Menakar Perlawanan Iran-Israel dalam Bingkai Persatuan Umat

Menakar Perlawanan Iran-Israel dalam Bingkai Persatuan Umat

Catatan.co – Menakar Perlawanan Iran-Israel dalam Bingkai Persatuan Umat. Dunia kembali tertahan napasnya. Langit Timur Tengah belakangan ini kerap dihiasi kembang api maut berupa drone dan rudal yang saling dikirimkan antara Teheran dan Tel Aviv. Di jagat media sosial, umat Muslim pun terbelah dalam menyikapi fenomena ini. Namun, melihat eskalasi yang terjadi di bawah komando pemimpin tertinggi Iran saat ini, Ayatullah Ali Khamenei, muncul sebuah kesadaran baru bahwa konfrontasi yang terjadi bukan lagi sekadar retorika, melainkan benturan nyata antara kekuatan yang berusaha mandiri melawan hegemoni kaum kafir penjajah.

Bagi umat yang cerdas, penting untuk melihat bahwa posisi Iran di bawah kepemimpinan Ali Khamenei telah bergeser jauh dari bayang-bayang masa lalu. Jika kita menengok sejarah yang dilansir dalam artikel CNBC Indonesia, Sejarah Hubungan Iran-Israel: Dulu Mesra, Kini Saling Baku Hantam (https://www.cnbcindonesia.com/news/20240414120753-4-530266/sejarah-hubungan-iran-israel-dulu-mesra-kini-saling-baku-hantam)

Dari artikel tersebut, kita memang mendapati masa silam yang penuh kompromi politik di era itu. Namun, realitas saat ini menunjukkan wajah yang sangat berbeda. Ketegasan ideologis ini terlihat nyata melalui langkah-langkah berani Khamenei.

Sebagaimana dilaporkan oleh Katakini dalam artikelnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei Serukan Negara Muslim Hentikan Ekspor Minyak ke Israel.(https://www.katakini.com/artikel/94914/pemimpin-tertinggi-iran-ali-hosseini-khamenei-serukan-negara-muslim-hentikan-ekspor-minyak-ke-israel)

Dalam artikel itu, pemimpin tertinggi Iran menyerukan negara Muslim untuk menghentikan ekspor minyak ke Israel, ia secara terang-terangan meminta negeri-negeri Muslim untuk menggunakan kekuatan ekonominya guna melumpuhkan entitas zionis. Puncaknya, terlihat saat beliau menyampaikan khotbah Jumat dengan memegang senjata di tangannya sebagai sebuah simbol keberanian bahwa perlawanan ini adalah sah dan merupakan kewajiban syariat bagi siapa pun yang dizalimi.

Baca Juga: Ketika Syariah Absen

Dalam kacamata politik Islam, kita tidak boleh terjebak dalam upaya adu domba yang melemahkan kekuatan internal umat hanya karena perbedaan aliran. Selama Allah yang disembah sama, kitab yang dibaca sama, dan kiblat yang dituju sama, maka darah setiap Muslim adalah mulia.

Fakta bahwa kepemimpinan Ali Khamenei saat ini begitu dibenci oleh Barat adalah indikator kuat bahwa mereka telah keluar dari “zona nyaman” masa lalu. Umat tidak boleh termakan narasi yang memecah belah di saat musuh-musuh Islam sedang bersatu menghancurkan tanah suci Palestina. Ketika sebuah kekuatan di dunia Islam berani mengambil langkah nyata untuk memutus urat nadi ekonomi penjajah, maka sudah sepatutnya umat melihat ini sebagai momentum untuk merapatkan barisan, bukan justru saling mencela karena perbedaan furu’iyah (cabang agama).

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah visi kepemimpinan yang lebih besar, yaitu sebuah institusi politik global (Daulah Islam) yang mampu mengonsolidasikan seluruh keberanian di dunia Islam saat ini tanpa sekat-sekat nasionalisme atau mazhab. Kepemimpinan yang militernya bergerak murni karena panggilan iman, tidak tersandera oleh kepentingan geopolitik asing, dan benar-benar merdeka secara total. Hanya dengan persatuan yang murni di atas akidah Islam, umat ini bisa bertransformasi dari sekadar penonton menjadi pemain utama yang akan membebaskan Palestina secara total.

Konflik hari ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kaum kafir penjajah tidak akan pernah rida atas kemandirian umat Islam sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Swt.

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida kepadamu (Muhammad) hingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).“(QS. Al-Baqarah: 120)

Keberanian dalam menyerukan embargo dan melakukan serangan balik harus dilihat sebagai bagian dari dinamika perjuangan umat melawan kezaliman global. Saatnya umat bersatu, membuang sekat-sekat yang memecah belah, dan fokus pada satu tujuan, yaitu mengakhiri penjajahan di tanah suci dengan kekuatan yang murni berasaskan syariat Islam secara kaffah.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis: Riska Amaliah

(Aktivis Muslimah)