Renovasi Elite, Rakyat Kian Terimpit

Renovasi Elite, Rakyat Kian Terimpit

Catatan.co – Renovasi Elite, Rakyat Kian Terimpit. Masyarakat Kalimantan Timur sedang menyorot tajam kucuran dana fantastis sebesar 25 miliar di tengah efisiensi besar-besaran sejumlah program sosial untuk rakyat miskin. Pasalnya, dana itu ditujukan untuk merenovasi kompleks rumah jabatan (rujab) serta penataan ruang kerja pimpinan daerah. Kepala Diskominfo Kaltim mengungkapkan, anggaran tersebut adalah akumulasi APBD 2024, 2025, hingga APBD perubahan. Langkah tersebut merupakan bentuk perawatan aset daerah yang lama terbengkalai.

Namun demikian, publik tetap merasa kecewa. Kemewahan fasilitas pejabat sangat kontras dengan nasib warga miskin yang kian terjepit. Contohnya, Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) justru dipangkas drastis karena alasan tekanan fiskal. Dari target 500 unit, tapi hanya terealisasi 11 unit. Bahkan, alokasi untuk penanganan kawasan kumuh terpaksa ditiadakan sepenuhnya. (Prokal, 10/04/2026)

(https://www.prokal.co/kaltim/2604100030/timpang-anggaran-rumah-jabatan-kaltim-tembus-rp25-miliar-program-bedah-rumah-rakyat-miskin-anjlok-drastis)

Nasib Rakyat dalam Kapitalisme

Kekecewaan masyarakat merupakan hal wajar. Jika alasannya efisiensi, seharusnya pemerintah memprioritaskan rakyat, bukan pejabat. Di tengah kondisi ekonomi yang makin mencekik, rakyat dipaksa maklum dan mengencangkan ikat pinggang untuk bertahan hidup. Sebaliknya, pemerintah yang seharusnya menjadi pelayan rakyat malah merumuskan kebijakan yang jauh dari kata urgen.

Tampak jelas, pertimbangan efisiensi anggaran hanya menyasar kebutuhan masyarakat. Sementara untuk program pemerintah tetap terjadi pemborosan. Kalaupun ada, tak sebanyak efisiensi pada program-program kemasyarakatan.

Inilah potret nasib rakyat dalam sistem kapitalisme yang kerap memprihatinkan. Banyak pemimpin belum mencerminkan keadilan dan keteladanan yang diharapkan. Jabatan dipersepsikan bukan sebagai amanah, tapi sebagai sarana melanggengkan kepentingan pribadi maupun kelompok. Sementara kesejahteraan rakyat tak menjadi prioritas utama.

Pandangan Islam

Rasulullah saw. bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin (raa’in) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Imam (penguasa/pemimpin) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya…”

(HR. Bukhari no. 7138 dan Muslim no. 1829)

Berdasarkan dalil di atas, Islam menegaskan bahwa pemimpin bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya dan akan ditanya mengenai hak-hak rakyat yang belum dipenuhi di hadapan Allah.

Baca Juga: WFH: Bukan Solusi

Maka, sudah sepantasnya rakyat menjadi prioritas dalam segala kebijakan melalui prinsip-prinsip dasar yang mengutamakan kemaslahatan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Bukan malah mengorbankan rakyat demi efisiensi atau kekurangan anggaran. Apalagi, dampak efisiensi justru mengorbankan mayoritas rakyat miskin.

Begitu utamanya kebutuhan rakyat, bahkan Islam mengatur kalaupun negara mengalami kekurangan anggaran, pungutan seperti pajak memang boleh dikenakan. Akan tetapi, hanya bagi kalangan mampu (kaya), bukan pungutan rutin, dan hanya sesuai keperluan, dengan tetap memperhatikan hak-hak dasar rakyat terpenuhi.

Potret Pemimpin dalam Islam

Pemimpin dalam Islam bukanlah yang bermewah-mewahan. Cukup meneladani Rasulullah saw. Berpakaian sederhana, rumah sederhana, tidak menggunakan fasilitas negara untuk pribadi, serta tidak boleh memperkaya diri sendiri maupun keluarga. Pemimpin sejati juga mampu berempati dan peduli pada penderitaan rakyat, bukan justru menampakkan gaya hidup mewah.

Contohnya sosok Khalifah Umar bin Khattab. Saat seorang utusan Romawi datang ke Madinah membawakan hadiah untuk khalifah, ia membayangkan akan disambut di istana yang megah. Namun, penduduk Madinah malah mengarahkannya ke area pinggiran kota.

Utusan itu lalu bertemu seorang pria yang tertidur di bawah pohon kurma, beralaskan jubah usang bahkan tanah, tanpa pengawal. Ia ragu dan mengira pria itu hanyalah rakyat biasa. Akhirnya diberitahukan padanya bahwa pria itu adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Bergetarlah utusan tersebut sekaligus kagum akan kewibawaan dan kesederhanaan khalifah.

Di kisah lain, diceritakan bahwa Umar mendapati seorang ibu memasak batu. Karena rasa bersalah dan takut kepada Allah, beliau memikul sendiri sekarung gandum dari baitulmal (kas negara) untuk ibu tersebut. Ketika pendampingnya menawarkan diri untuk membantu, Umar menolak tegas. Maka ia mengantarkan langsung tanpa pengawalan. Sang ibu terkejut dan bertanya jati diri Umar sebenarnya, lalu ia menjawab, “Aku adalah Umar bin Khattab”.

Teladan lain datang dari Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang sangat amanah. Beliau tengah bekerja malam di ruang kerjanya. Lalu datang putranya masuk membahas masalah pribadi. Umar langsung mematikan lampu sebagai bentuk kehati-hatian agar tak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Beliau lalu meminta pembantunya mengambilkan lampu lain yang minyaknya dibeli sendiri dengan uang pribadi.

Kisah-kisah ini menggambarkan bagaimana profil pemimpin sejati dalam Islam. Wibawa tak timbul dari kemewahan, tapi dari kesederhanaan, kepedulian terhadap rakyat, keadilan, amanah, serta kehati-hatian dalam mengelola uang rakyat. Sebab sekecil apa pun perbuatan seorang pemimpin kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Masih banyak keteladanan lain yang dapat dipetik dari para khalifah sepanjang sejarah kepemimpinan kaum muslimin. Teladan seperti ini hanya dapat kita temukan dengan kembali pada aturan Islam, yang akan melahirkan para pemimpin-pemimpin saleh yang berwibawa dan mengutamakan kepentingan rakyat bahkan di tengah kondisi sulit sekalipun. Pemimpin yang menerapkan Islam di segala aspek kehidupan.

Wallahu a’lam bishshawab.[]

Penulis: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd

(Pendidik)