Catatan.co – Sopan di Dunia Maya, Nyaman di Dunia Nyata. Dalam setiap diri manusia, entah sadar atau tidak, telah membawa sesuatu yang fundamental bahkan sejak ia dilahirkan. Sesuatu itu ibarat pedang bermata ganda, ia bisa menghancurkan, bisa pula mendamaikan. Tergantung manusianya, ia benar-benar bisa menjadi layaknya senjata yang diandalkan. Senjata itu adalah lisan. Namun, tajamnya lisan kini ikut berevolusi seiring zaman yang juga terus berkembang. Hadirnya media sosial bahkan bisa membuat para introver berkoar-koar di jagat maya tanpa takut ketahuan wajahnya.
Malangnya, dunia seperti mengalami ketimpangan, di saat teknologi melesak menanjak naik hingga lahir gawai canggih melampaui VR, bahkan mungkin tidak bisa disebut gawai melainkan perangkat lunak yang memiliki kecerdasan manusia bahkan melampaui manusia itu sendiri, kita menyebutnya AI. Di saat itu pula media sosial telah berubah menjadi dominant area di mana per April 2025 tercatat 5,35 miliar orang di dunia menggunakan media sosial dan 143 juta untuk wilayah Indonesia yang aktif menggunakan media sosial.
(https://www.inilah.com/media-sosial-dengan-pengguna-terbanyak-di-indonesia-2025).
Aktivasi pengguna media sosial dipegang kukuh oleh gen Z dan gen milenial. Gen Zp yang lahir di rentang tahun 1997-2012 banyak memainkan Instagram dan Facebook juga TikTok, sementara gen milenial yang lahir dalam rentang tahun 1981-1996 lebih banyak menggunakan platform X. Sementara generasi Alpha, atau anak-anak yang lahir di atas tahun 2012 memang telah lahir di era serba digital bahkan telah bersentuhan dengan gadget sejak dini.
https://databoks.katadata.co.id/infografik/2024/09/24/media-sosial-favorit-gen-z-dan-milenial-indonesia
Kemudahan dan keluwesan dalam bermedia sosial, telah membuka seluas-luasnya peluang untuk siapa pun bisa menggunakannya. Baik tua, muda, orang biasa, atau tokoh terkenal, semua berkesempatan untuk mengaksesnya.
Informasi berseliweran tanpa henti, tiap menit dan detiknya selalu muncul hal-hal baru, hiburan dicari dan tak pernah membosankan, sementara interaksi semakin meluas. Sayangnya, semua dampak positif ini tak luput dari dampak negatif yang turun bersamanya. Termasuk di dalamnya yang mengerikan adalah cyber bullying.
Cyber Bullying, Cara Baru Menjelekkan Orang
Cyber bullying bukan makanan baru, ia sudah muncul bahkan sebelum media sosial telah mencapai kecanggihan yang menakjubkan. Namun, jari-jari manusia yang dikawal nafsu menjadikannya lahan untuk menginjak-injak orang yang dibenci, menghina, bahkan memfitnah.
Cyber bullying adalah cara lain seseorang ketika dia hendak menyerang orang yang dibencinya. Takut tindakannya berakhir fatal secara langsung, para pelaku cyber bullying memilih menggunakan media sosial untuk melawan. Bentuknya ada banyak, bahkan bisa jadi lebih sama berbahayanya dengan bully fisik secara langsung. Di antaranya yaitu flaming atau pesan berisi kata-kata kasar, denigration atau menyebarkan berita yang tidak sesuai kenyataan alias fitnah, dan outing atau menyebarkan rahasia yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
Malangnya, serangan cyber bullying tidak hanya tepat menyudutkan orang menjadi sasarannya, serangan ini juga meluas, artinya bisa dilihat, semua orang siapa pun yang menggunakan media sosial. Mereka yang tidak paham soal penyaringan atau tabayyun akan terbawa, menjadi minyak dalam pembesaran api cyber bullying dan memungkinkan dampak yang didapat korban akan jauh lebih besar.
Cyber bullying mungkin tidak berbahaya secara fisik, tapi jelas ia menyerang mental seseorang dengan telak bahkan sampai mengacaukan akal sehat. Berita-berita bohong, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, fitnah yang menyakitkan, merupakan serangan perusak mental yang damage-nya bukan main. Jadi jangan heran, jika ada seseorang yang bahkan memutuskan mengakhiri hidupnya karena tekanan dunia maya.
Ini baru satu sisi, bagaimana dengan pornografi, cyber crime dan jenis-jenis kejahatan media sosial lainnya?
Islampun Mengomandoi Soal Media Sosial
Hadirnya media sosial sebagai efek perkembangan teknologi tentunya bukan untuk dihindari. Berdasarkan kitab Nizhomul Islam yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, teknologi masuk dalam kategori madaniyyah ‘am yang di mana kita diperbolehkan untuk mengambilnya secara Islam. Sekali lagi, jika ada yang perlu disalahkan bukanlah teknologinya tetapi orang yang menggunakannya. The man behind the gun. Kitalah yang menentukan ke arah mana sosial media digerakkan.
Karena itu, sebagai muslim, yang harus kita perhatikan satu, jangan menghina orang,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) …”_ (Al-Hujurat: 11). Kita tidak suka dihina, karena itu kita pun tak boleh menghina orang.
Baca Juga: Depresi hingga Bunuh Diri
Hadis nabi juga menekankan. “Muslim satu dengan muslim yang lain adalah bersaudara; tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina” (HR. Muslim)
Keluarga menjadi fondasi utama untuk membentuk dan mengarahkan kepribadiannya seseorang untuk senantiasa berlaku baik di mana pun dan apa pun kondisinya. Di dalam rumah, orang tua memegang peranan penting untuk menjaga anak-anaknya dari dampak negatif penggunaan internet atau gadget.
Sedari dini, anak-anak hendaknya diajarkan jika kemudahan internet tidak serta merta menjadikan semuanya lebih bebas, sebagai muslim, kita tetap terikat dengan aturan Allah seperti menjaga mata agar tidak melihat hal yang diharamkan, menjaga telinga agar tetap mendengarkan yang baik-baik, menjaga tangan agar tidak berkomentar atau mem-posting pesan yang dapat menyakiti orang lain, memfitnah apalagi menyebar berita hoaks.
Lalu, negara hadir tidak hanya sebagai penyedia dan pemberi izin teknologi itu berkembang, tetapi juga mengawasi orang-orang untuk tidak berlaku sewenang-wenang betapa pun luwesnya media sosial, dan menetapkan sanksi tegas pada siapa pun yang melanggar. Ini karena, ada hak-hak individu yang terus terikat dan harus dijaga selama hidupnya. Dengan kesadaran menjalankan syariat pun, situs-situs pornografi akan dihentikan, dan tindakan seperti scamming akan ditiadakan.
Media sosial hendaknya digunakan untuk kebaikan, seperti menyebarkan video, gambar, atau audio tentang Islam atau ilmu-ilmu yang memang dibutuhkan.
Wallahu ‘alam. []
Penulis: Dwi Nanda
(Pegiat Literasi)




