Tragedi RSUD Rasidin: Bukti Kegagalan Sistemis

Tragedi RSUD Rasidin: Bukti Kegagalan Sistemis

Catatan.coTragedi RSUD Rasidin: Bukti Kegagalan Sistemis. Seorang pasien bernama Desi Erianti meninggal dunia setelah ditolak RSUD gegara dianggap tidak darurat. Desi meninggal dunia setelah sempat ditolak oleh Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Rasidin Padang, meskipun diketahui memiliki Kartu Indonesia Sehat. Ia wafat di IGD RS Siti Rahmah Padang pada Sabtu (31/5) pukul 12.31 WIB.

Awalnya, pasien mengalami sesak napas dan dilarikan ke RSUD dr. Rasidin pada Jumat malam (30/5). Berdasarkan keterangan dari sepupu korban, Suyudi, pihak RS menyatakan kondisi Desi tidak memenuhi unsur gawat darurat. Dokter menyampaikan bahwa kondisi pasien hanya sesak napas, tensi normal, dan tidak termasuk kategori darurat. Jika mau dirawat, dialihkan ke pasien umum. Karena keterbatasan biaya, akhirnya pihak keluarga memilih membawa pulang Desi menggunakan ojek pada malam itu, walaupun korban memiliki KIS. (https://medan.tribunnews.com/2025/06/01/nasib-desi-erianti-meninggal-setelah-ditolak-rs-dianggap-biasa-tak-dirawat-gegara-tak-pasien-umum)

Ketua Komisi II DPRD Kota Padang, Rachmad Wijaya juga menyampaikan kekecewaannya terkait kinerja RSUD Kota Padang setelah mencuatnya kasus penolakan pasien yang berujung pada kematian. Ia menilai kejadian ini mencerminkan buruknya sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah tersebut. (https://padek.jawapos.com/padang/2366093230/soal-kasus-pasien-rsud-rasidin-ketua-komisi-ii-dprd-padang-rachmad-wijaya-sebut-program-bpjs-gratis-belum-terlaksana)

Apa yang Salah?

Sejatinya, tragedi RSUD ini bukan sekadar kesalahan petugas. Akan tetapi, ini bukti kegagalan sistemis Sistem pelayanan rusak, pengawasan lemah, dan pemerintah yang lalai. Kenapa hal ini terus berulang?

Ini semua terjadi karena kita hidup dalam sistem kapitalisme sekuler, yakni sistem yang menjadikan kesehatan sebagai bisnis, bukan hak rakyat. BPJS dipungut, tetapi pelayanan sulit diakses. Ditambah lagi, sistemnya amburadul sehingga rakyat kecil yang menjadi korban. Ya, korban dari sistem kapitalisme ini.

Kapitalisme dengan asas sekulernya telah memisahkan agama dalam mengatur kehidupan, termasuk kesehatan pun akhirnya dipisahkan pengaturannya dari agama. Sehingga segala kebijakan yang ditetapkan sering kali menuruti kemauan dan kepentingan manusia. Walhasil tragedi pun tak terhindarkan. Sistem ini juga menjadikan materi atau keuntungan sebagai sesuatu yang dituju, tanpa lagi berstandar pada hukum syarak.

Negara dalam sistem kapitalisme sekuler pun tidak berfungsi sebagai penjamin kebutuhan rakyat. Negara hanya berperan sebagai perantara bagi penyedia kesehatan untuk dijual kepada rakyatnya. Bisa kita sebut sebagai kesehatan yang dikomersialisasi.

Islam Punya Solusi Atasi Tragedi

Dalam sistem Islam, kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara. Artinya, kesehatan wajib disediakan oleh negara secara gratis, manusiawi, dan merata hingga ke pelosok. Bukan sekadar menyelamatkan nyawa, tetapi memuliakan manusia dan kehidupan.

Layanan kesehatan di dalam sistem Islam akan menjadi perhatian bagi pemimpin. Karena pemimpin di dalam sistem Islam memahami betul akan tanggung jawabnya dalam mengurus dan menyejahterakan rakyatnya. Hal ini sebagaimana hadis dari Rasulullah ﷺ.

Imam atau pemimpin (khalifah) adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dalam sistem Islam, kesehatan bersifat universal (umum). Artinya, tidak akan ada pembedaan dalam pemberian layanan kesehatan pada setiap rakyatnya. Islam menempatkan pelayanan kesehatan sebagai hak bagi setiap rakyat serta akan dijamin pemenuhannya.

Rakyat tidak akan dipungut biaya untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Seluruh masyarakat juga akan sangat dimudahkan dalam mengakses kesehatan dan tempat pengobatan. Sistem Islam tidak memandang bisnis dan keuntungan (profit) dalam layanan kesehatan seperti halnya berlaku di sistem kapitalisme sekuler hari ini.

Sumber pembiayaan kesehatan ini diperoleh dari sumber-sumber pemasukan negara. Di antaranya adalah dari pengelolaan harta milik umum, termasuk di dalamnya yaitu minyak bumi, gas bumi, tambang, dan hutan. Selain itu, bisa berasal dari ganimah, kharaj, jizyah, fai, pengeloaan harta milik negara, dan lain sebagainya. Sehingga negara dalam sistem Islam akan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang gratis, berkualitas, dan menyeluruh bagi seluruh rakyatnya.

Semua mekanisme dan gambaran layanan kesehatan yang berkualitas ini, sejatinya hanya akan terwujud di dalam sistem Islam saja. Yakni, sistem yang di dalamnya diterapkan aturan Allah secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Untuk mewujudkan hadirnya sistem ini, maka dibutuhkan perjuangan dakwah melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Lalu pertanyaannya, mau sampai kapan kita diam? Sampai kapan nyawa rakyat dikorbankan demi sistem yang gagal ini? Tentu, kini saatnya kita bersatu, bergerak bersama umat untuk kembali mewujudkan perisai yang akan melindungi umat dari segala kesengsaraan dan kenestapaan.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis: Asih Lestiani (Aktivis Muslimah)