Catatan.co – Depresi hingga Bunuh Diri, Gambaran Rapuhnya Generasi. Isu kesehatan mental makin menjadi perhatian publik. Kekhawatiran muncul terutama pada kalangan remaja. Seiring dengan perkembangan teknologi, remaja justru kian rentan mengalami depresi. Tekanan mental yang dialami remaja memunculkan berbagai gangguan, mulai dari kesedihan berlarut dan hilang nafsu makan, hingga gangguan berat seperti ide bunuh diri.
Psikiater Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, dr.Sri Purwatiningsih, membagikan cara mengatasi ide bunuh diri yang kerap muncul pada kalangan remaja. Ia pun mendorong para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi gejala depresi. Misalnya saja, wajah yang selalu tampak sedih, kehilangan minat pada hobi, serta mudah lelah.
Menurut beliau, penanganan sejak dini dapat mencegah kondisi mental remaja memburuk hingga ke tahap yang mengancam nyawa. Untuk itu perlu konsultasi kepada ahli. Selain itu, dukungan penuh keluarga juga menjadi pondasi penting membangun benteng diri menghadapi tekanan.
Ada remaja yang berupaya meredakan emosi dengan cara melukai diri. Ia berupaya meredam perasaan sedih, marah, dan cemas yang terpendam. Perilaku ini seolah menjadi jalan keluar bagi remaja yang mengalami gangguan emosi, tak dapat mengekspresikan emosi karena kesalahan pola asuh yang dialami sejak kecil. Berawal dari kerap melukai diri bisa muncul ide selanjutnya yang lebih berbahaya, yaitu bunuh diri.
(https://kaltim.antaranews.com/berita/247108/psikiater-bagikan-cara-atasi-ide-bunuh-diri-pada-remaja)
Penyebab
Ada beberapa faktor yang memungkinkan remaja melakukan bunuh diri, yaitu gangguan mental, konflik keluarga, beban akademik, pelecehan atau kekerasan, kegagalan hubungan asmara, masalah keuangan, penggunaan narkoba, perundungan, dan pengaruh media sosial. Remaja yang bergumul dengan masalah-masalah ini merasa dunianya hancur, tak ada harapan. Hingga akhirnya memilih jalan pintas bunuh diri.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tahun 2023 setidaknya lebih dari 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, yang tertinggi adalah pada usia muda. Didukung data Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan – BRIN, bahwa dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahun 2012 sampai 2023, ada 985 kasus yang terjadi pada remaja atau sekitar 46,63% dari keseluruhan jumlah kasus.
(https://www.brin.go.id/news/116807/brin-bahas-kondisi-kesehatan-jiwa-remaja-indonesia-dari-aspek-psikososial)
Korban Sistem Sekularisme
Fenomena bunuh diri di kalangan remaja menunjukkan gagalnya sistem pendidikan dalam mencetak generasi yang bermental tangguh dan bertakwa. Di usia muda yang penuh tantangan, generasi ini rapuh, tak mampu menahan beratnya ujian kehidupan. Di tengah kecanggihan teknologi yang membawa banyak kemudahan, ternyata mental mereka dipertaruhkan.
Masalah bunuh diri remaja bukan hanya kesalahan personal. Remaja-remaja ini justru korban sekularisme dan kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Sekularisme telah berhasil menjauhkan generasi muda dari nilai agama. Anak muda yang memegang teguh nilai agama dicap kolot, jadul, dan fanatik. Pergaulan bebas menjadi gaya hidup baru yang dielu-elukan.
Kapitalisme tak kalah ganasnya. Tuntutan biaya hidup makin tinggi. Banyak orang tua pontang-panting bekerja demi menghidupi keluarganya. Akibatnya, perhatian pada anak makin berkurang.
Orang tua fokus mencari kerja, memasrahkan pendidikan anak pada lembaga pendidikan. Anak yang kurang perhatian biasanya akan mencari perhatian dari luar. Hubungan asmara semacam ini rentan menimbulkan stres dan mengganggu konsentrasi belajar. Akibatnya, nilai anak anjlok, ortu marah dan makin menuntut anak mendapat nilai tinggi, tanpa peduli masalahnya. Belum lagi jika kondisi keluarga tidak harmonis. Makin banyak faktor yang bisa memicu anak mengalami depresi.
Lulusan-lulusan muda, sarjana-sarjana bahkan lulusan sekolah menengah dituntut bekerja, ikut berperan memutar roda perekonomian negara. Padahal, mencari kerja bukan hal mudah. Apalagi jika tak dibarengi skill mumpuni. Tuntutan seperti ini dapat memicu depresi jika tak ada benteng keimanan dalam diri.
Media sosial juga memegang peranan penting dalam pembentukan mental generasi muda. Dewasa ini, konten kekerasan dan perundungan kian marak beredar. Tanpa kita sadari, konten semacam ini menginspirasi pelaku-pelaku kejahatan merelisasikan niat buruknya.
Perundungan misalnya, terjadi di berbagai jenjang pendidikan. Mulai sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Tak jarang pelaku mendokumentasikan perbuatannya tanpa takut. Bersenang-senang di atas penderitaan korban, merusak mental korban bertahun-tahun sebab tak mudah untuk pulih dari luka psikologis macam ini.
Negara Gagal
Negara telah gagal mengurus rakyat, gagal menjaga kesehatan mental generasi muda. Jangankan menuju Indonesia emas, realitanya Indonesia cemas. Jangankan berprestasi, generasi terbalut ancaman depresi.
Baca Juga: Potensi Gen Z
Namun, yang patut kita syukuri, makin banyak pihak-pihak yang nyaring menyuarakan isu kesehatan mental. Publik makin sadar akan bahaya gangguan mental. Hanya saja, kompleksnya masalah gangguan mental remaja membutuhkan solusi yang lebih jitu. Lantas, bagaimana caranya?
Pandangan Islam
Bunuh diri dalam Islam jelas merupakan dosa besar yang diharamkan. Allah Swt. juga melarang sikap putus asa sebagaimana firman-Nya dalam hurat Yusuf ayat 87, “Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sungguh tidaklah berputus asa dari kasih sayang Allah kecuali kaum kafir.”
Jika berputus asa dilarang, apalagi sampai bunuh diri. Keharamannya seiring dengan kerasnya ancaman siksa bagi seorang pelaku bunuh diri. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi maka besinya itu akan berada di tangannya, menusuk perutnya di neraka jahanam, kekal di dalamnya selama-lamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun, Islam adalah agama yang adil. Disamping larangan keras bunuh diri, agama yang sempurna ini sudah memiliki konsep utuh mencegah munculnya bunuh diri. Dalam Islam, perbaikan dimulai dari tananan keluarga, masyarakat, hingga negara. Ketiganya harus saling bersinergi menciptakan ruang aman bagi fisik dan mental generasi.
Pertama, tatanan keluarga. Islam menetapkan orang tua wajib memberikan pendidikan akidah sejak dini. Orang tua sejatinya adalah benteng pertama pelindung anak dari depresi dan bunuh diri. Oleh sebab itu, orang tua bertanggung jawab menjaga kesehatan fisik dan mental anak. Menjadi garda terdepan dan memastikan anak aman dari segala macam gangguan yang berpotensi melemahkan fisik dan mentalnya.
Penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi baik dan efektif dengan anak. Orang tua juga harus tegas membatasi dan mengawasi media sosial anak. Didikan tegas dan ideal di rumah, bisa hancur berantakan oleh media sosial. Untuk itu, penting bagi orangtua membuat aturan dan kesepakatan mengenai penggunaan gawai.
Selain itu, anak harus dididik sesuai fitrah dan bakat alamiahnya. Anak tak bisa dipaksa untuk menekuni sesuatu yang tak ia minati. Orang tua harus bijak, mengenali potensi anak sejak dini dan mengarahkannya maju dan berkembang, selagi tak keluar dari batasan syariat. Kelak, apa pun profesinya, anak tetap menjadi pribadi saleh yang bertakwa.
Terakhir, orang tua hendaknya menanamkan rasa tawakal pada diri anak. Tak selalu “hasil tak akan mengkhianati usaha”, sebab manusia hanya mampu memaksimalkan ikhtiar, adapun hasil adalah ranah Allah Sang Maha Kuasa. Manusia harus mampu bersyukur atas segala nikmat dan bersabar atas ujian hidupnya. Dengan ini, konsep rukun iman tertanam kuat dalam diri anak sehingga ia tak mudah berputus asa menjalani lika-liku kehidupan.
Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Anak harus ditanamkan keyakinan kuat bahwa sebesar apa pun ujian hidup, Allah sebaik-baik penolong dan setiap masalah pasti ada solusinya. Tidak ada seorang pun yang berjalan di muka bumi tanpa ujian. Allah pun tidak akan membebani manusia di luar batas kesanggupannya.
Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 286,
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya.”
Kedua, tatanan masyarakat. Islam memerintahkan umatnya untuk beramar makruf nahi munkar. Artinya, seorang muslim hendaknya tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan sekitarnya, bukan menjadi manusia individualis. Depresi dan niatan bunuh diri sering kali muncul karena tak ada perhatian dan uluran tangan dari orang-orang terdekat. Untuk itu, masyarakat harus turut berperan menciptakan suasana kondusif yang sehat bagi mental generasi. Bukan malah menghujat dan menjatuhkan.
Ketiga, tatanan negara. Sebagai institusi tertinggi, negara wajib menanamkan akidah yang kokoh pada remaja melalui pendidikan Islam dan penegakan hukum syariat. Sistem pendidikan disusun berbasis akidah Islam agar tumbuh sosok-sosok berkepribadian Islam yang tangguh dan siap mengemban amanah sebagai agent of change. Generasi yang tangguh dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
Demi mendukung terwujudnya ruang hidup yang aman bagi mental, negara tidak boleh lalai mengawasi dan mengatur konten media massa serta media sosial. Konten-konten berbahaya yang tidak mendidik harus diblokir. Demikian pula pasar online perlu diatur agar tak menjerumuskan generasi menuju perilaku konsumtif dan gaya hidup hedonis. Tampak sepele, tapi fatal dan menciptakan kesenjangan sosial yang dapat memicu depresi.
Sama halnya di sektor perekonomian, negara harus benar-benar memastikan distribusi kekayaan terjadi secara merata ke seluruh rakyat tanpa terkecuali. Lapangan kerja harus tersedia cukup untuk para pemuda agar dapat bekerja mendedikasikan diri. Kebutuhan pokok rakyat berupa sandang, pangan, dan papan harus dijamin. Demikian pula pendidikan, kesehatan, dan keamanan rakyat, harus benar-benar dipenuhi. Kehidupan sejahtera tentu akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental rakyat dan generasinya.
Seperti itulah gambaran solusi menyeluruh yang ditawarkan oleh Islam. Untuk itu, penting merangkul generasi muda dan mengajaknya kembali pada aturan Islam. Meneladani kisah-kisah para sahabat yang membersamai Rasulullah di fase-fase sulit, perjuangan para remaja Palestina yang tegar menghadapi ujian berat tak berkesudahan, dan para tokoh pemuda muslim di masa kegemilangan Islam.
Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd
Pendidik & Aktivis Muslimah




