Catatan.co, Kaltim – Krisis air bersih di Samarinda belum benar-benar teratasi hingga pertengahan September 2026.
Pemerintah Kota Samarinda memang telah mengerahkan belasan mobil tangki untuk memasok air ke wilayah terdampak. Namun, kebutuhan warga di lapangan masih jauh dari selesai.
Berdasarkan data BPBD Samarinda, sebanyak 880.100 liter air telah didistribusikan hingga 15 September 2026. Meski begitu, antrean air masih terjadi di sejumlah wilayah.
880 Ribu Liter Disalurkan, 16 Tangki Layani 180 Titik
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, menyebut pihaknya telah mengerahkan 16 unit mobil tangki untuk distribusi air bersih.
Hingga kini, armada tersebut telah menjangkau 180 titik di Samarinda.
“Sampai hari ini 880.100 liter yang sudah terdistribusi dengan total ritase armada 180 titik yang kita datangi. Unit tangki untuk distribusi air itu 16 unit,” kata Suwarso di DPRD Samarinda, Senin (15/9/2026).
Menurutnya, wilayah yang paling banyak mendapat distribusi adalah kawasan yang lebih dulu terdampak intrusi air laut, seperti Kecamatan Sambutan dan Palaran.
Meski jumlahnya besar, angka tersebut belum mampu menutup seluruh kebutuhan air bersih warga Samarinda.
Antrean Air Terjadi hingga Pukul 02.30 Wita di Palaran dan Sungai Kapih
Kondisi krisis air bersih Samarinda paling terasa di Palaran dan Sungai Kapih.
Di Palaran, distribusi air bahkan berlangsung hingga dini hari.
“Di Palaran itu bahkan sampai jam 02.30 Wita masih distribusi, masih antre,” ujar Suwarso.
Sementara di Sungai Kapih, antrean warga juga masih berlangsung hingga pagi hari. Warga terpaksa menunggu kedatangan mobil tangki untuk mendapatkan air.
Penyebab Krisis: Produksi IPA Bantuas Belum Pulih 24 Jam
Krisis air bersih Samarinda tidak lepas dari belum pulihnya produksi Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Suwarso menjelaskan, salah satunya IPA Bantuas belum bisa beroperasi 24 jam. Hal ini karena kadar garam air melebihi ambang batas.
“IPA Bantuas itu sebetulnya beroperasi. Cuma ada kesepakatan dengan warga. Karena ppm-nya sekitar 335, melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Ambang batasnya 250,” jelasnya.
Karena itu, IPA Bantuas hanya dioperasikan untuk kebutuhan MCK, bukan untuk air minum.
Kondisi serupa juga terjadi di IPA Palaran. Selain itu, PDAM terus memantau kadar klorida di Sungai Mahakam setiap jam untuk menentukan waktu produksi.
Pemerintah Siapkan 10 Dump Truck dan 20 Tandon Tambahan
Untuk mempercepat distribusi, BPBD Samarinda menyiapkan strategi baru.
Pemerintah akan memanfaatkan 10 unit dump truck milik Dinas PUPR untuk membawa tandon air ke titik antrean panjang.
“Jadi nanti ada 10 DT yang disiapkan, diisi dua tandon. Masing-masing tandon itu 2.200 liter, jadi sekali kirim kurang lebih 4.400 liter,” kata Suwarso.
Armada tersebut akan difokuskan untuk membackup wilayah dengan antrean panjang. Namun, pengadaan tandon sempat terkendala karena tingginya permintaan di pasaran.
“Kenapa kita agak lambat tentang tandon atau toren? Itu memang karena di beberapa toko stok terbatas. Kami sudah bersurat khusus supaya kebutuhan kami 20 unit tandon bisa terpenuhi,” ujarnya.
Prioritas Air untuk Minum dan Masak, MCK Belum Terpenuhi
Di tengah keterbatasan, pemerintah melakukan pembatasan prioritas distribusi air.
Air bersih yang ada saat ini diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, yaitu untuk minum dan memasak.
“Untuk kebutuhan air bersih sudah coba kita penuhi. Air bersih itu untuk minum dan masak,” kata Suwarso.
Sementara untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) belum bisa sepenuhnya dilayani.
“Untuk MCK memang selama ini belum bisa kita penuhi karena kita harus menyuplai banyak pihak. Bisa ke ketua RT, masjid, sekolah, tempat ibadah, puskesmas, rumah sakit,” lanjutnya.
Suwarso menegaskan, BPBD Samarinda bersama BPBD Provinsi, PMI, BWS, Kementerian PU, dan PDAM terus berupaya maksimal memenuhi kebutuhan air bersih warga Samarinda di tengah krisis ini.



