Catatan.co – Stunting dan Cara Islam Mengatasinya. Stunting merupakan salah satu problematika di dunia kesehatan yang perlu mendapat perhatian secara terus menerus dari berbagai pihak guna mengurangi angka prevalensinya. Seperti yang dilakukan Bupati Penajam Paser Utara (PPU) yang menegaskan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama untuk mencegah stunting.
Pesan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber Talkshow Balikpapan TV bertema “Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting)” yang disiarkan langsung dari Kantor Bupati PPU. Didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3AP2KB) PPU, Chairur Rozikin, Bupati mengupas tuntas bagaimana keluarga menjadi benteng utama dalam membentuk generasi sehat dan cerdas.
“Peran seorang ayah tidak berhenti pada mencari nafkah. Ayah juga harus hadir sebagai pendidik, pendamping, dan teladan bagi anak-anaknya. Inilah yang kita dorong melalui Gerakan Ayah Teladan,” ucap Mudyat. Ia menambahkan, program Genting dirancang untuk memperkuat kepedulian masyarakat dalam menekan angka stunting di PPU.
(https://www.prokal.co/kalimantan-timur/1776557393/bupati-ppu-dorong-peran-ayah-dalam-cegah-stunting-lewat-talkshow-balikpapan-tv)
Dinas Kesehatan PPU mencatat, kasus stunting selama periode Januari-Agustus 2024 mencapai 1.118 kasus atau 11,55 %. Angka tersebut masih di bawah standar nasional penurunan stunting yang ditargetkan 14%. Kasus stunting tertinggi berada di tiga kelurahan di Kecamatan Panajam. (https://share.google/5XbSGZOAgwymAG0n9)
Sementara itu, pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Kesehatan juga secara resmi meluncurkan Program Pemberian Makanan Tambahan [PMT] bagi balita dan ibu hamil berkenaan dengan masalah gizi. Peluncuran program ini dilaksanakan pada kamis (21-8-2025) menjadi langkah konkret dalam upaya penanggulangan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Kota Bontang.
Dalam laporannya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang Bahtiar Mabe melaporkan data terkini, terdapat 1.219 balita yang masuk dalam kategori prevalensi stunting. Angka ini cukup tinggi. (https://share.google/xobXhNMjaYi9aBFtB)
Butuh Peran Negara
Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk cegah stunting termasuk lewat talk show yang melibatkan peran ayah, maupun dengan pemberian makanan tambahan. Namun, kasus stunting masih cukup tinggi di beberapa tempat.
Jika kita cermati, peran ayah sangat sulit dalam mengatasi stunting, sebagaimana diketahui bahwa saat ini tingkat pengangguran bagi laki-laki sangat tinggi. Kalaupun mau bekerja seadanya, hasil yang diperoleh juga tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarga, kecuali hanya sekadar bisa makan apa saja. Maka pemenuhan gizi sulit dicapai karena keterbatasan ekonomi.
Masalah gizi merupakan peran penting negara. Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pangan rakyat dengan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi kepala keluarga. Dengan demikian, ayah akan mampu memenuhi kebutuhan gizi seluruh keluarganya.
Hanya saja, saat ini kita hidup di negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler. Di mana negara lepas tangan dalam mengatur urusan rakyatnya sehingga rakyat dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Di samping itu, negara membolehkan pengusaha untuk menguasai sumber daya alam (SDA), dan hasilnya untuk keuntungan pengusaha tersebut yang seharusnya bisa digunakan untuk menjamin gizi rakyatnya.
Talk show dengan menggalakkan GATI dan Genting tak menyentuh akar persoalan karena ini merupakan masalah sistemis. Dibutuhkan support dari negara. Ayah dan keluarga tidak akan berjalan sempurna mencegah stunting sendirian. Padahal stunting tidak dianggap persoalan individual karena dapat mengakibatkan lost generasi bukan karna fisiknya tetapi karna faktor berpikirnya, ini akan menjadi persoalan di kemudian hari karna dianggap tidak mampu memberikan kontribusi yang optimal. Sedangkan peradaban suatu bangsa ditentukan oleh generasi.
Butuh Aturan Islam
Islam sangat memperhatikan kaum muslimin jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah. Kita diperintahkan untuk meninggalkan keturunan yang kuat, generasi yang kuat dari segi imannya, fisiknya, mentalnya, dan materialnya. Dengan kekuatan ini, kaum muslimin bisa maksimal dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah dan bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
Baca Juga: Sopan di Dunia Maya
Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surah An-Nisa ayat 9, yang artinya :
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).”
Maka, andil negara optimal secara menyeluruh dalam rangka mengurusi pemenuhan kebutuhan individu per kepala yang sifatnya asasi dan kebutuhan komunal. Islam menyediakan infrastruktur kesehatan yang memadai bagi seluruh warga. Tidak boleh ada pembatasan akses layanan Kesehatan bagi siapa pun. Orang kaya maupun orang miskin berhak terjamin akan kesehatannya, terutama ibu hamil dan balita.
Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Jika setiap kepala keluarga mudah mencari nafkah dengan tersedianya lapangan pekerjaan, maka para ayah tidak akan merasa waswas mencukupi kebutuhan keluarganya. Support sistem Islam akan membuat kekayaan negara berkorelasi dengan kesejahteraan bagaimana mengelola SDA dikuasai negara untuk kesejahteraan warganya sehingga peran keluarga dan orang tua tidak sendiri dalam mencegah stunting.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menjadikan Islam sebagai pengatur kehidupan, sehingga masalah stunting dan permasalahan lainnya bisa diselesaikan secara tuntas.
Wallahu A’lam bissawwab []
Penulis : Yuliati Ummu Akmal
Aktivis Dakwah




