Langit Kaltim Berasap, Napas Rakyat Menjadi Taruhannya

Langit Kaltim Berasap, Napas Rakyat Menjadi Taruhannya

Catatan.co – OPINI. Langit Kaltim Berasap, Napas Rakyat Menjadi Taruhannya. Langit Kalimantan Timur dalam beberapa pekan terakhir kembali menguji. Kabut asap yang datang dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla membuat jarak pandang terbatas, sekolah harus melakukan pembelajaran jarak jauh, dan aktivitas warga menjadi tidak nyaman. Yang paling terasa adalah dampaknya pada kesehatan.

Napas Rakyat Menjadi Taruhannya

Selama kurang lebih sepuluh minggu, dari minggu ke-30 sampai minggu ke-40 tahun 2026, catatan kesehatan di Kalimantan Timur menunjukkan angka yang cukup tinggi untuk kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Totalnya mencapai sekitar 116.801 kasus di sepuluh kabupaten dan kota.

Jika dilihat per wilayah, Balikpapan mencatat sekitar 31.536 kasus, Samarinda sekitar 23.327 kasus, dan Kutai Kartanegara sekitar 16.757 kasus. Sisanya tersebar di wilayah lain seperti Kutai Timur, Berau, Paser, Bontang, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa dampak asap dirasakan cukup luas, bukan hanya di satu titik.

Sumber: (https://korankaltim.com/read/samarinda/94679/diduga-sesak-napas-karena-asap-karhutla-bayi-satu-tahun-di-palaran-samarinda-meninggal-dunia-)

Di tengah angka-angka tersebut, ada satu kisah yang membuat hati kita terenyuh. Di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, seorang bayi berusia satu tahun berpulang setelah mengalami sesak napas dan sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Keluarga menyampaikan di tengah kondisi karhutla di wilayah tersebut, paparan asap diduga menjadi salah satu faktor yang memperberat kondisinya.

Kita turut berduka mendalam untuk keluarga, semoga diberi kesabaran dan kekuatan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ISPA bukan sekadar batuk biasa, dalam kondisi tertentu bisa sangat berisiko terutama bagi bayi dan anak-anak.

Selain kesehatan, karhutla juga berdampak pada pendidikan dan ekonomi. Beberapa sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ karena kualitas udara tidak baik untuk anak-anak belajar di kelas. Nelayan dan petani juga merasakan dampak, karena hasil tangkapan atau panen bisa terganggu oleh abu dan kualitas air yang berubah. Transportasi udara dan darat juga kadang terhambat. Bahkan kegiatan kajian dan aktivitas di luar ruangan pun ikut tertunda karena asap.

Mengapa Karhutla Berulang?

Jika kita telusuri, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia, terutama untuk pembukaan lahan baru perkebunan dan industri. Cara membakar dianggap lebih cepat dan murah, padahal dampaknya sangat besar dan panjang.

Hal ini menunjukkan ada persoalan dalam cara pengelolaan hutan yang lebih mengedepankan keuntungan ekonomi jangka pendek, tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan warga. Pengawasan di lapangan yang belum maksimal, serta sanksi yang belum memberikan efek jera, membuat kejadian serupa mudah terulang dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Pengikisan Zaitun di Palestina

Ketika hutan dibuka dengan cara dibakar, yang hilang bukan hanya pohonnya saja. Hilang juga fungsi hutan sebagai penyimpan air, penyaring udara, dan rumah bagi banyak satwa seperti orangutan, bekantan, dan burung-burung endemik Kalimantan. Tanah menjadi lebih kering, lebih mudah terbakar lagi di musim berikutnya, dan ketika hujan deras datang, risiko banjir dan longsor juga meningkat.

Pandangan Islam

Islam datang dengan pandangan yang sangat menyeluruh dan penuh kasih sayang terhadap alam dan manusia. Al-Qur’an memberikan banyak petunjuk tentang hal ini.

Pertama, Allah melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi. Ini adalah prinsip yang sangat jelas.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Araf ayat 56

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini menjadi pengingat lembut bahwa hutan yang sudah Allah ciptakan dalam keadaan baik, tidak boleh dirusak dengan cara membakar. Membakar hutan yang menyebabkan asap luas dan mengganggu kesehatan warga termasuk bentuk kerusakan yang dilarang.

Allah juga berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kerusakan di darat, termasuk hutan yang terbakar dan asap yang menyebar, sering kali karena ulah tangan manusia. Tujuannya agar kita mau kembali merenung dan memperbaiki diri.

Kedua, manusia adalah khalifah yang diberi amanah untuk menjaga bumi. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Menjadi khalifah artinya menjadi pengelola yang amanah, bukan perusak. Mengelola hutan dengan menjaga kelestariannya adalah bagian dari amanah tersebut. Allah juga berfirman dalam surah Al-Anam ayat 141 tentang pentingnya tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan alam, dan tetap menjaga keseimbangannya. Hutan dimanfaatkan boleh, tapi dengan cara yang baik dan tidak merusak.

Ketiga, Islam sangat memperhatikan kesehatan dan jiwa manusia. Menjaga satu nyawa sama dengan menjaga seluruh manusia. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 32:

“Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Hadis Rasulullah juga menguatkan hal ini. Rasulullah bersabda:

“Imam atau pemimpin adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.”

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Membiarkan asap karhutla yang menyebabkan lebih dari 116 ribu orang mengalami ISPA adalah bentuk membahayakan orang lain yang perlu dicegah.

Keempat, Islam mengajarkan untuk menanam dan menghijaukan bumi. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, lalu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadis lain disebutkan, jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka jika mampu sebelum terjadi kiamat, hendaklah ia menanamnya. Hadis riwayat Ahmad.

Ini menunjukkan betapa besar pahala menjaga dan menanam pohon. Jika menanam satu pohon saja berpahala sedekah, maka menjaga ribuan hektare hutan di Kalimantan tentu pahalanya jauh lebih besar dan manfaatnya untuk banyak orang.

Kelima, peran negara sebagai pelindung dan penjaga yang hadir sebelum, saat, dan sesudah kejadian. Sebelum terjadi karhutla, negara perlu memastikan pengelolaan hutan dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan, tidak mudah memberikan izin yang berisiko merusak, serta memperkuat pencegahan dengan patroli, sekat kanal gambut, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan termasuk kearifan lokal masyarakat Dayak seperti tana ulen.

Saat terjadi karhutla, negara hadir cepat untuk memadamkan dan melindungi warga terdampak, memastikan puskesmas dan rumah sakit siap siaga, memberikan bantuan masker, vitamin, dan membuat posko udara bersih untuk bayi, lansia, dan ibu hamil.

Setelah terjadi, negara melakukan pemulihan, baik pemulihan kesehatan warga, pemulihan lahan yang terbakar dengan reboisasi, dan penegakan hukum yang adil dan tegas bagi yang terbukti sengaja membakar agar memberikan pelajaran dan efek jera.

Semua ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Al-Qashash ayat 77:

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Kisah 116 ribu kasus ISPA dan kepergian bayi di Palaran semoga menjadi pengingat lembut bagi kita semua. Bahwa setiap jengkal hutan yang terbakar, ada napas yang ikut sesak. Setiap pohon yang hilang, ada masa depan anak cucu yang ikut terdampak. Kita semua tentu merindukan langit biru Kalimantan yang jernih, sungai yang bersih, dan anak-anak yang bisa bermain di luar tanpa khawatir asap.

Semoga Allah menjaga Kalimantan Timur, menjaga hutan-hutannya, menjaga warga dan anak-anaknya. Semoga kita dimampukan untuk menjadi penjaga bumi yang amanah, yang menjaga hutan bukan karena takut denda, tapi karena cinta dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta dan kepada generasi setelah kita. Untuk Balikpapan, Samarinda, Kukar, dan seluruh Kaltim, semoga segera pulih dan kembali bisa bernapas lega. Wallahualam. []

Penulis: Emirza Erbayanthi, M.Pd

Muslimah Bontang