam, Fondasi Kokoh Menjawab Tantangan Globalisasi

Catatan.co – Islam, Fondasi Kokoh Menjawab Tantangan Globalisasi. Arus globalisasi dan modernisasi kini melaju tanpa batas, perlahan mengikis iman dan moral generasi. Di tengah derasnya budaya Barat, gaya hidup konsumtif dan hedonis menyeret banyak anak muda kehilangan jati diri. Mereka tumbuh dalam kebanggaan semu, terjebak kekosongan batin, dan kehilangan arah hidup.

Betapa berbeda dengan generasi terdahulu, masa ketika Islam menjadi pedoman hidup. Sejak kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin hingga Daulah Utsmaniyah, lahirlah generasi berjiwa baja dan berakhlak mulia. Nilai-nilai Islam menancap kokoh di hati mereka, membentuk pribadi tangguh yang siap menumpas kezaliman dan berkorban demi agama serta tanah air.

Islam menuntun mereka menjadi pribadi saleh, cerdas, dan berjiwa pejuang. Negara pun hadir sebagai pelindung sejati menjamin pendidikan gratis, menyejahterakan rakyat, dan menjaga stabilitas ekonomi. Hidup di bawah naungan Daulah terasa aman, damai, dan penuh berkah.

Kini, di tengah sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Negara memang gencar menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme sebagai benteng menghadapi globalisasi. Akan tetapi, ruh keagamaan justru semakin terpinggirkan. Pertanyaannya, mungkinkah membangun karakter tangguh tanpa fondasi akidah yang kokoh untuk membela negeri?

Pendidikan yang Kehilangan Ruh

Upaya menumbuhkan nasionalisme sebenarnya sudah dilakukan di berbagai daerah. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Samarinda, misalnya, menegaskan pentingnya pembinaan ideologi Pancasila bagi pelajar. Melalui kegiatan bertema “Penguatan Nasionalisme Generasi Muda Melalui Paskibraka”, pemerintah berharap menumbuhkan kembali semangat cinta tanah air di kalangan pelajar.

Sumber: https://rri.co.id/samarinda/daerah/1904743/pelajar-samarinda-didorong-miliki-jiwa-nasionalisme-kuat

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Meskipun nilai-nilai kebangsaan diajarkan sejak PAUD hingga perguruan tinggi, justru muncul generasi yang mudah goyah dan kehilangan arah. Maraknya kenakalan remaja, kekerasan pelajar, serta krisis moral menjadi bukti bahwa pendidikan belum berhasil membentuk kepribadian paripurna.

Kondisi ini menunjukkan bahwa aturan buatan manusia tidak cukup kokoh menjadi fondasi dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi.

Islam Fondasi Kokoh

Islam menegaskan bahwa fondasi kokoh sebuah peradaban bukanlah pada ide nasionalisme atau falsafah manusia, melainkan akidah yang bersumber dari wahyu Allah. Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. adalah pedoman hidup yang menyeluruh, mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan lingkungannya.

Islam hadir bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai sistem hidup yang sempurna. Allah Swt. telah menegaskan dalam surah Al-Maidah ayat 3:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

Kesempurnaan Islam terlihat dari aturan-aturannya yang komprehensif. Mulai dari adab bangun tidur hingga sistem pemerintahan, dari urusan ibadah pribadi, bermasyarakat hingga tata kelola negara. Ajaran-Nya memberikan panduan yang adil dan bijaksana.

Ulama besar Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam menjelaskan bahwa akidah Islam menjadi asas seluruh pemikiran Islam. Dari akidah itulah lahir hukum-hukum syariat yang mengatur kehidupan manusia. Akidah yang kokoh akan melahirkan individu yang berkepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yang pola pikir dan pola sikap sesuai syariat.

Pendidikan Islam membangun kesadaran bahwa tujuan hidup bukan sekadar mengejar prestasi atau materi, melainkan beribadah kepada Allah dalam setiap aktivitas. Dengan pandangan hidup seperti ini, seseorang akan memahami bahwa keberhasilan sejatinya adalah ketika hidupnya sejalan dengan perintah dan rida Allah Swt.

Nasionalisme: Ide Barat yang Memecah Umat

Realitasnya, dunia Islam hari ini terjebak dalam ide nasionalisme, yang memecah belah umat. Ide ini gagasan yang lahir dari rahim sekularisme Barat. Meratanya nasionalisme pada negeri-negeri muslim menjadikan mereka umat yang lemah, yang mudah dijajah oleh Barat. Ide ini sejalan dengan sekularisme yang menolak otoritas Allah mengatur ciptaannya, dan menyingkirkan agama dari kehidupan.

Sesungguhnya, adopsi nasionalisme oleh dunia Islam bukanlah sebuah bukti kemajuan, melainkan hasil penjajahan pemikiran yang berlangsung secara halus dan sistematis. Paham ini menanamkan ikatan berdasarkan bangsa dan tanah air, bukan pada landasan iman dan akidah. Padahal, Islam dengan tegas mengajarkan bahwa seluruh umat di dunia adalah bersaudara, ia bagaikan satu tubuh yang saling melengkapi yang diikat oleh ikatan kuat yaitu akidah. Jika ada satu bagian yang terluka, maka seluruh tubuh ikut merasakannya.

Rasulullah saw. bersabda:

Perumpamaan persaudaraan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan tolong-menolong adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nasionalisme telah memecah belah umat menjadi lebih dari lima puluh negara kecil hingga mereka tidak berdaya. Setelah runtuhnya pemerintahan Islam Utsmaniyah pada 1924 M di Turki, Barat menanamkan konsep negara-bangsa di dunia agar kekuatan umat terpecah dan mudah dikuasai. Akibatnya, kekayaan alam di negeri-negeri muslim kini dikuasai oleh korporasi kapitalis global. Lebih berbahaya lagi, nasionalisme telah menumbuhkan fanatisme atau ashabiyyah yang jelas dilarang Rasulullah saw.:

Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas ‘ashabiyyah.”

(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Faktanya, ketika menyaksikan langsung saudara kita di Gaza-Palestina digenosida dan mengalami penderitaan luar biasa atas kezaliman tentara zionis, negara-negara muslim tidak bisa membantu lebih, kecuali mengecam dan hanya sebatas mengirimkan bantuan makanan.

Cuma itu! Padahal, yang dibutuhkan adalah bantuan tentara. Oleh karenanya, menjadikan nasionalisme sebagai dasar kehidupan jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan berujung pada perpecahan, apatis, dan matinya hati nurani atas penderitaan saudara seakidah.

Sejarah Membuktikan: Islam Sumber Perlawanan

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa ruh kebangkitan lahir dari Islam, bukan dari nasionalisme. Pangeran Diponegoro, misalnya, berperang melawan penjajah Belanda karena dorongan iman, bukan semangat kebangsaan. Ia melihat tanah air sebagai amanah Allah yang tidak boleh dijajah oleh kaum kafir.

Baca Juga: BLT dan Ilusi Kesejahteraan

Demikian pula Tuanku Imam Bonjol yang memimpin Perang Padri untuk menegakkan syariat dan menjaga kemurnian akidah, bukan untuk membangun negara bangsa. Para pejuang sejati memahami betul bahwa kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari sistem kufur yang menjauhkan manusia dari hukum Allah. Mereka pun berjuang untuk Allah, bukan demi nasionalisme.

Modernisasi Harus Tunduk pada Syariat

Islam tidak menolak kemajuan teknologi dan modernisasi. Sebaliknya, Islam justru mendorong umat untuk menguasai ilmu dan teknologi, asalkan kemajuan itu tetap berada dalam koridor syariat. Modernisasi tanpa akidah Islam hanya akan melahirkan krisis identitas, hedonisme, dan kerusakan moral.

Umat harus menyadari bahwa kebangkitan sejatinya tidak akan pernah lahir dari nasionalisme atau sekularisme. Kebangkitan hakiki hanya akan lahir dari penerapan Islam secara kaffah. Di bawah kepemimpinan yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia dalam bingkai Daulah dan politik Islam.

Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan mendasar harus dimulai dengan mengubah cara berpikir dari berpikir sekuler menuju Islam, dari mencintai bangsa menuju mencintai Allah di atas segalanya. Umat Islam harus berpegang teguh pada tali (agama) Allah sebagaimana firman-Nya:

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

 Khatimah

Generasi dan umat wajib berpegang teguh pada fondasi Islam di setiap aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Islam selain sebagai agama juga ideologi atau sistem hidup akan mencetak generasi yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah, faqih fiddin, IPTEK, serta berakhlak mulia. Dengan fondasi yang bersumber dari Allah, umat tidak akan larut dalam arus globalisasi Barat, melainkan berdiri kokoh di atas akidah Islam sebagai pemimpin peradaban dunia.

Keberhasilan besar ini tentu akan mudah diraih. Sebab ditopang peran nyata dari negara sebagai pemegang kebijakan tertinggi. Negara wajib menata sistem kehidupan hari ini berdasarkan syariat Islam, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Memastikan semua aspek berjalan dalam satu visi dan misi yang membawa keberkahan, kemaslahatan serta mampu melawan tantangan globalisasi.

Wallahua’lam bishshawab. []

Penulis: Mimi Muthmainnah

Pegiat Literasi